Oleh: Dr. Nursalim Tinggi, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni dan Desain
Provinsi Kepulauan Riau
Dalam lanskap kehidupan modern yang ditandai oleh percepatan teknologi, kompetisi sosial, dan tekanan psikologis yang semakin intens, manusia kerap mengalami kegelisahan batin, kelelahan emosional, serta krisis makna hidup. Di tengah situasi tersebut, Islam hadir tidak hanya sebagai sistem keyakinan teologis, tetapi juga sebagai kerangka spiritual dan kultural yang menawarkan jalan ketenangan batin melalui praktik ibadah yang bersifat holistik dan transformatif. Ungkapan spiritual “shalatlah agar hatimu tenang, istighfarlah agar kecewamu hilang, dan berdoalah agar bahagiamu segera datang” mencerminkan sintesis antara ajaran normatif Islam dan kebutuhan psikologis manusia kontemporer.
Shalat, dalam perspektif keilmuan dan psikospiritual Islam, tidak dapat direduksi semata sebagai kewajiban ritual lima waktu, melainkan sebuah proses internalisasi nilai-nilai ketundukan, keteraturan, dan kesadaran diri. Praktik shalat yang dilakukan secara khusyu’ melibatkan integrasi antara gerak fisik, pengaturan napas, fokus pikiran, serta penghayatan makna bacaan. Kondisi ini secara ilmiah berkontribusi pada penurunan ketegangan sistem saraf dan peningkatan regulasi emosi. Sejumlah kajian psikologi Islam menunjukkan bahwa individu yang menjaga konsistensi shalat memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan kemampuan adaptasi psikologis yang lebih baik dalam menghadapi tekanan hidup (Nur, 2024:18).
Istighfar sebagai praktik spiritual memiliki dimensi terapeutik yang mendalam. Ia berfungsi sebagai mekanisme pembersihan batin sekaligus refleksi diri atas keterbatasan manusia. Dalam konteks psikologi modern, istighfar dapat dipahami sebagai proses pelepasan beban emosional yang bersumber dari rasa bersalah, kegagalan, dan kekecewaan. Penelitian empiris menunjukkan bahwa terapi berbasis istighfar mampu meningkatkan ketenangan jiwa, menurunkan kecemasan, serta membentuk pola pikir yang lebih positif dan resilien, terutama pada individu yang berada dalam tekanan sosial dan akademik (Nisa & Purwaningrum, 2023:43).
Doa, sebagai bentuk komunikasi transendental antara manusia dan Tuhan, memainkan peran penting dalam pembentukan harapan dan optimisme.
Dalam kajian psikospiritual, doa dipahami sebagai strategi self-regulation yang membantu individu menata ulang orientasi hidup, mengelola ketidakpastian, serta menemukan makna di balik pengalaman hidup yang sulit. Praktik doa dan rasa syukur terbukti memiliki korelasi positif dengan peningkatan kesejahteraan emosional, rasa aman batin, dan kesehatan mental secara keseluruhan (Rahmadiah, 2025:60).
Dari perspektif sosiokultural, rangkaian praktik ibadah tersebut juga memperkuat relasi sosial dan kohesi komunitas. Aktivitas shalat berjamaah, majelis dzikir, dan ruang-ruang spiritual kolektif berfungsi sebagai sarana pembentukan modal sosial dan jaringan dukungan emosional. Dalam masyarakat urban yang cenderung individualistik, praktik keagamaan kolektif menjadi penyangga penting untuk mencegah isolasi sosial dan alienasi spiritual.
Dengan demikian, ajakan spiritual untuk shalat, istighfar, dan doa bukanlah sekadar nasihat moral, melainkan sebuah tawaran jalan hidup yang berakar pada ajaran Islam dan diperkuat oleh temuan keilmuan kontemporer. Praktik-praktik tersebut membuktikan bahwa spiritualitas Islam memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab problem kesehatan mental dan kesejahteraan batin manusia modern.
Ibadah tidak hanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga menjadi instrumen pembentukan manusia yang tenang, tangguh, dan bermakna dalam menjalani kehidupan.
Daftar Pustaka
Nur, A. 2024. Shalat dan Kesehatan Mental: Tinjauan Psikospiritual terhadap Pengurangan Stres dalam Perspektif Islam. Indonesian Journal of Islamic Studies, 1(2), 15–29.
Nisa, A., & Purwaningrum, D. 2023. Pengaruh Terapi Sayyidul Istighfar terhadap Ketenangan Jiwa. Psycho Aksara: Jurnal Psikologi, 1(1), 41–45.
Rahmadiah, N. 2025. Manfaat Berdoa dan Bersyukur dalam Kesehatan Mental. ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling, 3(1), 56–68.















