Oleh : Ustadz H. Muhammad Hasanuddin Asmi
Zaman terus bergerak tanpa menunggu siapa pun. Teknologi melesat, informasi mengalir tanpa henti, dan cara manusia memandang kehidupan pun ikut berubah. Dalam arus besar perubahan itu, dunia pendidikan terutama pendidikan Islam berdiri di persimpangan penting: antara menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para ulama dan menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Mendidik generasi hari ini bukan lagi sekadar soal menyampaikan pelajaran, tetapi bagaimana menanamkan makna hidup, adab, dan keteguhan iman di tengah dunia yang makin bising.
Anak-anak dan remaja masa kini tumbuh dengan dunia yang nyaris tanpa batas. Mereka mengenal layar lebih cepat daripada mengenal sunyi. Mereka akrab dengan media sosial sebelum akrab dengan perenungan diri. Di satu sisi, semua ini membuka ruang belajar yang luas. Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan kegelisahan, kegamangan identitas, serta rapuhnya ketahanan mental. Di sinilah pendidikan Islam memikul tugas berat: bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menenangkan jiwa.
Dalam Al-Qur’an Allah menegaskan bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Pesan ini semakin terasa relevansinya di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan. Banyak manusia hari ini tampak tersenyum, tetapi hatinya kosong. Tampak sibuk, tetapi jiwanya lelah. Pendidikan yang hanya mengisi akal tanpa menyentuh hati akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi mudah goyah ketika berhadapan dengan ujian kehidupan.
Di lingkungan pesantren, surau, dan majelis taklim, nilai-nilai ketenangan batin itu masih terus dijaga. Di sana, ilmu tidak hanya diajarkan untuk diketahui, tetapi untuk dihidupi. Santri tidak hanya belajar tentang hukum-hukum agama, tetapi juga tentang kesabaran, keikhlasan, adab kepada guru, serta keteguhan dalam menjalani proses. Inilah pendidikan yang tumbuh dalam senyap, tetapi akarnya menghujam kuat ke dalam jiwa.
Di balik proses yang tampak sederhana itu, ada sosok-sosok pendidik yang mengabdikan hidupnya dalam kesunyian. Salah satunya adalah Ustadz Hasanuddin, yang dengan penuh ketekunan membina beberapa pondok pengajian bersama para santri dari berbagai latar belakang. Hari-harinya diisi dengan mengajar, membimbing, menasihati, dan mendoakan. Tidak selalu ada pujian, tidak selalu ada kemudahan. Namun beliau tetap berjalan, seolah waktu bukanlah alasan untuk menyerah, dan keterbatasan bukanlah penghalang untuk mengabdi. Dari sosok seperti inilah kita belajar bahwa keikhlasan adalah jantung dari pendidikan yang sejati.
Para santri hari ini juga memikul beban zaman yang tidak ringan. Mereka bukan hanya dituntut memahami kitab, tetapi juga dituntut bertahan di tengah gempuran budaya instan, perbandingan sosial, serta tekanan untuk “berhasil” dengan cepat. Tidak sedikit yang merasa cemas, ragu pada diri sendiri, bahkan kehilangan arah. Maka kehadiran guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penenang jiwa, penuntun langkah, dan penyangga harapan menjadi semakin penting.
Pendidikan Islam pada akhirnya tidak bertujuan mencetak manusia yang hanya pandai berbicara tentang agama, tetapi melahirkan pribadi yang hidup dengan nilai-nilai agama. Ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan. Ibadah tanpa keikhlasan akan melahirkan kekeringan jiwa. Namun ketika ilmu dipadukan dengan ketundukan, dan amal disertai keikhlasan, di situlah lahir manusia yang kuat akalnya, lembut hatinya, dan kokoh pendiriannya.
Menjaga api pendidikan di tengah zaman yang serba cepat bukanlah perkara mudah. Ia menuntut kesabaran yang panjang, keteguhan yang dalam, serta keyakinan bahwa setiap huruf yang diajarkan dengan ikhlas akan menjadi cahaya di masa depan. Dari ruang-ruang pengajian yang sederhana, dari lantunan ayat-ayat suci yang tak pernah putus, dan dari para guru yang terus mengabdi tanpa banyak suara, di sanalah sesungguhnya masa depan umat sedang ditanam dengan penuh cinta dan doa.
( redaksi )















