Oleh : Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa Sastra Budaya Seni dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da’i Kamtibmas Polda Kepri
Gagasan bahwa belajar adalah aktivitas seumur hidup bukan sekadar slogan motivasional, melainkan sebuah keniscayaan yang tak dapat ditawar dalam kehidupan manusia modern. Perubahan zaman yang begitu cepat telah menggeser cara pandang kita terhadap ilmu pengetahuan. Apa yang hari ini dianggap mutakhir, esok bisa jadi telah usang. Dalam konteks inilah, belajar tidak lagi bisa dipahami sebagai aktivitas yang berhenti ketika seseorang meninggalkan bangku sekolah atau perguruan tinggi, melainkan sebagai proses panjang yang menyertai seluruh perjalanan hidup manusia.
Konsep lifelong learning sesungguhnya adalah bentuk kesadaran intelektual sekaligus kerendahan hati manusia di hadapan luasnya ilmu pengetahuan. Seseorang yang berhenti belajar pada hakikatnya sedang menutup dirinya dari kemungkinan berkembang. Ia akan tertinggal, bukan hanya dalam hal pengetahuan, tetapi juga dalam cara berpikir dan memahami realitas. Dunia terus bergerak, teknologi berkembang, dan tantangan kehidupan semakin kompleks. Tanpa kesiapan untuk terus belajar, seseorang akan kesulitan untuk beradaptasi, apalagi untuk memberikan kontribusi yang berarti.
Realitas ini tampak jelas dalam dunia kedokteran. Ungkapan bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun setengah ilmu kedokteran akan menjadi usang bukanlah sekadar retorika, melainkan cerminan dari cepatnya perkembangan ilmu dan teknologi di bidang tersebut. Metode pengobatan yang dahulu dianggap satu-satunya solusi kini telah tergantikan oleh pendekatan yang lebih efektif, efisien, dan minim risiko. Perkembangan teknologi seperti metode pemecahan batu ginjal tanpa operasi menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan terus bergerak menuju kemudahan dan keselamatan manusia. Hal ini menjadi bukti bahwa belajar bukan pilihan, tetapi keharusan bagi siapa saja yang ingin tetap relevan dalam bidangnya.
Namun jauh sebelum dunia modern mengenal istilah lifelong learning, tradisi keilmuan dalam Islam telah lebih dahulu menanamkan prinsip tersebut secara mendalam. Para ulama tidak pernah memandang ilmu sebagai sesuatu yang selesai dipelajari. Mereka justru menjadikan belajar sebagai bagian dari ibadah yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Ungkapan Imam Ahmad bin Hanbal yang menyatakan bahwa belajar dilakukan “dari tinta hingga ke kubur” adalah simbol kuat dari semangat keilmuan yang tak pernah padam. Dalam perspektif ini, belajar bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk beribadah hingga datangnya kematian memberikan makna yang luas, termasuk di dalamnya aktivitas menuntut ilmu. Ilmu menjadi sarana untuk memahami kehidupan, menjalankan perintah agama dengan benar, serta memberikan manfaat bagi sesama. Dengan demikian, belajar bukan hanya tuntutan zaman, tetapi juga panggilan iman yang melekat dalam diri setiap manusia.
Dalam kehidupan sosial saat ini, semangat belajar sepanjang hayat seharusnya menjadi budaya yang terus dipupuk. Masyarakat yang gemar belajar akan melahirkan individu-individu yang kritis, terbuka, dan adaptif terhadap perubahan. Sebaliknya, masyarakat yang berhenti belajar akan mudah terjebak dalam stagnasi pemikiran dan sulit menghadapi tantangan global.
Akhirnya, belajar sepanjang hayat adalah perjalanan tanpa garis akhir. Ia menuntut kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati untuk terus menerima bahwa selalu ada hal baru yang perlu dipahami. Di sanalah letak kemuliaan manusia, bukan pada seberapa banyak ia telah mengetahui, tetapi pada kesediaannya untuk terus belajar hingga akhir hayat.
Tim

















