banner 728x250
Batam  

Manusia Memang Aneh, di Langit Berharap Kaya, di Data Mengaku Miskin

banner 120x600
banner 468x60

Oleh : Dr. Nursalim, S. Pd., M. Pd.

1. Ketua Fahmi Tamami Kota Batam
2. Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa Sastra Budaya Seni dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau

banner 325x300

Hidup manusia sering dipenuhi harap. Saat keadaan sulit, saat penghasilan kecil, saat kebutuhan terasa berat, tangan diangkat ke langit. Mulut penuh doa. Hati penuh keinginan. Kita ingin hidup lebih baik. Kita ingin cukup. Kita ingin kaya. Semua itu wajar. Semua orang ingin hidup dalam kelapangan.

Namun yang sering membuat hati terasa perih adalah ketika harapan di langit tidak selalu sejalan dengan sikap di bumi. Di satu sisi kita berdoa minta kaya kepada Tuhan. Di sisi lain, ketika negara datang membawa formulir pendataan, sebagian justru mengaku miskin. Kita ingin naik, tetapi masih bertahan di bawah. Kita ingin berubah, tetapi takut melepaskan status lama.

Di sinilah keanehan manusia itu terlihat dengan jelas. Kita ingin hidup lebih layak, tetapi pada saat yang sama kita juga ingin tetap menerima bantuan. Kita ingin keluar dari kesulitan, tetapi masih memelihara identitas kesulitan itu sendiri. Seolah-olah kemiskinan tidak lagi hanya menjadi keadaan, melainkan sudah berubah menjadi tempat berteduh yang terasa aman.

Doa sebenarnya adalah percakapan paling jujur antara manusia dan Tuhannya. Saat berdoa, kita membuka isi hati. Kita mengaku lemah. Kita mengaku berharap. Namun doa akan kehilangan maknanya jika tidak disertai kejujuran dalam hidup sehari-hari. Tuhan mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi manusia juga melihat apa yang kita lakukan. Jika doa meminta kaya, maka sikap juga seharusnya bergerak menuju kejujuran dan kemandirian.

Bantuan dari negara pada dasarnya adalah bentuk kepedulian. Bantuan itu hadir untuk menolong yang lemah agar bisa bangkit. Bukan untuk membuat orang bertahan selamanya dalam ketergantungan. Bantuan adalah jembatan, bukan tujuan. Ia seharusnya membantu orang berjalan lebih kuat, bukan membuat orang berhenti melangkah.

Namun ketika data tidak dijaga dengan kejujuran, maka bantuan bisa salah arah. Orang yang seharusnya sudah mampu masih ingin tercatat sebagai miskin. Sementara di sudut-sudut lain, masih ada orang yang benar-benar kekurangan, tetapi tidak tersentuh karena kalah dalam pendataan. Di sinilah rasa keadilan sering terluka, bukan karena negara tidak peduli, tetapi karena kejujuran sosial kita yang rapuh.

Yang lebih menyedihkan, pelan-pelan sebagian orang mulai terbiasa hidup dalam kondisi ini. Bantuan dianggap sebagai hak yang harus terus diterima, bukan sebagai pertolongan sementara. Status miskin menjadi sesuatu yang dipertahankan, bukan diperjuangkan untuk ditinggalkan. Padahal harga diri manusia jauh lebih tinggi daripada sekadar bantuan sesaat.

Manusia memang makhluk yang penuh harap. Kita ingin hidup lebih baik, lebih lapang, lebih tenang. Tetapi harapan itu akan tinggal sebagai mimpi jika tidak disertai keberanian untuk jujur dan berubah. Kita tidak cukup hanya memohon kepada Tuhan, tetapi juga harus jujur kepada sesama dan kepada diri sendiri.

Mungkin sekarang saatnya kita bertanya dengan lebih tulus ke dalam hati: apakah kita benar-benar ingin keluar dari kemiskinan, atau justru merasa nyaman hidup di dalamnya? Apakah kita sungguh ingin mandiri, atau hanya ingin aman dalam ketergantungan?

Jika doa kita meminta kaya, maka langkah kita juga harus mengarah ke sana. Dengan kerja jujur, sikap jujur, dan data yang jujur. Karena pada akhirnya, hidup yang benar bukan hanya tentang apa yang kita minta kepada Tuhan, tetapi juga tentang apa yang berani kita lepaskan demi masa depan yang lebih baik.

( redaksi )

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *