banner 728x250
Batam  

Merindukan Perkembangan Al-Qur’an di Negeri Segantang Lada

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Dr. H.Abdul Basir Amin,S.Ah., M.Pd. ( Ketua Umum PW Mathlaul Anwar Provinsi Kepukauan Riau

Negeri Segantang Lada bukan sekadar sebutan geografis, melainkan identitas historis yang sarat makna. Lada pernah menjadi komoditas berharga yang membuat dunia mengenal wilayah ini. Dari tanah yang subur dan laut yang terbuka, lahir interaksi budaya, perjumpaan peradaban, dan dinamika sosial yang panjang. Namun di atas seluruh kekayaan itu, terdapat kekayaan yang jauh lebih agung: nilai-nilai Al-Qur’an yang menuntun arah kehidupan masyarakatnya.

banner 325x300

Merindukan perkembangan Al-Qur’an di Negeri Segantang Lada berarti merindukan kebangkitan ruh spiritual yang mendalam. Sebab Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk dilagukan, tetapi untuk dipahami, direnungi, dan diamalkan. Ia adalah pedoman yang membentuk akhlak, menegakkan keadilan, serta memperkuat persaudaraan dalam keberagaman.

Pada masa Nabi Muhammad, Al-Qur’an membangun peradaban melalui pembentukan karakter. Wahyu tidak berhenti di lisan para sahabat, tetapi menjelma dalam kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial. Dari generasi yang ditempa oleh nilai-nilai Qur’ani, lahirlah masyarakat yang kuat secara moral dan matang secara intelektual.

Hari ini, geliat pembelajaran Al-Qur’an di Negeri Segantang Lada patut disyukuri. Rumah tahfiz tumbuh, majelis ilmu berkembang, dan semangat membaca semakin terasa. Namun perkembangan yang dirindukan tidak cukup diukur dari banyaknya hafalan atau merdunya tilawah. Yang lebih utama adalah sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an meresap dalam sistem pendidikan, kebijakan publik, dan kehidupan sehari-hari.

Di tengah arus globalisasi dan derasnya teknologi digital, generasi muda menghadapi tantangan yang tidak ringan. Informasi mengalir tanpa batas, tetapi hikmah sering kali terpinggirkan. Di sinilah Al-Qur’an harus hadir sebagai kompas moral. Pendidikan Qur’ani perlu dikembangkan dengan pendekatan yang kontekstual, dialogis, dan relevan dengan realitas zaman tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Negeri Segantang Lada memiliki warisan budaya yang menjunjung tinggi adab dan kesantunan. Tradisi itu sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Jika keduanya dipadukan secara harmonis, maka akan lahir masyarakat yang bukan hanya maju secara material, tetapi juga kokoh secara spiritual.
Kerinduan ini sejatinya adalah ajakan untuk bergerak bersama. Keluarga menjadi benteng pertama dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Sekolah menjadi ruang pembentukan karakter Qur’ani. Para pemimpin menjadikan prinsip keadilan dan amanah sebagai fondasi kebijakan. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya terdengar dalam lantunan, tetapi terasa dalam tindakan.

Akhirnya, Negeri Sgantang Lada tidak hanya dikenal karena sejarah rempahnya, tetapi karena keluhuran akhlaknya. Ketika Al-Qur’an benar-benar dihidupkan dalam jiwa masyarakat, maka keberkahan akan mengalir dalam seluruh sendi kehidupan. Kerinduan ini semoga menjelma menjadi gerakan nyata, agar wahyu tetap menjadi cahaya yang menerangi perjalanan peradaban dan akhirnya kita semua mendapati Syafaatnya di Yaumil Akhir nanti Amin.

Mursalim turatea

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *