Oleh: Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa Sastra Budaya Seni dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da’i Kamtibmas Polda Kepri
Dalam perjalanan hidup manusia, pujian kerap hadir sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia terasa seperti penghargaan atas usaha, pengakuan atas capaian, bahkan menjadi penyemangat untuk terus melangkah. Namun di balik keindahannya, pujian menyimpan sisi lain yang sering tidak disadari: ia adalah ujian tersembunyi yang dapat mengubah arah hati secara perlahan.
Pujian yang diterima tanpa kehati-hatian berpotensi menumbuhkan rasa bangga diri yang semu. Pada awalnya, ia hanya berupa rasa puas yang wajar. Namun jika tidak dikendalikan, perasaan itu dapat berkembang menjadi keangkuhan yang halus, sulit terdeteksi, tetapi berdampak besar. Manusia mulai merasa bahwa keberhasilan adalah hasil mutlak dari dirinya sendiri, melupakan peran Tuhan yang sesungguhnya menjadi sumber segala kemudahan.
Di titik inilah keikhlasan mulai tergerus. Amal yang sebelumnya dilakukan dengan niat tulus karena Allah, perlahan berubah arah menjadi sarana untuk mendapatkan pengakuan dari manusia. Tanpa disadari, orientasi ibadah bergeser dari vertikal kepada horizontal. Apa yang seharusnya menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah justru berubah menjadi jebakan yang menjerat jiwa dalam ilusi kemuliaan duniawi.
Fenomena ini sangat relevan dalam kehidupan modern, terutama di era keterbukaan informasi dan media sosial. Pujian kini tidak lagi terbatas pada ruang-ruang fisik, tetapi hadir dalam bentuk komentar, apresiasi digital, dan pengakuan publik yang luas. Setiap kebaikan yang dilakukan berpotensi menjadi konsumsi publik, dan setiap apresiasi yang diterima bisa menjadi bahan bakar bagi ego jika tidak disikapi dengan bijak.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran spiritual yang kuat untuk menempatkan pujian pada posisi yang semestinya. Pujian bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar konsekuensi dari perbuatan baik. Ia tidak boleh menjadi alasan untuk berbangga diri, apalagi dijadikan ukuran utama keberhasilan. Sebaliknya, pujian seharusnya menjadi pengingat bahwa ada amanah yang harus dijaga, ada kualitas diri yang harus dipertahankan, dan ada tanggung jawab moral yang semakin besar.
Kerendahan hati menjadi kunci dalam menghadapi pujian. Seseorang yang memiliki kesadaran ini akan memandang setiap pujian sebagai bentuk ujian, bukan penghargaan mutlak. Ia akan mengembalikan segala kebaikan kepada Allah, menyadari bahwa dirinya hanyalah perantara dari kehendak-Nya. Dengan cara ini, hati tetap terjaga dari kesombongan, dan amal tetap berada dalam koridor keikhlasan.
Lebih dari itu, sikap bijak terhadap pujian juga mencerminkan kedewasaan spiritual. Ia menunjukkan bahwa seseorang tidak mudah terombang-ambing oleh penilaian manusia, baik itu pujian maupun celaan. Fokus utama tetap pada kualitas amal dan niat yang melandasinya, bukan pada respons yang diberikan oleh lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, kehidupan ini bukan tentang seberapa banyak pujian yang kita terima, tetapi seberapa tulus kita menjalani setiap peran yang diamanahkan. Pujian hanyalah bagian kecil dari perjalanan, sementara tujuan utamanya adalah mencapai ridha Allah. Ketika kesadaran ini tertanam kuat, maka setiap pujian akan berubah menjadi sarana introspeksi, bukan sumber kesombongan.
Dengan demikian, menjaga hati di tengah pujian adalah bentuk perjuangan yang tidak kalah penting dari amal itu sendiri. Ia menuntut kepekaan, kejujuran, dan keteguhan iman. Sebab hanya dengan hati yang bersih dan niat yang lurus, setiap amal akan tetap bernilai di sisi Allah, tanpa tergerus oleh godaan sanjungan yang menipu.
Tim











