banner 728x250
Batam  

Ketika Nafas Terakhir Menjadi Doa: Perjalanan Seorang Hamba Menemukan Cahaya di Ujung Senja

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau

Senja itu turun perlahan di ufuk barat, membawa warna jingga yang temaram dan hening yang tak biasa. Di sebuah ruang perawatan rumah sakit yang sunyi, seorang lelaki sepuh terbaring dengan nafas yang mulai tersengal. Namanya Rahman. Usianya telah melewati tujuh dekade, dan perjalanan hidupnya penuh dengan dinamika, pencapaian, juga penyesalan yang tak selalu terucap.

banner 325x300

Rahman bukan orang biasa dalam ukuran dunia. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras, pemimpin yang visioner, dan pribadi yang disegani. Dari masa muda yang sederhana, ia merangkak naik meniti karier dengan tekad baja. Baginya, hidup adalah perlombaan untuk membuktikan diri. Ia percaya bahwa kehormatan diperoleh melalui keberhasilan, dan keberhasilan diraih dengan kerja tanpa henti. Waktu seolah tak pernah cukup baginya. Hari-harinya dihabiskan dalam rapat, perjalanan, dan perhitungan. Malam-malamnya dipenuhi rencana dan strategi.

Namun dalam kesibukan itu, ada ruang-ruang sunyi yang sering ia abaikan. Ada panggilan lembut dalam hatinya yang sesekali mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian. Ia mengerti, tetapi kerap menunda. “Nanti saja, setelah semuanya stabil,” begitu ia menenangkan dirinya setiap kali suara hati itu datang.

Hingga suatu hari, kabar duka mengguncang dunianya. Ibunya wafat secara mendadak. Perempuan sederhana yang sepanjang hidupnya tak pernah lelah berdoa untuk anak-anaknya itu pergi tanpa banyak pesan. Rahman berdiri di sisi pusara, memandangi tanah yang masih basah. Untuk pertama kalinya, ia merasakan betapa kecil dirinya di hadapan kematian. Semua yang selama ini ia banggakan terasa tak berarti di hadapan liang lahat yang sunyi.

Malam setelah pemakaman, ia duduk lama di ruang tamu rumahnya. Ingatannya melayang pada masa kecil, ketika ibunya selalu membangunkannya untuk shalat subuh, ketika suara doa panjang terdengar lirih dari kamar sebelah, ketika tangan renta itu mengusap kepalanya sambil berbisik agar ia menjadi manusia yang berguna dan dekat dengan Tuhannya. Rahman menyadari bahwa ia telah berjalan terlalu jauh dari kesederhanaan iman yang dulu ditanamkan ibunya.

Sejak saat itu, perlahan perubahan terjadi dalam dirinya. Ia tetap bekerja, tetap memimpin, tetapi ada yang berbeda. Ia mulai membangun kebiasaan baru. Bangun sebelum fajar, berlama-lama dalam sujud, membaca ayat-ayat suci dengan hati yang bergetar. Ia belajar memaknai keberhasilan bukan sekadar sebagai akumulasi materi, tetapi sebagai kesempatan untuk berbagi dan memberi manfaat. Ia menemukan bahwa ketenangan tidak lahir dari banyaknya harta, melainkan dari kedekatan dengan Yang Maha Kuasa.

Waktu terus berjalan, tak terasa usianya semakin menua. Anak-anaknya tumbuh dewasa dan meneruskan jejak langkahnya. Ia merasa cukup, bahkan bersyukur. Namun tubuh manusia memiliki batas. Penyakit datang perlahan, menggerogoti kekuatan yang dulu begitu ia banggakan. Dokter menjelaskan dengan bahasa yang hati-hati, keluarga mencoba tegar, tetapi Rahman sudah memahami tanda-tandanya. Ia sedang mendekati garis akhir perjalanan duniawinya.

Di ruang perawatan itu, Rahman tak lagi memikirkan jabatan dan pencapaiannya. Ia justru mengingat doa-doa yang pernah ia panjatkan, kesalahan yang pernah ia lakukan, serta ampunan yang terus ia harapkan. Setiap tarikan nafas terasa berat, seperti mendaki bukit yang tinggi. Tetapi anehnya, hatinya justru terasa ringan. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan, seakan ia telah berdamai dengan masa lalu dan berserah pada masa depan yang tak kasat mata.

Anak-anaknya berkumpul di sekelilingnya. Wajah-wajah yang dulu ia bimbing kini menatapnya dengan mata yang basah. Rahman menatap mereka satu per satu, seolah ingin menyampaikan pesan tanpa kata. Bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling lama bertahan, tetapi siapa yang paling siap ketika panggilan itu datang.

Dalam sisa kesadarannya, ia teringat kalimat ibunya, “Biasakan lidahmu menyebut nama-Nya dalam hidupmu, agar di akhir hidupmu ia mengalir tanpa dipaksa.” Kalimat itu kini terasa begitu dekat dan nyata.

Dengan tenaga yang tersisa, bibir Rahman bergerak perlahan. Suaranya nyaris tak terdengar, tetapi cukup jelas bagi mereka yang berada di sisinya. Ia menyebut satu nama, nama yang menjadi sumber harapan dan ketenangan. Bukan sebagai formalitas, bukan sebagai ketakutan, melainkan sebagai cinta yang telah tumbuh dan mengakar dalam perjalanan taubatnya.

Detak monitor melemah. Senja di luar jendela telah berubah menjadi malam yang pekat. Namun di wajah Rahman terlukis kedamaian. Seakan ia sedang melangkah menuju cahaya yang telah lama ia rindukan.

Ketika nafas terakhirnya terlepas, ruangan itu dipenuhi keheningan yang sakral. Tidak ada teriakan histeris, hanya air mata yang jatuh perlahan dan doa yang terucap lirih. Rahman telah menyelesaikan perjalanannya. Ia pergi bukan dengan kegelisahan, tetapi dengan penyerahan yang tulus.

Cerita Rahman mengajarkan bahwa hidup adalah proses kembali. Bahwa segala pencapaian dunia pada akhirnya akan ditinggalkan, dan yang tersisa hanyalah iman, amal, dan rahmat Tuhan. Nafas terakhir bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju keabadian. Maka berbahagialah mereka yang sepanjang hidupnya telah menyiapkan diri, sehingga ketika senja itu tiba, yang keluar dari bibirnya bukanlah penyesalan, melainkan doa dan penyebutan nama Yang Maha Agung.

Di ujung kehidupan, manusia tidak lagi membutuhkan pujian. Ia hanya membutuhkan ampunan. Dan betapa indahnya jika di akhir nafas, yang terucap adalah nama-Nya, sebagai tanda bahwa perjalanan panjang seorang hamba telah berakhir dalam cahaya keimanan dan ketundukan.

Red

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *