Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau
Kehidupan tidak pernah berjalan dalam garis lurus yang rata dan seragam. Ia bergerak dalam irama yang kadang cepat, kadang lambat; kadang menempatkan seseorang di depan, kadang membiarkannya berada di belakang untuk waktu yang tidak sebentar. Dalam dinamika itulah manusia diuji, apakah ia mampu memaknai proses dengan kedewasaan atau justru tenggelam dalam perbandingan dan keluhan yang melemahkan semangat. Pada hakikatnya, setiap insan sedang berjalan menuju masanya sendiri. Tidak ada yang benar-benar tertinggal selama ia tidak berhenti melangkah dan tidak kehilangan arah.
Banyak orang ingin segera berada di puncak, menikmati pengakuan, memegang peran penting, serta merasakan hasil dari jerih payahnya. Namun sering kali mereka lupa bahwa setiap puncak memiliki tangga dan setiap tangga menuntut pijakan yang kokoh. Tidak ada keberhasilan yang berdiri tanpa fondasi. Kesiapan bukanlah sesuatu yang lahir dari keinginan sesaat, melainkan dari proses panjang yang ditempa oleh disiplin, pengorbanan, dan ketekunan yang konsisten. Esok hari bisa saja menjadi momentum terbesar dalam hidup seseorang, tetapi hanya mereka yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini yang mampu menjalaninya dengan bijak dan penuh tanggung jawab.
Perhatikanlah kaki saat kita berjalan. Ia tidak pernah melangkah bersamaan. Selalu ada satu yang berada di depan dan satu yang berada di belakang. Namun justru karena perbedaan posisi itulah tubuh dapat bergerak maju. Jika keduanya memaksa sejajar dan tidak bergantian, langkah akan terhenti dan perjalanan tidak akan pernah sampai pada tujuan. Begitulah kehidupan bekerja. Ada orang yang hari ini berada di depan, memimpin, disorot, dipuji, dan diberi amanah besar. Ada pula yang berada di belakang, belajar dalam senyap, bekerja tanpa tepuk tangan, berjuang tanpa banyak diketahui orang. Akan tetapi, keduanya sama-sama penting dalam perjalanan. Posisi hanyalah soal giliran; gerak maju adalah hasil dari kesediaan untuk terus melangkah.
Sering kali rasa iri muncul ketika melihat orang lain lebih dahulu berhasil. Padahal yang tampak di permukaan hanyalah hasil, bukan proses panjang yang mendahuluinya. Setiap keberhasilan memiliki sejarah perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh mata publik. Ada doa yang dipanjatkan dalam kesunyian, ada air mata yang jatuh tanpa saksi, ada kegagalan yang ditempa berulang kali sebelum akhirnya berubah menjadi kemenangan. Maka membandingkan diri tanpa memahami perjalanan orang lain adalah bentuk ketidakadilan terhadap diri sendiri. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa langkah kita hari ini lebih baik daripada kemarin, bahwa kualitas diri terus meningkat, dan bahwa karakter semakin matang.
Menjadi pribadi yang siap menyambut takdir berarti membangun integritas ketika tidak ada yang melihat, menjaga komitmen ketika tidak ada yang mengawasi, dan tetap berbuat baik meskipun belum mendapat balasan. Kesiapan sejati tidak hanya menyangkut kemampuan intelektual atau keterampilan teknis, tetapi juga kedewasaan hati dan keteguhan moral. Tidak semua orang yang mendapat kesempatan besar mampu mengelolanya dengan bijaksana. Ada yang jatuh karena tidak siap, ada yang tergelincir karena lalai, dan ada yang kehilangan arah karena tidak memiliki fondasi nilai yang kuat. Oleh sebab itu, proses pembentukan diri jauh lebih penting daripada sekadar mengejar hasil.
Hidup sejatinya adalah perjalanan estafet yang sarat dengan pergantian peran. Hari ini mungkin kita berada di belakang, tetapi bukan berarti selamanya demikian. Selama kita terus memperbaiki diri, menguatkan niat, memperluas wawasan, dan menjaga arah tujuan, giliran itu akan datang pada waktunya. Ketika masa itu tiba, ia tidak lagi terasa sebagai keberuntungan semata, melainkan sebagai buah dari kesabaran, ketekunan, dan konsistensi yang telah dirawat sejak lama.
Karena itu, jangan terburu-buru menuntut hasil sebelum waktunya. Nikmati setiap tahap sebagai bagian dari proses pendewasaan. Jika hari ini terasa berat dan penuh tantangan, mungkin itulah cara kehidupan mempersiapkan kita untuk tanggung jawab yang lebih besar di masa depan. Dan bila hari ini kita berada di depan, jangan lupa bahwa pernah ada masa ketika kita belajar dari belakang. Rendah hati menjaga keseimbangan langkah dan menjauhkan diri dari kesombongan yang dapat meruntuhkan bangunan keberhasilan.
Pada akhirnya, kehidupan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang paling konsisten menjaga langkah dan nilai. Selama kaki terus bergantian melangkah, ada yang di depan dan ada yang di belakang, perjalanan akan terus bergerak maju. Demikian pula manusia, selama ia terus berproses dengan sabar, tekun, dan berintegritas, masa yang tepat akan menghampirinya. Ketika saat itu datang, ia telah siap berdiri bukan hanya dengan keberhasilan, tetapi juga dengan kebijaksanaan, kematangan jiwa, dan kemuliaan akhlak.
Red

















