banner 728x250
Batam  

Puasa sebagai Madrasah Karakter: Tawaduk, Qana’ah, dan Wara’

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Resdin Efendi Pasaribu
Ketua PMB Kota Batam

Ramadan bukan sekadar peristiwa menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah pembentuk karakter, ruang sunyi tempat manusia belajar merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama. Dalam pengalaman spiritual itu, kita disadarkan bahwa lapar yang kita rasakan sejak fajar hingga magrib hanyalah serpihan kecil dari realitas panjang yang dialami saudara-saudara kita yang hidup dalam kekurangan. Kita baru beberapa jam tidak makan sudah mengeluh, sudah merasa berat menjalani hari. Padahal ada yang sehari semalam jarang menyentuh nasi, ada yang menahan perih lambung bukan karena ibadah, melainkan karena ketiadaan. Dari sinilah lahir nilai tawaduk rendah hati, tidak sombong, tidak merasa paling kuat, paling mampu, paling beruntung.

banner 325x300

Tawaduk mengajarkan kita untuk tidak menjadikan nikmat sebagai alasan berbangga diri. Jabatan, harta, dan kedudukan hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Puasa meruntuhkan tembok kesombongan itu. Ia membuat semua orang setara: yang kaya dan yang miskin sama-sama menahan lapar. Jika setelah berpuasa hati kita masih keras dan tidak peduli pada kaum dhuafa, maka ada yang keliru dalam pemahaman kita tentang makna ibadah. Kepedulian sosial bukan sekadar anjuran moral, tetapi konsekuensi iman. Ketika kita mengabaikan orang miskin, kita sesungguhnya sedang mempertaruhkan integritas keimanan kita sendiri.

Dari tawaduk, kita melangkah pada qana’ah sikap merasa cukup atas apa yang Allah berikan. Di tengah arus materialisme yang deras, manusia sering terjebak dalam perlombaan tanpa akhir. Ingin lebih banyak, lebih besar, lebih tinggi, meski harus menempuh jalan yang tidak halal. Ketamakan sering menyamar sebagai ambisi. Kerakusan sering dibungkus dengan dalih kebutuhan. Padahal qana’ah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kesadaran batin bahwa rezeki telah diukur dengan hikmah Ilahi. Orang yang qana’ah bekerja keras, tetapi tidak gelap mata. Ia berikhtiar maksimal, namun tetap bersyukur pada hasil yang ada. Ia tidak menghalalkan segala cara demi memenuhi hasrat duniawi.

Qana’ah melahirkan ketenangan. Ia membebaskan manusia dari rasa iri dan dengki. Ketika orang lain memperoleh lebih, ia tidak tersiksa oleh perbandingan. Ia yakin bahwa Allah Maha Adil dalam membagi karunia. Dengan qana’ah, hidup menjadi ringan. Tidak ada beban ambisi yang melampaui batas moral. Tidak ada kerakusan yang mengikis nurani. Dalam masyarakat, sikap ini menjadi fondasi keadilan sosial, sebab orang yang merasa cukup tidak akan merampas hak orang lain.

Adapun wara’, ia adalah benteng keyakinan yang menjaga seseorang dari perkara syubhat dan meragukan. Wara’ bukan sekadar tahu mana yang halal dan haram, tetapi memiliki sensitivitas batin untuk menjauhi hal-hal yang dapat mengaburkan kejernihan iman. Ia adalah kehati-hatian moral. Dalam dunia yang serba permisif, wara’ menjadi cahaya penuntun agar kita tidak tergelincir. Keyakinan yang kokoh melahirkan sikap selektif dalam bertindak. Tidak semua yang boleh dilakukan harus dilakukan. Tidak semua yang menguntungkan pantas diambil.

Wara’ menuntut konsistensi antara iman dan perbuatan. Ia membuat seseorang takut bukan kepada manusia, melainkan kepada Allah. Ia menjaga lisan dari dusta, tangan dari kecurangan, dan hati dari niat yang kotor. Dalam kepemimpinan, wara’ menjadi syarat mutlak agar kekuasaan tidak berubah menjadi alat penindasan. Dalam kehidupan sehari-hari, wara’ adalah pagar yang melindungi kehormatan diri.

Tawaduk, qana’ah, dan wara’ bukan sekadar konsep etis yang indah diucapkan. Ia adalah nilai yang harus dihidupkan dalam tindakan nyata. Puasa telah mengajarkan kita betapa tidak enaknya lapar. Maka jangan biarkan pengalaman itu berlalu tanpa empati. Jadikan ia energi untuk berbagi. Jadikan ia kesadaran untuk tidak serakah. Jadikan ia penguat keyakinan agar hidup tetap berada di jalan yang diridhai Allah.

Jika tiga nilai ini tertanam kuat, maka lahirlah pribadi yang rendah hati, merasa cukup, dan berhati-hati dalam setiap langkah. Inilah karakter mukmin yang bukan hanya taat dalam ritual, tetapi juga mulia dalam sosial. Dan dari pribadi-pribadi seperti inilah masyarakat yang adil, berempati, dan berintegritas dapat terwujud.

Nursalim turatea

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *