Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia Provinsi Kepulauan Riau
Perkembangan bahasa jurnalis di era Generasi Z menghadirkan dinamika yang tidak pernah terjadi pada generasi sebelumnya. Dunia digital telah mengubah bukan hanya cara berita disebarkan, tetapi juga cara bahasa dibentuk, dipilih, dan dipahami. Generasi Z hidup dalam ruang komunikasi yang serba cepat, ringkas, visual, dan interaktif. Dalam lanskap seperti ini, bahasa jurnalistik menghadapi tantangan sekaligus peluang besar.
Bahasa jurnalis pada hakikatnya adalah bahasa yang lugas, akurat, dan bertanggung jawab. Ia tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun kepercayaan publik. Namun di era media sosial, bahasa sering kali terdorong menjadi sensasional, provokatif, dan serba instan demi mengejar klik dan algoritma. Di sinilah integritas seorang jurnalis diuji.
Generasi Z tumbuh bersama gawai dan internet. Mereka terbiasa dengan singkatan, meme, emoji, serta gaya komunikasi yang cair. Jika jurnalis tidak mampu memahami pola komunikasi ini, berita akan terasa kaku dan jauh dari pembaca muda. Akan tetapi, jika jurnalis terlalu larut dalam gaya bahasa populer tanpa menjaga kaidah dan etika, maka marwah jurnalistik akan tergerus.
Bahasa jurnalis di era ini dituntut adaptif tanpa kehilangan prinsip. Adaptif berarti mampu menyederhanakan istilah kompleks menjadi bahasa yang mudah dipahami generasi muda. Adaptif berarti memahami ritme digital yang cepat. Namun tetap menjaga akurasi data, ketepatan diksi, dan etika penyampaian.
Dalam konteks ini, peran organisasi profesi seperti Ikatan Wartawan Online Indonesia menjadi penting dalam membimbing anggotanya agar tetap berpegang pada kode etik dan standar profesional. Perubahan zaman tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab moral.
Hubungan antara bahasa dan kekuasaan dalam jurnalistik juga semakin nyata. Di tangan jurnalis, kata-kata bisa membangun opini publik, mempengaruhi kebijakan, bahkan menentukan reputasi seseorang. Karena itu, benar adanya bahwa pena seorang jurnalis lebih tajam dari seribu bayonet. Bayonet melukai fisik, tetapi bahasa dapat melukai martabat, meruntuhkan kepercayaan, atau sebaliknya, mengangkat harkat dan membangun kesadaran kolektif.
Ketajaman itu harus disertai kebijaksanaan. Jurnalis bukan sekadar pemburu kecepatan, tetapi penjaga kebenaran. Di era Generasi Z, ketika hoaks menyebar lebih cepat dari fakta, bahasa jurnalistik harus menjadi benteng klarifikasi. Ketika opini liar beredar tanpa verifikasi, bahasa jurnalis harus menjadi penjernih, bukan pemantik konflik.
Perkembangan bahasa jurnalis juga ditandai oleh munculnya multimedia storytelling. Teks kini berdampingan dengan video pendek, infografis, dan siaran langsung. Namun di balik semua format itu, kekuatan tetap bertumpu pada pilihan kata.Diksi yang tepat menentukan arah pemaknaan. Judul yang cermat menentukan persepsi. Struktur kalimat menentukan kedalaman analisis.
Generasi Z menghargai kejujuran dan autentisitas. Mereka cepat mendeteksi manipulasi dan berani mengkritik. Maka bahasa jurnalistik harus transparan, tidak berlebihan, dan tidak manipulatif.
Kepercayaan adalah modal utama media. Sekali rusak, sulit untuk dipulihkan.
Di Provinsi Kepulauan Riau, sebagai wilayah strategis yang berada di jalur pertemuan budaya dan ekonomi, peran jurnalis semakin krusial. Bahasa yang digunakan harus mampu menjaga harmoni sosial, memperkuat identitas lokal, sekaligus membuka cakrawala global. Bahasa jurnalistik tidak boleh menjadi alat polarisasi, tetapi sarana edukasi.
Akhirnya, perkembangan bahasa jurnalis di era Generasi Z adalah panggilan untuk memperkuat profesionalitas. Teknologi boleh berubah, platform boleh berganti, gaya komunikasi boleh berkembang, tetapi prinsip kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab tetap abadi. Pena yang tajam bukan untuk melukai tanpa arah, melainkan untuk menorehkan kebenaran dengan keberanian dan kebijaksanaan.
Jika bahasa dikelola dengan integritas, maka jurnalisme akan tetap menjadi pilar demokrasi yang kokoh. Dan di tangan jurnalis yang beretika, ketajaman pena akan menjadi cahaya yang menerangi, bukan senjata yang menghancurkan.
Red

















