sidikfokusnews.com. Tanjungpinang — Di tengah arus pembangunan yang kian deras dan orientasi masa depan yang semakin pragmatis, sebuah ikhtiar sunyi namun sarat makna tengah dikerjakan. Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR) sejak April 2026 menginisiasi penulisan ulang sejarah perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau sebuah proyek intelektual sekaligus moral yang ditargetkan terbit pada peringatan 25 tahun Hari Marwah Kepulauan Riau tahun 2027.
Lebih dari sekadar dokumentasi, buku ini diproyeksikan sebagai rekonstruksi narasi besar menghidupkan kembali ingatan kolektif yang selama ini tercecer, tereduksi, bahkan nyaris dilupakan.
Di bawah koordinasi tim yang dipimpin akademisi senior Prof Abdul, para penulis bergerak lintas geografis: dari Batam, Karimun, Tanjungpinang, Bintan, Lingga, hingga Natuna dan Anambas. Mereka tidak sekadar mencatat, tetapi menggali menemui pelaku sejarah, saksi mata, hingga tokoh-tokoh yang selama ini berada di balik layar.
Pendekatan investigatif menjadi landasan utama. Narasi diuji ulang, versi sejarah dibandingkan, dan dinamika sosial-politik ditelusuri secara kritis. Upaya ini menjadi penting, mengingat selama ini sejarah pembentukan Kepri lebih banyak ditulis dalam kerangka administratif, bukan sebagai gerakan sosial yang kompleks dan penuh pergulatan.
Koordinator proyek, Sudirman Almoen, menegaskan independensi sebagai prinsip utama. “Ini bukan proyek kekuasaan. Ini panggilan moral. Sejarah harus ditulis dengan jujur, tanpa intervensi, tanpa kepentingan sesaat,” ujarnya.
Buku ini akan menempatkan periode 15 Mei 1999 hingga 24 September 2002 sebagai fase krusial masa ketika aspirasi pemekaran mencapai puncaknya dan akhirnya memperoleh legitimasi formal.
Namun, narasi tidak berhenti pada keputusan politik semata. Buku ini menggali lebih dalam: mobilisasi masyarakat, diplomasi informal, tarik-menarik kepentingan pusat-daerah, hingga dimensi kultural yang berakar pada identitas kemelayuan dan kesadaran wilayah perbatasan.
Nama-nama besar yang selama ini dikenal publik akan ditempatkan dalam konteks yang lebih utuh. Termasuk di antaranya peran tokoh muda seperti Basaruddin Idris atau Datok Oom, yang disebut sebagai simpul energi gerakan generasi muda di fase akhir perjuangan.
Dalam lanskap perjuangan itu, tidak sedikit pengorbanan yang luput dari perhatian generasi kini. Salah satu sosok yang kembali disorot adalah Huzrin Hood figur yang tidak hanya berada di garis depan perjuangan, tetapi juga harus menghadapi konsekuensi berat hingga menjalani penahanan.
Penghargaan terhadap perjuangan beliau menjadi bagian penting dalam penulisan buku ini bukan sekadar sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai pengingat bahwa lahirnya Provinsi Kepulauan Riau tidak pernah gratis.
Lebih jauh, buku ini juga menjadi ruang penghormatan bagi para pejuang yang telah mendahului. Doa dan penghargaan mengalir sebagai bentuk kesadaran kolektif bahwa sejarah bukan hanya milik yang hidup, tetapi juga milik mereka yang telah mengorbankan segalanya.
Dalam sebuah momen reflektif, suara Datok Oom yang terbata-bata saat mengenang perjuangan itu justru menghadirkan makna yang dalam sebuah ekspresi emosional yang tidak bisa direkayasa, menjadi bukti bahwa sejarah ini bukan sekadar peristiwa, melainkan luka, harapan, dan kebanggaan yang menyatu.
Sejumlah pengamat menilai proyek ini sebagai langkah strategis yang telah lama dinantikan. Selama ini, narasi sejarah Kepri cenderung terfragmentasi, tidak utuh, dan minim perspektif kritis.
“Ini bukan hanya penulisan sejarah, tapi reposisi identitas,” ujar seorang pengamat sosial-politik di Kepri.
Independensi pembiayaan menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Di satu sisi, ia membuka ruang kejujuran. Di sisi lain, objektivitas tetap harus dijaga, terutama karena kedekatan emosional penulis dengan subjek yang diteliti.
“Hari Marwah” selama ini sering dipahami sebagai seremoni. Namun melalui proyek ini, maknanya dikembalikan ke akar: sebagai refleksi perjuangan kolektif lintas generasi.
Buku ini diharapkan menjadi rujukan otoritatif tidak hanya bagi akademisi, tetapi juga generasi muda yang berisiko tercerabut dari sejarahnya sendiri di tengah arus globalisasi dan modernisasi.
Peluncurannya pada 2027 bukan sekadar agenda simbolik, melainkan momentum konsolidasi narasi: bahwa Kepulauan Riau lahir dari perjuangan panjang, penuh konflik, pengorbanan, dan nilai-nilai luhur.
Sebagaimana ditegaskan salah satu tokoh BP3KR,
“Marwah tidak diwariskan begitu saja. Ia diperjuangkan, ditulis, dan dijaga.”
Dan buku ini pada akhirnya adalah bagian dari upaya menjaga marwah itu, agar tidak hilang ditelan zaman.
arf-6

















