Oleh : Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau
Zaman ini bergerak cepat, tetapi tidak selalu bergerak benar. Di tengah derasnya arus perubahan, kita menyaksikan satu kegelisahan besar: akal dan hati nurani semakin sulit menemukan titik temu. Keduanya seperti dipaksa berjalan sendiri-sendiri, bahkan sering kali disingkirkan, ketika nafsu dalam bentuk kepentingan, ambisi, dan ego kekuasaan mengambil alih kendali.
Akal yang semestinya menjadi cahaya penuntun kebenaran rasional, kerap direduksi sekadar alat pembenar. Ia dipinjam untuk merapikan keputusan yang sejak awal tidak lahir dari kejujuran. Logika disusun bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk membenarkan kepentingan. Sementara itu, hati nurani yang sejatinya menjadi benteng terakhir nilai kemanusiaan perlahan dibungkam. Ia dianggap penghambat, terlalu lembut, terlalu manusiawi, dan karenanya tidak relevan dengan dunia yang menuntut hasil instan.
Fenomena ini terasa nyata dalam kehidupan birokrasi, pendidikan, dan ruang-ruang pelayanan publik. Prosedur yang dirancang untuk melindungi justru berubah menjadi jebakan administratif. Aturan yang seharusnya memberi kepastian malah melahirkan kebingungan. Tanggung jawab dipindahkan dari satu meja ke meja lain, sementara manusia yang berada di dalam sistem itu kehilangan arah dan harapan. Di sinilah kita melihat bagaimana sistem yang kehilangan nurani akan melahirkan kelelahan, ketidakadilan, dan luka batin yang tak kasatmata.
Pendidikan pun tidak luput dari persoalan ini. Ketika pendidikan hanya dipahami sebagai urusan angka, jabatan, dan sertifikat, maka yang lahir adalah kecerdasan yang kering nilai. Akal diasah setajam mungkin, tetapi hati dibiarkan tumpul. Padahal, inti pendidikan adalah membentuk manusia seutuhnya manusia yang berpikir jernih sekaligus berperasaan halus. Tanpa keseimbangan itu, pendidikan hanya akan melahirkan generasi cakap secara teknis, tetapi rapuh secara moral.
Nafsu dalam konteks ini bukan sekadar dorongan biologis, melainkan simbol dari dominasi ego. Nafsu untuk berkuasa, diakui, dipertahankan posisinya, atau dimenangkan pendapatnya. Ketika nafsu menjadi kompas utama, hukum kehilangan ruh keadilannya, etika tinggal jargon, dan empati berubah menjadi formalitas kosong. Yang kuat semakin nyaman, yang lemah semakin terpinggirkan.
Sesungguhnya, krisis terbesar zaman ini bukanlah kekurangan orang pintar, melainkan kelangkaan orang berani bersikap benar. Keberanian moral adalah buah dari pertemuan harmonis antara akal sehat dan hati nurani yang hidup. Tanpa keberanian itu, kemajuan hanya akan melahirkan wajah baru dari ketidakadilan lama.
Sudah waktunya kita berhenti mengagungkan kekuasaan tanpa kebijaksanaan dan kecepatan tanpa arah. Zaman ini menuntut lebih dari sekadar kecerdasan; ia menuntut kejernihan akal dan keberanian nurani. Sebab ketika akal dan hati nurani terus-menerus dikalahkan oleh nafsu, yang runtuh bukan hanya sistem dan institusi, melainkan martabat manusia itu sendiri.
[ redaksi ]















