banner 728x250
Batam  

Peringatan Tahun Baru Hijriah dan Hari Natal dalam Pandangan Islam

banner 120x600
banner 468x60

Oleh : Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain
Provinsi Kepulauan Riau

Waktu dalam Islam bukan sekadar penanda pergantian hari, bulan, atau tahun, melainkan ruang refleksi spiritual dan historis yang sarat makna. Setiap peristiwa yang berkaitan dengan waktu mengandung pesan moral yang dapat dijadikan bahan muhasabah, baik secara personal maupun sosial. Dalam konteks ini, peringatan Tahun Baru Hijriah dan Hari Natal sering kali menjadi perbincangan di tengah masyarakat Muslim, terutama terkait batasan akidah, toleransi, serta sikap keagamaan yang bijak dalam kehidupan multikultural.

banner 325x300

Tahun Baru Hijriah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Ia tidak lahir dari peristiwa ritual atau kelahiran tokoh, melainkan dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi transformasi nilai: dari tekanan menuju kebebasan beriman, dari ketertindasan menuju penegakan keadilan, dan dari keterpecahan menuju persaudaraan umat. Oleh karena itu, peringatan Tahun Baru Hijriah dalam Islam hakikatnya adalah ajakan untuk melakukan hijrah moral dan spiritual meninggalkan keburukan menuju kebaikan, dari kejumudan menuju pembaruan diri.

Dalam tradisi Islam, tidak terdapat kewajiban ritual khusus untuk merayakan Tahun Baru Hijriah secara seremonial. Namun, para ulama sepakat bahwa mengisinya dengan doa, zikir, refleksi diri, kajian keislaman, dan penguatan komitmen moral merupakan amalan yang bernilai ibadah. Tahun Baru Hijriah menjadi momentum evaluasi perjalanan iman dan amal, sekaligus perencanaan kehidupan yang lebih baik, adil, dan bermartabat.

Sementara itu, Hari Natal merupakan perayaan keagamaan umat Kristiani yang berkaitan dengan keyakinan mereka terhadap kelahiran Yesus Kristus. Dalam Islam, Nabi Isa a.s. diakui sebagai salah satu nabi besar yang dimuliakan, lahir secara mukjizat dari Maryam yang suci. Al-Qur’an menegaskan kemuliaan Isa sebagai rasul Allah, namun secara teologis Islam tidak mengakui konsep ketuhanan Isa atau doktrin trinitas. Di sinilah letak batas akidah yang harus dijaga oleh umat Islam.

Islam mengajarkan sikap yang sangat jelas namun berimbang. Dalam aspek akidah dan ibadah, umat Islam dilarang mencampuradukkan keyakinan atau ikut serta dalam ritual keagamaan agama lain. Prinsip ini bertujuan menjaga kemurnian tauhid. Namun pada saat yang sama, Islam juga menegaskan pentingnya hidup berdampingan secara damai, adil, dan penuh penghormatan terhadap pemeluk agama lain.

Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa pun yang tidak memerangi dan menindas mereka. Dalam konteks Hari Natal, sikap yang dianjurkan Islam adalah toleransi sosial, bukan toleransi teologis. Mengucapkan selamat dalam bingkai kemanusiaan, menjaga hubungan baik, membantu menjaga keamanan, serta menghormati hak umat Kristiani untuk beribadah merupakan bagian dari akhlak sosial yang luhur, selama tidak disertai pengakuan terhadap ajaran yang bertentangan dengan akidah Islam.

Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, sikap ini menjadi sangat relevan. Menjaga keharmonisan antarumat beragama adalah bagian dari tanggung jawab kebangsaan dan keagamaan. Islam tidak mengajarkan isolasi sosial, tetapi juga tidak membenarkan relativisme akidah. Keseimbangan inilah yang harus terus dirawat agar agama menjadi sumber kedamaian, bukan konflik.

Peringatan Tahun Baru Hijriah dan Hari Natal, jika dipahami secara proporsional, justru dapat menjadi ruang dialog nilai. Tahun Baru Hijriah mengingatkan umat Islam akan pentingnya perubahan diri dan keadilan sosial, sementara Hari Natal dalam pandangan Islam dapat dimaknai sebagai momentum meneladani nilai-nilai kemanusiaan Nabi Isa a.s., seperti kasih sayang, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap kaum lemah, tanpa harus masuk ke wilayah akidah agama lain.

Pada akhirnya, Islam hadir sebagai agama yang menyeimbangkan iman dan akhlak, keyakinan dan kemanusiaan. Keteguhan dalam akidah harus berjalan seiring dengan keluhuran sikap sosial. Tahun Baru Hijriah mengajak umat Islam untuk terus berhijrah menuju kualitas diri yang lebih baik, sementara sikap terhadap Hari Natal menguji kedewasaan umat dalam merawat toleransi tanpa kehilangan jati diri.

Dengan pemahaman yang jernih dan sikap yang arif, umat Islam dapat menjalani kehidupan beragama yang teguh, inklusif, dan beradab menjadi rahmat bagi sesama, sekaligus setia pada prinsip-prinsip keimanan yang diyakininya.

Redaksi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *