sidikfokusnews.com. Batam — Pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi terus diarahkan pada penguatan literasi akademik melalui pemahaman struktur kebahasaan yang mendalam. Salah satu materi penting yang mendapat perhatian dalam perkuliahan adalah pembahasan tentang frasa, khususnya frasa kerja, sebagaimana tergambar dalam paparan visual bertajuk “Jenis-jenis Frasa Kerja” yang disampaikan di ruang kelas.
Materi ini menegaskan bahwa frasa merupakan satuan gramatikal yang berada di bawah klausa dan kalimat, namun memiliki peran penting dalam membentuk kejelasan makna dan efektivitas ujaran. Mahasiswa diajak memahami bahwa penguasaan frasa bukan sekadar hafalan konsep, melainkan bekal untuk menyusun kalimat akademik yang runtut, logis, dan sesuai kaidah bahasa Indonesia.
Dalam pemaparan materi dijelaskan bahwa frasa kerja sederhana hanya terdiri atas satu kata kerja, seperti “makan”. Bentuk ini menjadi dasar bagi pengembangan struktur frasa yang lebih kompleks. Dari pemahaman sederhana tersebut, mahasiswa diarahkan untuk mengenali frasa kerja majemuk yang melibatkan kata kerja bantu, seperti “sedang makan” atau “akan pergi”, yang berfungsi memperjelas aspek waktu, proses, dan intensi suatu tindakan.
Pembahasan berlanjut pada frasa kerja transitif yang memiliki objek langsung, misalnya “membaca buku”. Mahasiswa memahami bahwa frasa ini dapat muncul dalam bentuk aktif maupun pasif, seperti “buku dibaca”, yang keduanya sering digunakan dalam penulisan akademik dan laporan ilmiah. Selain itu, frasa kerja intransitif turut dikenalkan sebagai frasa yang tidak memerlukan objek, seperti “berlari cepat” atau “tidur nyenyak”, namun tetap mampu menyampaikan makna tindakan secara utuh.
Materi frasa kerja dengan klausa juga menjadi perhatian penting. Contoh seperti “ingin belajar bahasa Inggris” menunjukkan bahwa frasa dapat berkembang menjadi struktur yang lebih kompleks dengan menghadirkan klausa tambahan. Pemahaman ini membantu mahasiswa dalam menyusun kalimat majemuk dan bertingkat secara tepat.
Diskusi kelas berlangsung aktif ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan kritis. Bunga Sepia Aliana Pury, mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Batam semester satu, mengajukan pertanyaan terkait frasa benda yang lebih panjang, serta menanyakan maksud dan contohnya dalam konteks bahasa akademik. Menanggapi hal tersebut, dijelaskan bahwa frasa benda atau frasa nominal panjang adalah frasa yang inti katanya berupa nomina, tetapi diperluas dengan keterangan atau atribut tambahan. Contohnya adalah “buku panduan keperawatan dasar edisi terbaru”, yang inti katanya “buku” dan diperluas oleh beberapa unsur penjelas untuk memperinci makna.
Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh Maylika Delpi, yang menyoroti perbedaan antara frasa dan klausa. Dalam penjelasan yang diberikan, ditegaskan bahwa frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak memiliki predikat, sedangkan klausa telah memiliki unsur predikat dan berpotensi menjadi kalimat. Sebagai contoh, frasa “sedang belajar” berbeda dengan klausa “mahasiswa sedang belajar”. Perbedaan ini menjadi kunci dalam memahami struktur kalimat bahasa Indonesia secara tepat.
Sementara itu, Yuliana Febrina mengajukan pertanyaan mengenai perbedaan frasa nominal dan frasa verbal. Dijelaskan bahwa frasa nominal berintikan kata benda, seperti “mahasiswa keperawatan” atau “ruang praktik klinik”, sedangkan frasa verbal berintikan kata kerja, seperti “sedang mempelajari anatomi” atau “akan melakukan praktik”. Pemahaman perbedaan ini membantu mahasiswa menyusun kalimat sesuai fungsi sintaksisnya dalam wacana akademik.
Melalui interaksi tanya jawab tersebut, pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung secara dialogis dan reflektif. Mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses berpikir kritis dan analitis. Diskusi kelas menjadi ruang pembelajaran yang mendorong keberanian bertanya, ketepatan berbahasa, serta pemahaman konsep kebahasaan secara mendalam.
Pembelajaran semacam ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam membangun budaya literasi akademik yang kuat. Bahasa Indonesia diposisikan sebagai alat berpikir ilmiah dan sarana komunikasi profesional lintas disiplin ilmu, termasuk dalam bidang keperawatan.
Dengan penguatan pemahaman frasa dan struktur kebahasaan, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan berbahasa yang efektif, logis, dan bertanggung jawab. Kemampuan tersebut menjadi modal penting dalam menyusun laporan akademik, karya ilmiah, serta komunikasi profesional di masa depan, seiring tantangan dunia akademik dan dunia kerja yang semakin kompleks.
(Redaksi).















