banner 728x250

Menjelang 25 Tahun Hari Marwah Kepri 2027, GMBP3KR Susun Buku Sejarah Perjuangan: Pengamat Nilai Momentum Penting Menjaga Identitas dan Arah Masa Depan Daerah

banner 120x600
banner 468x60

sidikfokusnews.com. Tanjungpinang — Menjelang peringatan 25 tahun Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau pada 2027 mendatang, Generasi Muda Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (GMBP3KR) mulai mengambil langkah strategis melalui penyusunan buku sejarah perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Inisiatif tersebut dinilai bukan sekadar proyek dokumentasi, melainkan bagian penting dari upaya merawat memori kolektif, identitas daerah, dan arah pembangunan generasi masa depan.

Ketua GMBP3KR, Basyarudin Idris, mengatakan penyusunan buku dimulai pada tahun 2026 dengan pembiayaan mandiri. Buku itu nantinya akan dibagikan ke sekolah-sekolah, perpustakaan, hingga perguruan tinggi di Kepulauan Riau menjelang peringatan 25 tahun Hari Marwah Kepri.

banner 325x300

Menurutnya, selama ini masih banyak pelajar dan mahasiswa yang belum memahami proses panjang perjuangan pembentukan Provinsi Kepri karena minimnya dokumentasi sejarah yang tersusun secara utuh.

“Kita mulai tahun 2026 ini dengan biaya mandiri menyusun buku sejarah perjuangan Kepri,” ujar Basyarudin, Rabu (13/5/2026).

Ia menjelaskan, proses penyusunan buku akan melibatkan mantan aktivis mahasiswa serta tokoh-tokoh pejuang pembentukan Kepri dari berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta, Semarang, Pekanbaru, Medan, hingga Padang. Keterlibatan lintas daerah itu dinilai penting karena perjuangan pembentukan Kepri pada masa lalu memang banyak bertumpu pada gerakan intelektual mahasiswa dan diaspora masyarakat Kepri di berbagai kota besar Indonesia.

“Penyusunan buku tersebut nantinya akan melibatkan mantan aktivis mahasiswa dan para pejuang pembentukan Kepri,” katanya.

Basyarudin menegaskan, perjuangan generasi saat ini bukan lagi soal pemekaran wilayah, melainkan bagaimana mengisi keberadaan Provinsi Kepri dengan pembangunan sumber daya manusia, penguatan ekonomi daerah, serta menjaga marwah budaya Melayu dan identitas kepulauan.

“Sekarang Provinsi Kepulauan Riau sudah terbentuk, tinggal bagaimana generasi muda mengisinya dengan pembangunan,” tuturnya.

Pengamat: Sejarah Kepri Jangan Hilang Ditelan Generasi Digital

Sejumlah pengamat menilai langkah GMBP3KR memiliki arti strategis di tengah perubahan sosial generasi muda yang semakin jauh dari sejarah lokal daerahnya sendiri.

Pengamat sosial dan kebijakan publik Kepulauan Riau, Rudi Hartono, mengatakan keberadaan buku sejarah perjuangan Kepri sangat penting untuk mencegah hilangnya memori kolektif masyarakat tentang proses lahirnya provinsi tersebut.

Menurutnya, generasi muda hari ini menikmati hasil pemekaran tanpa memahami pengorbanan panjang para tokoh, mahasiswa, dan masyarakat yang memperjuangkannya selama bertahun-tahun.

“Banyak generasi sekarang hanya mengenal Kepri sebagai provinsi yang sudah jadi. Padahal, ada fase perjuangan panjang, tekanan politik, gerakan mahasiswa, hingga konsolidasi sosial yang melibatkan banyak tokoh daerah,” ujarnya.

Ia menilai, jika sejarah perjuangan tidak segera didokumentasikan secara serius, maka dalam beberapa dekade mendatang akan terjadi “kekosongan memori sejarah” di kalangan generasi muda Kepri.

Akademisi Nilai Buku Sejarah Bisa Jadi Referensi Pendidikan Lokal

Sementara itu, akademisi dan pengamat pendidikan Melayu, Dr. Ahmad Faisal, menilai penyusunan buku sejarah perjuangan Kepri dapat menjadi fondasi penting bagi penguatan muatan lokal pendidikan di sekolah.

Menurutnya, selama ini materi sejarah lokal Kepri masih sangat terbatas dan belum terintegrasi secara baik dalam sistem pendidikan daerah.

“Anak-anak Kepri harus mengenal sejarah daerahnya sendiri. Mereka perlu tahu siapa tokoh-tokoh perjuangan, bagaimana dinamika politik pembentukan provinsi, dan apa cita-cita besar para pendahulu ketika memperjuangkan Kepri,” katanya.

Ia menambahkan, sejarah daerah bukan sekadar nostalgia masa lalu, tetapi alat membangun karakter, identitas, dan rasa memiliki terhadap daerah sendiri.

Momentum Refleksi 25 Tahun Kepri

Para pengamat juga menilai momentum 25 tahun Hari Marwah Kepri pada 2027 seharusnya tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi terhadap capaian dan tantangan pembangunan daerah kepulauan.

Di tengah posisi strategis Kepri sebagai wilayah perbatasan dan kawasan ekonomi internasional yang berdekatan dengan Singapore dan Malaysia, generasi muda dinilai memiliki tanggung jawab besar menjaga identitas daerah sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia.

Pengamat ekonomi kawasan perbatasan, M. Yusuf Rahman, mengatakan tantangan Kepri ke depan bukan lagi soal pemekaran administratif, tetapi bagaimana memastikan kekayaan geografis dan posisi strategis daerah benar-benar memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

“Semangat perjuangan pembentukan Kepri harus diterjemahkan dalam bentuk pembangunan ekonomi, pendidikan, dan penguatan kualitas generasi muda. Itu esensi perjuangan hari ini,” ujarnya.

Ia menilai, dokumentasi sejarah perjuangan Kepri juga dapat menjadi sumber inspirasi moral bahwa perubahan besar dalam daerah lahir dari konsolidasi gagasan, keberanian intelektual, dan semangat kolektif masyarakat.

Menjelang seperempat abad Hari Marwah Kepri, langkah penyusunan buku sejarah perjuangan tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa lahirnya Provinsi Kepulauan Riau bukanlah proses instan, melainkan buah dari perjuangan panjang yang melibatkan banyak tokoh, mahasiswa, dan masyarakat lintas generasi.

arf-6

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *