sidikfokusnews.com.Tanjungpinang-Di tengah dinamika sosial-ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, Ramadan 1447 Hijriah menjadi ruang refleksi sekaligus pembuktian komitmen sosial di Tanjungpinang. Di kawasan Batu 10, tepatnya di sekitar SPBU setempat, Perkumpulan IKPK2S menggelar pembagian takjil sebagai langkah perdana organisasi pada bulan suci tahun ini—sebuah aksi yang bukan hanya simbolik, melainkan sarat makna kolektif.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum IKPK2S, Al Imron, STT., Par., didampingi Sekretaris Umum, serta jajaran pengurus dan anggota. Kehadiran lengkap struktur organisasi dalam kegiatan lapangan memperlihatkan bahwa aksi ini merupakan amanah bersama, bukan sekadar agenda seremonial. Sekretaris Umum Hamdan, IKPK2S menyampaikan bahwa amanah dari para donatur dan iuran anggota mulai ditunaikan pada hari itu, sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus komitmen transparansi organisasi.
Dalam waktu kurang dari 20 menit, seluruh paket takjil yang disiapkan habis terbagi kepada masyarakat. Kecepatan distribusi itu bukan sekadar catatan teknis, melainkan cermin nyata bahwa kebutuhan warga dan kepedulian organisasi bertemu dalam satu momentum yang tepat. Antusiasme masyarakat yang melintas menjelang berbuka puasa menjadi indikator kuat bahwa aksi sederhana ini memiliki dampak langsung dan relevan.
Ramadan tahun ini dirasakan dalam atmosfer yang lebih kompleks. Pemulihan ekonomi memang menunjukkan geliat, namun belum sepenuhnya merata. Tekanan daya beli dan ketidakpastian pendapatan masih membayangi sebagian masyarakat. Dalam konteks itulah, pembagian takjil menjelma sebagai pesan empati—bahwa organisasi sosial hadir, melihat, dan merespons realitas di sekitarnya.
Seluruh pembiayaan kegiatan bersumber dari iuran sukarela anggota yang berhasil menghimpun, tanpa menyentuh dana operasional organisasi. Model partisipasi ini menegaskan fondasi kebersamaan yang dibangun atas kesadaran kolektif. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, menjadi bagian dari gerakan bersama yang memperkuat soliditas internal sekaligus memperluas manfaat eksternal.
Menu yang dibagikan—mulai dari bubur, kolak, pempek hingga aneka kue—mewakili tradisi berbuka puasa yang hangat dan akrab di tengah masyarakat. Namun nilai utama kegiatan ini terletak pada interaksi sosial yang terbangun: senyum penerima takjil, kebersamaan para pengurus, dan suasana gotong royong yang terasa alami.
Al Imron menegaskan bahwa kegiatan ini bukan akhir, melainkan awal dari rangkaian aksi sosial Ramadan. Sisa dana yang terkumpul direncanakan akan dialokasikan untuk bantuan sembako bagi panti asuhan di kawasan Km 15 menuju arah Tanjung Uban. Langkah ini menjadi bagian dari konsolidasi sosial IKPK2S, memperkuat identitas organisasi yang responsif, adaptif, dan berorientasi pada kemanfaatan publik.
Salah seorang warga penerima takjil, Sandy, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi. Ia berharap inisiatif serupa dapat diikuti oleh organisasi lain, mengingat kondisi saat ini menuntut lebih banyak aksi konkret dibanding sekadar retorika kepedulian.
Ramadan 1447 H di Tanjungpinang akhirnya tidak hanya dimaknai sebagai ritual spiritual, tetapi juga momentum penguatan solidaritas sosial. Dalam hitungan menit, takjil mungkin telah habis terbagi, tetapi pesan yang ditinggalkan jauh lebih panjang: bahwa organisasi yang kuat bukan hanya yang terstruktur rapi, melainkan yang mampu hadir secara nyata di tengah kebutuhan masyarakat.
Tim-red

















