banner 728x250
Batam  

Menata Kesadaran Spiritual di Bulan Ramadan

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau

Ramadan adalah momentum peradaban batin. Ia bukan sekadar peristiwa ritual tahunan, melainkan ruang kontemplatif tempat manusia diuji sekaligus dididik untuk kembali mengenali hakikat dirinya sebagai hamba. Dalam dimensi spiritual, Ramadan menghadirkan kesadaran terdalam tentang relasi manusia dengan Tuhannya relasi yang dibangun atas fondasi takut akan murka-Nya dan harap akan rahmat-Nya.

banner 325x300

Doa-doa yang dipanjatkan sepanjang bulan suci ini sesungguhnya merupakan refleksi psikologis dan teologis seorang mukmin. Ketika seorang hamba memohon agar tidak dihinakan karena keberanian bermaksiat, di situ tersimpan pengakuan jujur tentang kerapuhan manusia. Maksiat bukan semata-mata akibat ketidaktahuan, melainkan sering lahir dari kelalaian, kesombongan, bahkan keberanian menunda taubat. Dalam perspektif pendidikan karakter, inilah titik kritis kesadaran moral: kemampuan mengakui kesalahan sebelum datangnya teguran Ilahi.

Permohonan agar tidak dicambuk dengan kemurkaan Allah mengandung makna yang sangat dalam. Murka Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk azab yang kasatmata, tetapi dapat menjelma dalam bentuk kegersangan spiritual, hati yang membeku, hilangnya kepekaan sosial, atau sirnanya keberkahan dalam hidup. Dalam kajian kebudayaan religius, fenomena ini dapat dibaca sebagai krisis makna ketika manusia hidup secara material, tetapi miskin secara ruhani.

Lebih jauh, doa tersebut mengajarkan pentingnya pencegahan moral. Memohon agar dijauhkan dari segala sebab yang mendatangkan murka berarti membangun kesadaran preventif. Dalam bahasa pendidikan, ini adalah proses internalisasi nilai menghadirkan kontrol diri sebelum pelanggaran terjadi. Ramadan mendidik manusia bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ego, amarah, kesombongan, dan hasrat yang melampaui batas.

Sebagai insan yang bergerak dalam ranah bahasa, sastra, budaya, seni, dan desain, saya memandang bahwa doa adalah ekspresi estetika spiritual. Ia bukan hanya teks, melainkan narasi jiwa. Di dalamnya terdapat diksi ketundukan, metafora harapan, dan simbol kerendahan hati.

Bahasa doa membangun jembatan antara manusia yang terbatas dengan Tuhan Yang Mahaluas. Dalam konteks ini, Ramadan menjadi ruang literasi ruhani tempat manusia belajar membaca dirinya sendiri sebelum membaca dunia.

Ketika Allah disebut sebagai Puncak Harapan bagi orang-orang yang berharap, di situlah tauhid menemukan kedalamannya. Harapan manusia sering bergantung pada sesama yang fana, tetapi harapan kepada Allah adalah absolut. Ia tidak terikat ruang dan waktu. Ia melampaui kegagalan dan melampaui kecemasan. Kesadaran inilah yang menumbuhkan optimisme spiritual bahwa setiap dosa memiliki pintu ampunan dan setiap kelemahan memiliki peluang perbaikan.

Ramadan pada akhirnya adalah perjalanan menuju kematangan iman. Ia mengajarkan keseimbangan antara rasa takut dan cinta, antara kewaspadaan dan optimisme. Dalam keseimbangan itulah lahir pribadi yang tidak mudah tergoda oleh maksiat dan tidak putus asa dari rahmat.

Semoga momentum suci ini benar-benar menjadi ruang transformasi diri. Semoga kita dijauhkan dari segala yang mengundang murka dan didekatkan pada limpahan kasih sayang-Nya. Karena pada hakikatnya, kemuliaan manusia tidak diukur dari gemerlap dunia, melainkan dari kedekatannya dengan Allah Swt.

Red

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *