banner 728x250
Batam  

Lupa di tengah puasa: dialektika kemanusiaan dan rahmat Ilahi dalam ruang spiritual Ramadan

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (APEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau

Puasa adalah ibadah yang paling hening sekaligus paling jujur. Ia tidak membutuhkan saksi, tidak memerlukan pengakuan publik, dan tidak bergantung pada validasi sosial. Dalam puasa, manusia berhadapan dengan dirinya sendiri dengan dorongan biologisnya, dengan kelemahan psikologisnya, dan dengan kesadaran spiritualnya. Namun di tengah keheningan itu, terselip satu fakta yang tak terbantahkan: manusia adalah makhluk yang bisa lupa. Ketika seseorang yang sedang berpuasa tanpa sengaja makan atau minum, lalu ia tersadar, Islam tidak menempatkannya dalam ruang kesalahan yang menghukum, melainkan dalam cakrawala rahmat yang menenangkan. Dalam hadis sahih dijelaskan bahwa ia hendaklah melanjutkan puasanya, karena hal itu seakan-akan Allah telah memberinya makan dan minum.

banner 325x300

Pesan tersebut bukan sekadar ketentuan fikih, melainkan refleksi teologis yang mendalam tentang hubungan antara Tuhan dan hamba. Islam dibangun di atas prinsip kemudahan dan kasih sayang. Lupa bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan sifat alami manusia. Bahkan secara etimologis, kata insan kerap dikaitkan dengan nasiya, yang berarti lupa.

Seakan-akan bahasa itu sendiri menegaskan bahwa kelupaan adalah bagian dari struktur eksistensial manusia. Dengan demikian, ketika seseorang lupa dalam puasanya, ia tidak sedang keluar dari jalur spiritualitas, tetapi justru memperlihatkan keterbatasan yang menjadi ciri kemanusiaannya.

Di sinilah keindahan ajaran Islam menemukan maknanya. Agama tidak menuntut kesempurnaan absolut yang mustahil dicapai manusia. Ia menuntut kesungguhan dan kesadaran. Momen ketika seseorang tersadar bahwa ia telah makan atau minum, lalu segera menghentikannya, adalah momen spiritual yang sangat bernilai. Ia tidak berhenti karena takut kepada manusia, melainkan karena ingat kepada Allah. Kesadaran itulah inti puasa: hadirnya pengawasan batin, rasa diawasi oleh Yang Maha Melihat, yang membimbing setiap gerak dan niat.

Dari sudut pandang psikologis, ajaran ini juga menenangkan jiwa. Rasa bersalah yang muncul ketika tersadar dari kelupaan adalah tanda bahwa nurani masih bekerja. Namun agama tidak membiarkan rasa bersalah itu berubah menjadi beban yang berlebihan. Islam mengajarkan keseimbangan antara tanggung jawab moral dan ketenteraman hati. Puasa tetap sah, ibadah tetap berjalan, dan rahmat tetap menyertai. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas dalam Islam tidak dibangun di atas kecemasan, tetapi di atas kesadaran yang proporsional.

Dalam konteks sosial, pesan ini mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menghakimi. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memahami perbedaan antara kesengajaan dan kelupaan. Ramadan seharusnya membentuk karakter kolektif yang lebih empatik—yang menegur dengan santun dan memaafkan dengan lapang. Jika puasa hanya melahirkan pribadi yang keras dan mudah mencela, maka ada esensi yang belum sepenuhnya kita tangkap.

Dalam dunia pendidikan dan pembinaan generasi muda, nilai ini sangat relevan. Kesalahan yang tidak disengaja tidak semestinya dibalas dengan hukuman yang mematahkan semangat. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran untuk memperbaiki diri. Puasa melatih kedewasaan moral: bukan tentang tidak pernah salah, melainkan tentang kesiapan untuk kembali kepada kebenaran setiap kali tersadar.

Akhirnya, lupa di tengah puasa adalah cermin kemanusiaan yang disinari rahmat Ilahi. Ia mengajarkan bahwa ibadah bukanlah perlombaan menuju kesempurnaan tanpa cela, tetapi perjalanan menuju kedekatan dengan Tuhan melalui kesadaran yang terus diperbarui. Ramadan menjadi ruang dialog antara kelemahan manusia dan kasih sayang Allah. Dan dalam dialog itu, puasa menemukan makna terdalamnya—bahwa setiap kelupaan yang disadari dan diperbaiki adalah langkah kecil menuju kematangan spiritual yang lebih utuh.

Red

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *