banner 728x250

Endang Hartono (Endang Baduy) Jejak Hidup Seorang Penjaga Warisan Gadjah Putih

banner 120x600
banner 468x60

SIDIKFOKUSNEWS|Di kaki waktu yang terus bergerak, pada 4 April 1949, lahirlah seorang anak laki-laki di Sumedang, dari rahim seorang ibu sederhana bernama Ma Eha dan ayah bernama Kamsin. Anak itu kelak dikenal sebagai Endang Hartono, sosok yang perjalanan hidupnya tak sekadar menua bersama usia, tetapi tumbuh bersama nilai, laku, dan pengabdian.

Ketika usianya baru dua tahun, takdir membawanya hijrah ke Bandung. Di kota inilah ia dibesarkan, tepatnya di Jamika, Gang Siti Mariah, dalam asuhan Ibu Oon, kakak dari ibunya. Dari lingkungan sederhana itu, Endang kecil mengenal arti keluarga, keteguhan, dan kehidupan yang ditempa dari hari ke hari.

banner 325x300

Pendidikan dasarnya ditempuh di Bandung, dimulai dari Sekolah Dasar (1957–1963), lalu melanjutkan ke SMP hingga 1967, dan kemudian menapaki pendidikan STM Elektro sampai tahun 1970. Namun, jauh sebelum ijazah menjadi tujuan, jiwa Endang telah lebih dahulu menemukan panggilannya.

Awal Jejak Silat dan Laku Hidup

Pada tahun 1965, saat usianya masih belia, Endang mulai menapaki jalan silat di Paguron Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka, berlokasi di Pelindung Hewan Tegallega, Bandung. Di bawah bimbingan Bapak Ajid Hidayat, ia tak hanya mempelajari jurus, tetapi juga filosofi, tata krama, dan kesadaran diri. Silat baginya bukan sekadar bela diri—melainkan jalan hidup.

Perkembangannya begitu pesat. Pada tahun 1970, Endang Hartono mulai mengembangkan ajaran Gadjah Putih secara mandiri, membuka ruang pembelajaran dan memiliki murid-murid pertama di sektor Jamika, Bandung. Di sinilah benih pengabdian mulai berbuah.

Brown Illustration Eternal Romance Book Cover – 2

Pengembaraan Guru dan Penyempurnaan Ilmu

Haus akan kesempurnaan ilmu, Endang tak berhenti berguru.
Pada tahun 1976, ia menimba pengetahuan kepada Mama Haji Ali di Cigondewa. Perjalanan berlanjut ke Cimindi, Cigugur, berguru kepada Abah Kodir, sosok yang dikenal luas dengan jurus Keupeung—jurus yang memperkaya kedalaman teknik dan rasa.

Penyempurnaan ajaran Gadjah Putih membawanya ke Samarang, Garut, berguru langsung kepada KH. Adji Djaenudin, pendiri aliran Gadjah Putih. Saat itu, pengajaran ditangani oleh Hasan Mustopa (Enci), yang menjadi saksi kesungguhan Endang dalam menjaga kemurnian ajaran.

Namun, salah satu bab terpenting dalam hidupnya terjadi jauh dari hiruk pikuk kota.

Baduy: Laku Sunyi yang Mengukir Nama

Pada tahun 1969, Endang Hartono memasuki wilayah Baduy, diantar oleh Ibu Oon dan Mama Panjul Cimande. Di sana, ia berguru kepada Aki Hasan dan Aki Jarsah, tepatnya di Dusun Kadu Ketug, Desa Kanekes.

Selama tujuh bulan setiap masa berguru—dan diulang hingga 11 kali dalam kurun 4 tahun—Endang menjalani laku sunyi, disiplin, dan ketundukan pada alam serta adat. Dari sanalah namanya melekat kuat hingga kini:
Endang Baduy.

Nama itu bukan gelar, melainkan jejak pengabdian.

Kehidupan Keluarga

Dalam kehidupan pribadi, Endang Hartono menikah pada tahun 1970, namun hingga 1974 belum dikaruniai keturunan. Takdir kembali menuntunnya pada tahun 1978, saat ia menikah dengan Yati Karyati. Dari pernikahan ini, lahirlah dua anak:
Bayu Kuswara dan Banyu Ria Yulianti, penerus darah dan doa.

Warisan yang Ditegakkan

Pada tahun 1995, Endang Baduy mendirikan kembali Paguron Gadjah Putih Tandang Makalangan, sebagai wadah resmi pengembangan ajaran, etika, dan nilai luhur silat.

Puncak pengakuan formal datang pada tahun 2020, ketika Gadjah Putih Tandang Makalangan didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia dalam bentuk Yayasan Gadjah Putih Tandang Makalangan—sebuah tonggak yang menandai peralihan dari tradisi lisan menuju warisan yang terjaga secara hukum.


Penutup

Endang Hartono—atau Endang Baduy—adalah kisah tentang kesetiaan pada jalan, tentang ilmu yang dirawat dengan rendah hati, dan tentang warisan yang dijaga bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk generasi yang akan datang.

Ia bukan sekadar pendekar,
melainkan penjaga nilai, laku, dan sejarah.

Laku Spiritual dan Falsafah Silat Endang Baduy

Bagi Endang Baduy, silat tidak pernah dimaknai sebagai seni untuk menang, apalagi untuk menyombongkan diri. Silat adalah laku batin, jalan sunyi untuk mengenal diri, alam, dan Sang Pencipta. Setiap jurus bukan sekadar gerak tubuh, melainkan doa yang bergerak, napas yang diselaraskan dengan kesadaran.

Sejak awal berguru di Gadjah Putih, Endang telah diajarkan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kerasnya pukulan, tetapi pada kemampuan menahan diri. Ia meyakini bahwa pendekar sejati adalah orang yang mampu mengalahkan amarahnya sendiri, menjaga ucapannya, dan berlaku adil meski memiliki kemampuan untuk menyakiti.

Silat sebagai Jalan Kesadaran

Dalam ajaran yang ia rawat, tubuh, rasa, dan pikiran harus berjalan seiring.
Gerak tanpa rasa adalah kosong.
Rasa tanpa adab adalah liar.
Adab tanpa kesadaran hanyalah simbol.

Karena itu, latihan silat selalu dimulai dengan penataan batin. Diam, hening, dan kesadaran napas menjadi pintu awal sebelum tubuh bergerak. Endang Baduy percaya bahwa hening adalah guru pertama, dan dari hening itulah lahir kepekaan membaca gerak lawan, membaca tanda alam, dan membaca diri sendiri.

Warisan Baduy: Kesederhanaan dan Keteguhan

Laku spiritualnya semakin diperdalam selama bertahun-tahun berguru di Tanah Baduy. Di sana, ia belajar bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan penjaga keseimbangan. Baduy mengajarkannya untuk hidup secukupnya, berkata seperlunya, dan bertindak seperlunya.

Nilai itu kemudian melekat kuat dalam ajaran Gadjah Putih Tandang Makalangan:
kuat tanpa keras, berani tanpa beringas, tegas tanpa merendahkan.

Endang Baduy memandang jurus bukan sebagai alat menyerang, melainkan cara menyelaraskan diri dengan irama kehidupan. Setiap langkah kaki mengandung makna pijakan hidup; setiap tangkisan adalah pelajaran menerima; dan setiap elakan adalah kebijaksanaan untuk tidak selalu melawan.

Makna “Tandang Makalangan”

“Tandang” bermakna melangkah dengan kesadaran, berani hadir di tengah persoalan.
“Makalangan” berarti berada di tengah gelanggang kehidupan—tidak lari, tidak sombong, dan tidak gentar.

Falsafah ini mengajarkan bahwa pendekar sejati tidak mencari musuh, tetapi siap bila kebenaran harus dibela. Silat bukan untuk dipamerkan di gelanggang semata, melainkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari: dalam kejujuran bekerja, kesabaran membimbing murid, dan kerendahan hati saat dipuji.

Guru sebagai Penjaga Amanah

Dalam pandangan Endang Baduy, seorang guru silat bukan pemilik ilmu, melainkan penjaga amanah. Ilmu tidak diwariskan kepada yang kuat tubuhnya, tetapi kepada yang kuat hatinya. Murid diajarkan untuk menghormati orang tua, menjaga lisan, tidak menyalahgunakan kemampuan, dan selalu mengingat asal-usul ilmu.

Karena itu, setiap latihan bukan sekadar pengulangan jurus, tetapi pengingat nilai:
bahwa hidup harus seimbang antara lahir dan batin, antara keberanian dan kebijaksanaan.

Penutup Spiritual

Hingga hari ini, Endang Baduy meyakini satu hal sederhana namun mendalam:
silat akan tetap hidup selama dijaga dengan niat yang lurus.

Baginya, Gadjah Putih Tandang Makalangan bukan sekadar perguruan, melainkan jalan pengabdian, tempat nilai-nilai leluhur bertemu dengan tanggung jawab masa depan.

Dan selama masih ada murid yang berlatih dengan adab,
selama jurus diajarkan dengan hati,
selama ilmu dijaga dari kesombongan—
roh silat itu akan tetap hidup.

{BAYU}

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *