banner 728x250
Daerah  

MENEGUHKAN ARAH PEMUDA : Antara Rekonsiliasi KNPI dan Masa Depan Nasionalisme Indonesia*

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Abdul Rahman Sapppara
(Panglima Tinggi LAPMAS)

Momentum Halal Bi Halal yang diselenggarakan oleh Koorp Alumni Komite Nasional Pemuda Indonesia di Jakarta Selatan bukan sekadar pertemuan seremonial pasca-Idulfitri. Lebih dari itu, kegiatan tersebut mencerminkan kebutuhan mendesak akan refleksi kolektif di kalangan pemuda Indonesia, khususnya dalam merespons dinamika organisasi kepemudaan yang tengah menghadapi tantangan fragmentasi dan kehilangan arah strategis.

banner 325x300

Dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban, para tokoh pemuda lintas generasi berkumpul, bukan hanya untuk mempererat silaturahmi, tetapi juga untuk mengurai persoalan mendasar yang telah lama membayangi KNPI. Dualisme bahkan multiversi kepengurusan yang terjadi selama ini bukan sekadar konflik struktural, melainkan gejala dari melemahnya konsolidasi nilai dan visi kebangsaan di tubuh organisasi tersebut. Ketika organisasi yang seharusnya menjadi rumah besar pemuda justru terpecah, maka yang terancam bukan hanya eksistensinya, tetapi juga masa depan peran pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gagasan penyatuan KNPI yang mengemuka dalam forum tersebut sesungguhnya bukan hal baru. Namun, yang menjadi penting adalah bagaimana gagasan itu diartikulasikan dalam langkah konkret yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Negara, melalui kementerian terkait, memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk memfasilitasi proses rekonsiliasi ini. Tanpa kehadiran negara sebagai mediator yang adil dan tegas, upaya penyatuan dikhawatirkan akan kembali terjebak dalam tarik-menarik kepentingan yang tidak produktif.

Di sisi lain, refleksi yang muncul dalam forum tersebut juga menyentuh dimensi yang lebih luas, yakni kritik terhadap arah kebijakan nasional. Dalam konteks ini, penyebutan nama Prabowo Subianto menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang wajar. Kritik yang disampaikan bukanlah bentuk penolakan, melainkan ekspresi kepedulian terhadap kualitas kepemimpinan nasional. Pemuda, sebagai agen perubahan, memiliki tanggung jawab untuk tetap kritis, namun juga konstruktif dalam menyampaikan aspirasi.

Namun demikian, persoalan utama yang harus menjadi fokus bersama adalah bagaimana mengembalikan KNPI pada khitahnya sebagai wadah pemersatu pemuda Indonesia. KNPI bukan sekadar organisasi, melainkan simbol dari semangat kebangsaan yang hidup di tengah keberagaman. Ia adalah miniatur Indonesia, tempat berbagai latar belakang, ide, dan kepentingan bertemu dalam satu tujuan besar: membangun bangsa.

Dalam perspektif yang lebih mendalam, penguatan KNPI tidak dapat dilepaskan dari penguatan ideologi bangsa. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bukan sekadar dokumen normatif, tetapi fondasi yang harus terus dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan pemuda. Tanpa internalisasi nilai-nilai tersebut, nasionalisme akan kehilangan maknanya, berubah menjadi slogan kosong yang tidak memiliki daya transformasi.

Nasionalisme yang dibutuhkan saat ini bukanlah nasionalisme yang sempit atau eksklusif, melainkan nasionalisme yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kemajuan. Pemuda harus mampu menjadikan nasionalisme sebagai energi untuk berkontribusi secara nyata, baik dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, maupun budaya. Dalam konteks ini, KNPI memiliki peran strategis sebagai katalisator yang menggerakkan potensi tersebut.

Halal Bi Halal ini pada akhirnya menjadi cermin bahwa pemuda Indonesia masih memiliki kesadaran kolektif untuk memperbaiki diri. Harapan akan penyatuan KNPI bukan sekadar wacana, tetapi tuntutan zaman yang tidak dapat ditunda. Jika pemuda mampu bersatu, maka bangsa ini memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan global.

Sebaliknya, jika fragmentasi terus dibiarkan, maka yang terjadi adalah pelemahan peran pemuda dalam menentukan arah perjalanan bangsa. Oleh karena itu, rekonsiliasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. KNPI harus kembali menjadi rumah bersama, tempat pemuda Indonesia membangun mimpi, merumuskan gagasan, dan mewujudkan cita-cita kebangsaan.

Dengan pemuda yang bersatu, berideologi kuat, dan memiliki arah yang jelas, Indonesia tidak hanya akan mampu bertahan, tetapi juga melangkah maju sebagai bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur. Inilah esensi dari nasionalisme yang sesungguhnya nasionalisme yang hidup, bergerak, dan memberi makna bagi masa depan bangsa.

Tim

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *