Oleh Dr. H. Abdul Basir, S.Ag., M.Pd.
Ketua Umum Wilayah Mathla’ul Anwar Provinsi Kepulauan Riau
Bulan suci Ramadhan adalah madrasah ruhani yang setiap tahun Allah hadirkan untuk membersihkan jiwa, menata ulang orientasi hidup, dan memperkuat komitmen keimanan. Ia bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum menghidupkan kembali hubungan kita dengan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk dan cahaya kehidupan. Dalam konteks kehidupan modern yang sarat aktivitas, menghidupkan suasana Ramadhan melalui tadarrus Al-Qur’an di kantor masing-masing menjadi langkah strategis dan bernilai besar.
Ruang kerja sering kali dipersepsikan sebagai wilayah rasional, administratif, dan penuh target. Namun sesungguhnya, tidak ada dikotomi antara profesionalitas dan spiritualitas. Justru ketika nilai-nilai Al-Qur’an dihadirkan dalam lingkungan kerja, maka budaya organisasi akan lebih berakar pada integritas, kejujuran, dan tanggung jawab. Tadarrus bersama sebelum atau sesudah jam kerja dapat menjadi oase spiritual yang menyejukkan suasana dan mempererat ukhuwah antarpegawai.
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Momentum ini seharusnya menggerakkan setiap Muslim untuk lebih dekat dengan wahyu, bukan sekadar membaca secara ritual, tetapi memahami dan menghayatinya. Membaca Al-Qur’an tidak boleh dilakukan dengan rasa terpaksa atau sekadar menggugurkan kewajiban. Spirit ibadah yang sejati lahir dari kesadaran dan kecintaan. Ketika hati terpaut pada kalam Ilahi, setiap ayat yang dibaca menghadirkan ketenangan, kejernihan berpikir, dan kedewasaan dalam bersikap.
Akhlak Muslim terhadap Al-Qur’an tidak berhenti pada adab lahiriah, seperti menjaga kesucian mushaf atau membacanya dengan tartil. Lebih dari itu, akhlak Qur’ani terwujud dalam perilaku nyata: berlaku adil dalam keputusan, jujur dalam laporan, amanah dalam tugas, serta santun dalam berinteraksi. Jika Al-Qur’an hanya dilantunkan tanpa membentuk karakter, maka kita kehilangan esensi kehadirannya sebagai petunjuk hidup.
Di Provinsi Kepulauan Riau yang majemuk dan dinamis, gerakan tadarrus di kantor-kantor pemerintahan, lembaga pendidikan, dan institusi swasta dapat menjadi simbol kebangkitan moral. Ia bukan hanya tradisi musiman, melainkan investasi peradaban. Dari kebiasaan membaca Al-Qur’an bersama, lahir kesadaran kolektif bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah dan melayani masyarakat adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ramadhan mengajarkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial. Ketika suasana Qur’ani hidup di ruang kerja, maka kantor tidak sekadar menjadi tempat menyelesaikan tugas administratif, tetapi juga menjadi ruang pembinaan karakter. Dari sinilah diharapkan tumbuh generasi profesional yang religius, cerdas sekaligus berakhlak, kuat dalam kompetensi dan kokoh dalam integritas.
Menghidupkan Ramadhan dengan tadarrus Al-Qur’an di kantor adalah ikhtiar sederhana namun berdampak besar. Ia menegaskan bahwa cahaya wahyu dapat menerangi setiap sudut kehidupan, termasuk meja kerja dan ruang rapat. Jika Al-Qur’an benar-benar dijadikan pedoman, maka Ramadhan tidak hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan, tetapi menjadi titik tolak perubahan menuju pribadi dan institusi yang lebih bermartabat.
Red

















