banner 728x250
Daerah  

Ramadhan sebagai Madrasah Peradaban dan Rekonstruksi Diri

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Abdul Rachman Sappara

Bidang Humas Panitia Gema Ramadhan BPP KKSS

banner 325x300

Ramadhan selalu hadir bukan sekadar sebagai pergantian bulan dalam kalender hijriah, melainkan sebagai momentum rekonstruksi diri dan pembaruan peradaban. Ia datang membawa pesan sunyi yang dalam: bahwa manusia tidak cukup hanya hidup, tetapi harus belajar mengendalikan hidupnya. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat, Ramadhan mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menata ulang orientasi, dan menghidupkan kembali kesadaran spiritual yang kerap tergerus oleh rutinitas.

Puasa, atau shaum/shiyam, secara bahasa berarti menahan diri. Namun makna menahan diri di sini jauh melampaui sekadar tidak makan dan tidak minum. Ia adalah disiplin total atas hawa nafsu, pengendalian atas ucapan, serta pengawasan atas perilaku. Secara syar’i, puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah SWT. Akan tetapi, jika puasa hanya dimaknai sebatas aspek lahiriah, maka ruhnya akan kehilangan daya transformasinya.

Ramadhan adalah madrasah karakter. Lapar yang kita rasakan bukan sekadar sensasi biologis, melainkan pendidikan batin. Dahaga yang kita tahan bukan hanya ujian fisik, tetapi latihan kesabaran dan keteguhan. Dalam suasana menahan diri itulah manusia belajar tentang makna ketaatan. Ketika tidak ada pengawasan manusia, tetapi kita tetap berpegang pada aturan Allah, di situlah integritas moral menemukan fondasinya. Puasa melahirkan kejujuran eksistensial kejujuran yang tumbuh dari kesadaran bahwa Allah Maha Melihat.

Tujuan utama puasa adalah mencapai derajat ketakwaan. Takwa bukan sekadar simbol religiusitas, tetapi kondisi batin yang menghadirkan Allah dalam setiap keputusan. Orang yang bertakwa akan berhati-hati dalam berkata, bijaksana dalam bertindak, dan adil dalam bersikap. Ramadhan membentuk manusia seperti itu. Ia melatih pengendalian diri agar tidak mudah terseret oleh amarah, ambisi, dan egoisme.

Dalam dimensi sosial, puasa menghadirkan empati yang otentik. Ketika kita merasakan lapar, kita diajak memahami realitas saudara-saudara yang hidup dalam keterbatasan. Ramadhan menumbuhkan solidaritas. Tradisi berbagi, memperbanyak sedekah, serta mempererat silaturahmi bukan sekadar ritual tahunan, melainkan manifestasi dari kesadaran kolektif bahwa kehidupan harus dibangun atas dasar kepedulian. Puasa mengikis individualisme dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Sebagai salah satu dari lima Rukun Islam, puasa Ramadhan adalah kewajiban yang sarat makna. Ia bukan beban, melainkan kehormatan spiritual. Kewajiban ini mengandung hikmah pembentukan pribadi dan penguatan masyarakat. Individu yang terbiasa menahan diri akan lebih siap menghadapi godaan korupsi, penyimpangan, dan ketidakjujuran. Masyarakat yang terbiasa berbagi akan lebih kokoh dalam membangun keadilan sosial.

Secara hakikat, puasa adalah pengendalian total atas fisik dan jiwa dari perilaku yang tidak terpuji. Ia menata ulang relasi manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan pembelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang utuh manusia yang sadar akan keterbatasannya sekaligus memahami tanggung jawabnya.

Dalam konteks kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan, nilai-nilai Ramadhan semestinya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjelma menjadi etos kerja yang jujur, kepemimpinan yang amanah, serta komunikasi publik yang santun dan berintegritas. Di sinilah Ramadhan menemukan relevansi peradabannya. Ia membangun bukan hanya kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial.

Semoga Ramadhan yang kita jalani menjadi ruang transformasi yang nyata. Semoga ia membersihkan hati dari prasangka, melapangkan jiwa dari dendam, dan menguatkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Dengan semangat kebersamaan, mari kita jadikan bulan suci ini sebagai titik tolak lahirnya insan-insan yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih berintegritas.

Marhaban ya Ramadhan. Semoga kita semua mampu memetik hikmah terdalam dari setiap detik yang Allah anugerahkan di bulan yang mulia ini.

Nursalim turatea

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *