Oleh: Abdul Rachman Sappara
(Aktivis HMI Cabang Ujung Pandang Era 1980–1990-an)
Kejujuran hati merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan dan pelatihan diri manusia. Ia bukan sekadar sikap moral yang diajarkan sejak kecil, melainkan nilai hidup yang harus terus diasah dan dipraktikkan dalam setiap fase kehidupan. Kejujuran menuntun seseorang untuk mengenali dirinya sendiri, memahami batas antara yang benar dan yang salah, serta berani berdiri tegak di atas kebenaran, sekalipun dalam situasi yang sulit.
Dalam perjalanan hidup, kejujuran sejatinya dapat menjadi bahan perenungan yang mendalam. Dunia yang kita jalani hari ini dipenuhi berbagai godaan, kepentingan, dan kepalsuan yang sering kali mengaburkan nurani. Di tengah arus tersebut, kejujuran hadir sebagai kompas moral yang menjaga manusia agar tidak kehilangan arah. Bersikap jujur berarti berani berkata dan bertindak sesuai dengan hati nurani, tanpa harus menyesuaikan diri dengan kepentingan sesaat yang menyesatkan.
Islam menempatkan kejujuran sebagai salah satu akhlak mulia yang sangat ditekankan. Nilai ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarmanusia, tetapi juga mencerminkan kualitas iman seseorang. Kejujuran adalah cermin dari kebersihan hati dan ketulusan niat. Dalam berbagai ajaran Islam, kejujuran selalu disejajarkan dengan kebaikan, sedangkan kebohongan diposisikan sebagai sumber kerusakan moral dan sosial. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kejujuran merupakan harga mahal yang kian langka di tengah kehidupan modern yang sarat manipulasi dan pencitraan.
Manfaat dari kejujuran sangatlah nyata dan berjangka panjang. Orang yang jujur akan memperoleh kepercayaan, sebuah modal sosial yang tidak dapat dibeli dengan materi. Kepercayaan melahirkan rasa hormat, dan rasa hormat menumbuhkan hubungan yang sehat dalam keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa. Kejujuran juga membebaskan seseorang dari beban kepura-puraan, karena hidup dalam kebenaran memberi ketenangan batin dan kejernihan pikiran.
Lebih dari itu, kejujuran adalah bentuk tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri. Bersikap jujur berarti berani mengakui kekurangan, kesalahan, dan keterbatasan, sekaligus membuka ruang untuk memperbaiki diri. Tanpa kejujuran, proses pendidikan diri akan terhenti, sebab kebohongan hanya akan melahirkan ilusi keberhasilan yang rapuh.
Allah SWT mencintai hamba-Nya yang senantiasa berperilaku jujur, baik dalam ucapan maupun perbuatan, kepada sesama manusia maupun kepada diri mereka sendiri. Kejujuran menjadi tanda kedekatan seorang hamba dengan nilai-nilai ilahiah. Dalam ajaran Islam, mereka yang memelihara kejujuran dijanjikan kemuliaan, ketenangan hidup, dan balasan surga sebagai bentuk penghargaan tertinggi atas konsistensi mereka menjaga kebenaran.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kejujuran harus kembali ditegakkan sebagai nilai dasar dalam pendidikan, kepemimpinan, dan kehidupan sosial. Kejujuran bukan sekadar slogan moral, melainkan laku hidup yang menuntut keberanian, keteguhan, dan komitmen. Dengan kejujuran, manusia tidak hanya membangun dirinya sendiri, tetapi juga ikut membangun peradaban yang bermartabat dan berkeadilan.
Redaksi

















