banner 728x250
Batam  

Dari Sajadah ke Mimbar Akademik: Sebuah Perjalanan Ilmu dan Syukur

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.

Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau

banner 325x300

Dalam setiap sujud yang khusyuk, saya selalu menemukan kembali jejak perjalanan panjang yang telah dilalui. Sajadah menjadi ruang refleksi, tempat ingatan menyusun kembali serpihan perjuangan yang dahulu terasa berat, tetapi kini menghadirkan rasa syukur yang mendalam. Perjalanan akademik bukanlah lintasan yang lurus dan mudah. Ia adalah jalan berliku yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keyakinan yang kokoh.
Strata satu adalah fase perkenalan dengan cakrawala ilmu. Di sana, saya belajar membangun fondasi berpikir, menata logika, dan memahami hakikat pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Setiap buku yang dibaca dan setiap diskusi yang diikuti membentuk kesadaran bahwa ilmu bukan sekadar akumulasi pengetahuan, melainkan sarana membangun peradaban.

Memasuki strata dua, kedalaman analisis menjadi tuntutan. Tidak lagi cukup memahami, tetapi harus mampu mengkritisi dan merekonstruksi gagasan. Dunia penelitian membuka cakrawala baru bahwa setiap fenomena memiliki dimensi yang perlu ditelaah secara metodologis dan bertanggung jawab. Di fase ini, saya belajar bahwa ketekunan adalah kunci, dan integritas ilmiah adalah harga diri seorang akademisi.

Perjalanan menuju strata tiga menjadi puncak pergulatan intelektual sekaligus spiritual. Disertasi bukan hanya karya tulis ilmiah, tetapi simbol komitmen terhadap kebenaran akademik. Ia menuntut ketelitian, kesabaran, dan keberanian untuk mempertahankan argumentasi di hadapan forum ilmiah. Dalam proses itu, tidak sedikit ujian yang menguji mental dan ketahanan diri. Namun justru di situlah makna perjuangan menemukan kedalamannya.

Dengan penuh rasa syukur, saya telah menyelesaikan studi doktoral di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Gelar doktor yang kini tersemat bukanlah sekadar pencapaian personal, melainkan amanah akademik dan moral. Ia adalah panggilan untuk terus mengembangkan ilmu bahasa Indonesia sebagai pilar identitas bangsa dan sebagai medium pembentukan karakter generasi.

Sebagai Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau, saya meyakini bahwa pendidikan bahasa memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang beradab. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga instrumen kebudayaan dan wahana nilai. Melalui bahasa, kita menanamkan etika, merawat tradisi, dan membangun imajinasi kolektif.
Kini, setiap sujud menghadirkan kesadaran baru: bahwa perjalanan akademik tidak berhenti pada gelar. Ia justru membuka ruang pengabdian yang lebih luas. Ilmu yang diperoleh harus diterjemahkan menjadi karya, penelitian, pembinaan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Gelar doktor adalah titik awal untuk bekerja lebih tekun, berpikir lebih tajam, dan bersikap lebih rendah hati.

Pada akhirnya, seluruh perjalanan ini adalah dialog antara usaha manusia dan pertolongan Tuhan. Tanpa doa, perjuangan terasa hampa. Tanpa kerja keras, doa kehilangan maknanya. Dalam pertemuan keduanya, lahirlah keberhasilan yang patut disyukuri.

Dari sajadah ke mimbar akademik, perjalanan ini mengajarkan satu hal penting: semakin tinggi ilmu diraih, semakin dalam pula kerendahan hati harus ditanamkan. Karena hakikat ilmu bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk menerangi dan mengabdi.

Red

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *