Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau
Ramadan menghitung hari. Ungkapan ini bukan sekadar penanda kalender yang kian menipis, melainkan seruan batin agar manusia menakar dirinya sebelum ditakar oleh waktu. Dalam sebuah nasihat yang dinukil dari Imron bin Qois rahimahullah disebutkan, “Sungguh bahagia seorang hamba yang berupaya berusaha memperbaiki dirinya sebelum tiba Ramadan.” Kalimat ini sederhana, tetapi kedalamannya menyentuh inti kesadaran spiritual manusia.
Ramadan bukan sekadar momentum ritual tahunan. Ia adalah ruang pendidikan jiwa, tempat manusia diuji bukan hanya oleh lapar dan dahaga, tetapi oleh kejujuran, kesabaran, dan ketulusan. Maka persiapan menuju Ramadan sejatinya bukan tentang menyiapkan hidangan berbuka, bukan pula sekadar merancang agenda seremonial, melainkan menata hati, meluruskan niat, serta membersihkan relung batin dari kerak kesombongan dan kelalaian.
Bahagia yang dimaksud dalam nasihat tersebut bukanlah bahagia yang lahir dari gemerlap duniawi, melainkan kebahagiaan eksistensial—ketenangan yang tumbuh karena kesadaran untuk berubah. Seseorang yang memperbaiki diri sebelum Ramadan sesungguhnya telah memahami bahwa ibadah bukan peristiwa musiman, tetapi proses panjang pembentukan karakter. Ia menyadari bahwa Ramadan adalah puncak, sementara bulan-bulan sebelumnya adalah pendakian yang memerlukan kesungguhan.
Dalam perspektif pendidikan karakter, Ramadan adalah laboratorium moral. Puasa melatih disiplin, zakat dan sedekah menumbuhkan empati, sementara tarawih dan tilawah membangun kedekatan intelektual dan spiritual dengan wahyu. Namun semua itu akan terasa hambar apabila tidak diawali dengan kesiapan mental. Ibarat tanah yang hendak ditanami, hati harus digemburkan terlebih dahulu agar benih kebaikan dapat tumbuh subur.
Kita hidup di zaman yang serba cepat, di mana informasi berkelindan tanpa jeda dan distraksi hadir tanpa permisi. Ramadan datang sebagai jeda suci, sebagai ruang hening untuk kembali mengenal diri. Maka memperbaiki diri sebelum Ramadan berarti menata ulang orientasi hidup: dari sekadar mengejar capaian material menuju pencarian makna yang lebih hakiki.
Sebagai masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi nilai adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah, semangat menyambut Ramadan semestinya tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga transformasi. Ia mengajak kita untuk tidak sekadar meramaikan masjid, tetapi juga meramaikan hati dengan dzikir dan refleksi. Ia mendorong kita untuk tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan amarah, menahan lisan dari dusta, serta menahan pikiran dari prasangka.
Ramadan menghitung hari, dan sesungguhnya waktu juga sedang menghitung kita. Setiap detik yang berlalu adalah pengingat bahwa kesempatan memperbaiki diri tidak selamanya terbuka. Maka mereka yang bersiap sebelum Ramadan tiba adalah mereka yang memahami nilai waktu sebagai amanah. Mereka tidak menunggu momentum untuk berubah, tetapi menjemputnya dengan kesadaran.
Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah ketika Ramadan datang dengan kemeriahan, melainkan ketika ia disambut dengan kesiapan jiwa. Sebab Ramadan bukan sekadar bulan dalam penanggalan hijriah, melainkan undangan ilahi untuk kembali menjadi manusia yang lebih utuh, lebih bersih, dan lebih bermakna. Dan sungguh, beruntunglah mereka yang telah lebih dahulu memperbaiki diri sebelum panggilan suci itu benar-benar tiba.
Red









