Oleh Ustadz Hambali
Wakil Sekretaris PMB Batam Kota
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan bulan keberkahan yang menghadirkan limpahan rezeki dalam makna yang luas. Rezeki bukan hanya soal materi, tetapi juga ketenangan hati, kesehatan, keluarga yang harmonis, serta kesempatan untuk berbuat kebaikan. Menjemput Ramadhan sejatinya adalah menjemput rezeki yang Allah hamparkan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Sering kali kita memahami rezeki sebatas angka dan harta. Padahal rezeki yang paling besar adalah iman yang bertambah, dosa yang diampuni, dan hati yang kembali bersih. Ramadhan menghadirkan peluang itu secara terbuka. Pintu rahmat dibuka, pintu ampunan dilapangkan, dan pintu kebaikan dipermudah. Maka siapa yang bersiap menyambutnya dengan hati yang tulus, dialah yang sedang menjemput rezeki hakiki.
Menjemput rezeki Ramadhan dimulai dari persiapan diri. Membersihkan niat, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperkuat tekad untuk meningkatkan ibadah. Jangan sampai Ramadhan datang seperti tamu agung, tetapi kita tidak siap menyambutnya. Persiapan ruhani jauh lebih penting daripada sekadar persiapan hidangan berbuka.
Rezeki Ramadhan juga hadir melalui sedekah. Dalam bulan ini, setiap amal dilipatgandakan pahalanya. Tangan yang memberi tidak akan berkurang nilainya, justru bertambah keberkahannya. Berbagi makanan berbuka, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim—semua itu adalah cara nyata menjemput rezeki dengan berbagi rezeki.
Selain itu, Ramadhan adalah momentum memperbaiki disiplin hidup. Sahur melatih kesungguhan, puasa melatih pengendalian diri, tarawih melatih ketekunan, dan tilawah melatih kedekatan dengan Al-Qur’an. Ketika disiplin ibadah terbentuk, keberkahan pun mengalir dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasakan bahwa usahanya justru semakin lancar ketika ia memprioritaskan ketaatan.
Di tengah dinamika kehidupan kota seperti Batam, Ramadhan menjadi oase spiritual. Kesibukan pekerjaan dan rutinitas duniawi sering membuat hati kering. Ramadhan hadir menyegarkan jiwa. Ia mengingatkan bahwa rezeki bukan semata hasil kerja keras, tetapi juga buah dari doa, tawakal, dan ketaatan.
Menjemput rezeki dalam menyambut Ramadhan berarti membuka diri terhadap perubahan. Meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki tutur kata, menjaga lisan dari fitnah dan amarah. Sebab salah satu rezeki terbesar adalah akhlak yang mulia. Ketika akhlak terjaga, hubungan sosial menjadi harmonis dan keberkahan semakin terasa.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menumbuhkan empati. Ketika kita merasakan lapar, kita belajar memahami mereka yang kekurangan. Dari empati lahir kepedulian, dan dari kepedulian lahir keberkahan sosial. Inilah rezeki kolektif yang memperkuat persaudaraan umat. Akhirnya, Ramadhan adalah undangan Ilahi untuk naik kelas dalam keimanan. Siapa yang menyambutnya dengan kesiapan hati akan pulang dengan jiwa yang lebih bersih.
Siapa yang menjemputnya dengan kesungguhan akan meraih rezeki yang melampaui hitungan materi.
Semoga Ramadhan yang kita sambut bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum perubahan. Semoga kita termasuk hamba yang mampu menjemput rezeki dengan iman, amal, dan keikhlasan. Karena sesungguhnya, rezeki terbaik adalah hati yang semakin dekat kepada Allah dan kehidupan yang semakin diberkahi
Nursalim turatea

















