Andi R. Framantdha (Pemerhati Geososial, politik)
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, perhatian dunia kembali tertuju pada kawasan Selat Hormuz sebuah jalur sempit yang selama puluhan tahun dikenal sebagai nadi distribusi energi global. Namun, di balik perannya sebagai “arteri minyak dunia”, tersimpan fakta yang jauh lebih fundamental bagi peradaban modern: kawasan ini juga merupakan salah satu simpul penting konektivitas digital internasional.
Kita hidup dalam sebuah ilusi besar: bahwa dunia digital bersifat abstrak, mengambang, dan tak tersentuh. Istilah “cloud” seolah memperkuat kesan bahwa data bergerak bebas di udara. Padahal, realitasnya justru sebaliknya. Hampir seluruh lalu lintas data global bertumpu pada jaringan kabel serat optik yang terhampar di dasar laut melewati jalur-jalur sempit yang rentan terhadap konflik, kecelakaan, maupun sabotase.
Dalam konteks ini, eskalasi ketegangan di sekitar Selat Hormuz seharusnya tidak hanya dibaca sebagai ancaman terhadap pasokan energi, tetapi juga sebagai potensi gangguan terhadap stabilitas ekonomi digital global.
Infrastruktur yang Terlupakan
Selama ini, diskursus keamanan internasional cenderung berfokus pada kekuatan militer konvensional: kapal induk, jet tempur, hingga sistem pertahanan rudal. Namun, krisis modern justru menunjukkan bahwa kerentanan terbesar tidak selalu berada pada objek yang kasat mata.
Kabel bawah laut, yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika, adalah contoh nyata dari infrastruktur vital yang nyaris tak pernah masuk dalam perhitungan publik. Sistem seperti AAE-1, FALCON, dan jaringan Teluk lainnya menopang aktivitas ekonomi bernilai triliunan dolar setiap harinya mulai dari transaksi keuangan hingga komputasi awan.
Ironisnya, infrastruktur sepenting ini berada dalam kondisi yang relatif sulit diawasi dan dilindungi. Pada titik-titik tertentu, kabel hanya berada pada kedalaman puluhan meter, menjadikannya rentan terhadap gangguan teknis maupun insiden non-alamiah.
Ancaman Asimetris di Era Digital
Di sinilah muncul dimensi baru dalam konflik global: perang asimetris berbasis infrastruktur. Dalam model ini, kekuatan tidak lagi diukur dari superioritas militer semata, tetapi dari kemampuan mengidentifikasi dan mengeksploitasi titik lemah sistemik lawan.
Gangguan terhadap kabel bawah laut tidak harus berskala masif untuk menimbulkan dampak. Kerusakan parsial saja dapat memicu:
peningkatan latency global,
gangguan layanan cloud,
hingga disrupsi pada sistem keuangan real-time.
Dalam ekonomi yang sangat bergantung pada kecepatan dan konektivitas, keterlambatan milidetik pun dapat berimplikasi miliaran dolar.
Namun demikian, penting untuk menempatkan isu ini secara proporsional. Narasi yang menyebut satu negara mampu “mematikan internet dunia” secara total adalah penyederhanaan berlebihan.
Arsitektur internet global dirancang dengan redundansi tinggi. Meski demikian, gangguan pada beberapa titik chokepoint secara bersamaan termasuk Selat Hormuz dan Laut Merah dapat menciptakan tekanan signifikan terhadap stabilitas jaringan global.
Ketergantungan yang Menjadi Risiko
Fenomena ini mengungkap paradoks utama peradaban modern: semakin terhubung dunia, semakin besar pula ketergantungannya pada infrastruktur yang terkonsentrasi.
Globalisasi digital telah menciptakan efisiensi luar biasa, tetapi pada saat yang sama juga mempersempit margin kesalahan. Tidak ada lagi ruang bagi gangguan berkepanjangan tanpa konsekuensi sistemik.
Sektor-sektor kritis seperti:
perbankan internasional,
perdagangan elektronik,
layanan komputasi awan,
beroperasi di atas asumsi konektivitas tanpa gangguan. Ketika asumsi ini goyah, seluruh ekosistem ikut terdampak.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi Indonesia, isu ini bukan sekadar dinamika geopolitik jauh di sana. Sebagai negara kepulauan yang juga bergantung pada jaringan kabel bawah laut, Indonesia berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya imun terhadap dampak eksternal.
Ada beberapa pelajaran strategis yang patut dicermati:
Pertama, pentingnya memperkuat kedaulatan digital melalui pembangunan pusat data domestik dan penguatan infrastruktur nasional.
Kedua, diversifikasi jalur konektivitas internasional untuk mengurangi ketergantungan pada satu koridor tertentu.
Ketiga, pengembangan sistem cadangan, termasuk pemanfaatan satelit sebagai jalur komunikasi darurat.
Keempat, peningkatan kesadaran bahwa ketahanan digital adalah bagian integral dari ketahanan nasional.
Membaca Ulang Makna Keamanan
Krisis di sekitar Selat Hormuz seharusnya mendorong redefinisi konsep keamanan di era modern. Ancaman tidak lagi datang hanya dari serangan fisik, tetapi juga dari potensi disrupsi terhadap sistem yang menopang kehidupan sehari-hari.
Dalam dunia yang bergantung pada data, kabel bawah laut bukan sekadar infrastruktur teknis, melainkan fondasi peradaban itu sendiri.
Kesimpulannya peradaban modern dibangun di atas jaringan yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan. Ketika jaringan ini terganggu, dampaknya melampaui batas geografis dan sektor ekonomi.
Selat Hormuz mengingatkan kita pada satu hal mendasar: bahwa kekuatan global tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak di permukaan, tetapi juga oleh apa yang tersembunyi di bawahnya.
Dan di sanalah, sering kali, letak kerentanan terbesar kita. Termasuk Indonesia jika pimpinan tertinggi tidak Waspada dan memperhatikan situasi dan kondisi secara faktual akankah Indonesia mengalami hal yang serupa bahkan bisa saja terpecah “PS” pernah menyampaikan Indonesia akan bubar ?
NT















