banner 728x250
Batam  

Negeri Kita Tercinta Sedang Menangis

banner 120x600
banner 468x60

 

 

banner 325x300

Oleh Dr. NursalimTinggi, S. Pd.,M.Pd

Ketua Afiliasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da,i Kamtibmas Indonesia | Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Provinsi Kepulauan Riau | Ketua Fahmi Tamami Kota Batam | Ketua Pendiri Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia

 

Negeri kita tercinta sedang menangis. Tangis itu mungkin tidak terdengar di ruang-ruang mewah kekuasaan, tetapi sangat terasa di hati rakyat kecil yang setiap hari menyaksikan harapan perlahan memudar. Bangsa ini bukan sedang kekurangan orang pintar, bukan pula kekurangan aturan dan pidato tentang moralitas. Yang sedang hilang adalah kejujuran, rasa malu, dan keberanian menjaga amanah rakyat.

Hari ini masyarakat semakin sulit menemukan keteladanan. Banyak yang berbicara tentang pengabdian, tetapi sibuk memperjuangkan kepentingan pribadi dan kelompok. Banyak yang mengatasnamakan rakyat, tetapi lupa mendengar jeritan rakyat. Bahkan sebagian lembaga yang dahulu dipercaya sebagai benteng perjuangan kini dipandang telah kehilangan ruh pengabdiannya.

Negeri kita tercinta sedang menangis karena kekuasaan sering kali lebih dipertahankan daripada keadilan. Rakyat melihat bagaimana hukum terkadang terasa tajam kepada mereka yang lemah, namun menjadi lunak kepada mereka yang memiliki jabatan dan pengaruh. Kepercayaan masyarakat perlahan terkikis karena terlalu banyak sandiwara moral dipertontonkan di depan publik.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian institusi yang seharusnya menjadi pelaksana amanah negara justru dipersepsikan ikut bermain dalam pusaran kepentingan. Ketika jabatan digunakan untuk memperkuat posisi, memperbesar pengaruh, dan menjaga lingkaran kekuasaan, maka negara sesungguhnya sedang dilukai dari dalam oleh anak bangsanya sendiri.

Negeri kita tercinta sedang menangis karena sebagian elit tidak lagi memberi contoh yang baik kepada generasi muda. Anak-anak hari ini tumbuh dengan tontonan kebohongan yang dibungkus pencitraan. Mereka melihat bagaimana kedekatan lebih dihargai daripada kemampuan, bagaimana kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan bangsa, dan bagaimana orang yang pandai berbicara tentang moral belum tentu mampu menjaga perilakunya sendiri.

Sekolah-sekolah agama yang dahulu menjadi benteng akhlak juga sedang menghadapi ujian besar. Sebagian lebih sibuk membangun nama lembaga daripada membangun ketulusan pendidikan. Ada yang rela mendekati kekuasaan demi kepentingan tertentu, padahal pendidikan agama seharusnya melahirkan keberanian moral, bukan budaya menjilat demi keuntungan.

Di sisi lain, para pejabat banyak yang lupa bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk mencari kehormatan pribadi. Pembangunan sering dibicarakan dengan bahasa yang indah, tetapi rakyat kecil masih merasakan kesulitan hidup yang sama dari waktu ke waktu. Ketika rakyat hanya dijadikan objek pencitraan politik, maka pembangunan kehilangan makna kemanusiaannya.

Tim

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *