banner 728x250
Batam  

Kader Muhammadiyah bantah anggapan kurang berani berpolitik

banner 120x600
banner 468x60

 

banner 325x300

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd

Pernyataan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, yang menyebut kader Muhammadiyah kurang berani berpolitik, perlu diluruskan secara proporsional dan objektif. Sebagai kader Muhammadiyah, kami memandang bahwa tudingan tersebut tidak sepenuhnya tepat dan berpotensi menyederhanakan peran strategis persyarikatan dalam kehidupan kebangsaan.
Pertama, Muhammadiyah sejak awal berdirinya bukanlah organisasi politik praktis, melainkan gerakan dakwah dan tajdid yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Sikap menjaga jarak dari politik praktis bukanlah bentuk ketidakberanian, melainkan pilihan ideologis yang berpijak pada khittah perjuangan. Muhammadiyah memilih memengaruhi kebijakan melalui moral force dan kekuatan gagasan, bukan semata melalui kekuasaan struktural.
Kedua, banyak kader Muhammadiyah yang telah dan sedang berkiprah dalam dunia politik, baik di legislatif, eksekutif, maupun partai politik. Mereka hadir sebagai individu, bukan representasi organisasi. Artinya, partisipasi politik tetap berjalan, tetapi tidak membawa-bawa institusi secara organisatoris. Ini menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah tidak alergi terhadap politik, melainkan menempatkannya secara etis dan konstitusional.
Ketiga, keberanian politik tidak selalu diukur dari seberapa banyak kader menduduki jabatan publik. Keberanian juga tampak dalam konsistensi menyuarakan kebenaran, mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, serta menjaga integritas di tengah pragmatisme politik. Dalam banyak momentum nasional, Muhammadiyah justru tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang berani bersikap tegas demi kepentingan bangsa.
Muhammadiyah memahami politik sebagai bagian dari muamalah duniawiyah yang harus dijalankan dengan akhlak dan nilai keadilan. Karena itu, kehati-hatian dalam berpolitik bukanlah kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab moral agar persyarikatan tidak terjebak pada tarik-menarik kepentingan kekuasaan yang dapat merusak marwah dakwah.
Sebagai kader, kami meyakini bahwa kontribusi terbesar Muhammadiyah bagi bangsa bukan hanya pada perebutan kursi kekuasaan, tetapi pada pembangunan peradaban melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, dan pencerahan pemikiran. Politik tetap penting, tetapi bukan satu-satunya medan perjuangan.
Dengan demikian, anggapan bahwa kader Muhammadiyah kurang berani berpolitik tidaklah berdasar. Yang ada adalah pilihan strategi perjuangan yang berbeda: tidak gaduh dalam panggung kekuasaan, tetapi kokoh dalam kerja-kerja nyata untuk kemajuan umat dan bangsa.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *