sidikfokusnews.com. Masjid Baitul Adzim kembali menghadirkan suasana religius yang penuh kekhusyukan melalui pelaksanaan khutbah Jumat yang menekankan pentingnya kesiapan spiritual umat Islam menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Ibadah Jumat tersebut dipimpin oleh Imam Masjid M. Mabrur Almubaraki, dengan dukungan manajerial dari H. Syukri selaku Ketua DKM Masjid Baitul Adzim, sehingga seluruh rangkaian ibadah berlangsung tertib dan penuh kekhidmatan.
Khutbah Jumat kali ini disampaikan oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd., yang mengajak jamaah untuk menjadikan bulan Sya‘ban sebagai fase pembenahan diri secara menyeluruh, baik dari sisi keimanan, ibadah, maupun hubungan sosial. Dalam penyampaiannya, khatib menegaskan bahwa Sya‘ban bukan sekadar bulan pengantar, melainkan ruang strategis untuk mempersiapkan kualitas ibadah Ramadhan agar tidak bersifat seremonial semata.
Dalam uraian khutbahnya, khatib menekankan urgensi meluruskan niat dan memperkuat iman sebagai fondasi utama ibadah. Setiap amal di bulan Ramadhan, menurutnya, hanya akan bernilai di sisi Allah SWT apabila dilandasi keikhlasan. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk beribadah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah, serta dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW bahwa setiap amal perbuatan bergantung sepenuhnya pada niat.
Selain aspek niat, jamaah juga diajak untuk melatih diri melalui puasa sunnah di bulan Sya‘ban. Khatib menjelaskan bahwa kebiasaan berpuasa sebelum Ramadhan merupakan metode pendidikan ruhani dan jasmani yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Puasa sunnah tidak hanya menumbuhkan kesabaran, tetapi juga membangun kesiapan mental agar umat Islam mampu menjalani ibadah Ramadhan dengan lebih disiplin dan penuh kesadaran spiritual.
Khutbah tersebut juga menyoroti pentingnya menghidupkan Al-Qur’an sejak bulan Sya‘ban. Menurut khatib, interaksi intensif dengan Al-Qur’an akan membentuk kepekaan hati dan kejernihan berpikir, sehingga Ramadhan benar-benar menjadi bulan transformasi ruhani. Al-Qur’an diposisikan sebagai sumber petunjuk utama yang mengarahkan manusia pada jalan kehidupan yang lurus, sekaligus sebagai sarana pembinaan akhlak dan intelektual umat.
Tidak kalah penting, khatib mengingatkan jamaah untuk memperbanyak istighfar dan taubat sebagai bentuk pembersihan jiwa. Bulan Sya‘ban dipandang sebagai waktu yang tepat untuk merefleksikan kesalahan masa lalu dan memperbaiki diri sebelum memasuki Ramadhan. Keteladanan Rasulullah SAW yang senantiasa beristighfar setiap hari menjadi bukti bahwa taubat merupakan kebutuhan spiritual setiap insan, tanpa memandang tingkat keimanan.
Dalam konteks sosial, khutbah ini juga menegaskan bahwa keberhasilan ibadah Ramadhan sangat ditentukan oleh kualitas hubungan antar sesama manusia. Khatib mengajak jamaah untuk membersihkan hati dari dendam, iri, dan permusuhan, serta memperbaiki relasi sosial yang renggang. Hubungan harmonis antarsesama dipandang sebagai prasyarat penting agar ibadah yang dilakukan mendapat keberkahan dan diterima oleh Allah SWT.
Melalui khutbah yang reflektif dan argumentatif tersebut, Masjid Baitul Adzim tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan kesadaran keagamaan umat. Pesan-pesan yang disampaikan diharapkan mampu menumbuhkan kesiapan lahir dan batin jamaah dalam menyambut Ramadhan, sehingga bulan suci tersebut benar-benar menjadi momentum peningkatan iman, ketakwaan, dan kualitas kehidupan sosial umat Islam.
Red

















