Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau
Dalam setiap langkah yang kita pijak di bumi ini, tersembunyi pelajaran yang sering luput dari perhatian. Tanah, yang sehari-hari kita injak tanpa sadar, sesungguhnya berbicara melalui bahasanya yang sunyi namun penuh makna. Ia tak pernah bersuara ketika diinjak, tak pernah menuntut penghormatan, dan tidak pernah marah saat dibebani oleh kaki yang lalai atau langkah yang sembrono. Diamnya tanah bukanlah tanda kelemahan, melainkan simbol kekuatan yang paling murni—kekuatan yang tidak membutuhkan sorak sorai atau pujian untuk membuktikan keberadaannya. Ia hadir sebagai pengingat bahwa dalam kesederhanaan tersimpan kebijaksanaan yang tak tergantikan oleh gemerlap dunia.
Bahasa tanah mengajarkan kita tentang kesabaran yang mendalam. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan tentang memaksa segalanya sesuai kehendak diri, melainkan tentang menerima kenyataan dengan bijak sambil tetap menapaki jalan dengan penuh kehati-hatian. Setiap pijakan, setiap jejak, tidak hilang sia-sia; tanah menyerap, mencatat, dan menyimpan semuanya dalam diamnya. Ada kekuatan dalam diam yang tak terlihat, sama seperti keteguhan moral yang tidak selalu tampak di permukaan. Ia mengajarkan bahwa kesabaran bukanlah pasif, tetapi aktif: menahan diri dari reaksi yang terburu-buru, memilih untuk tetap tegak meski tersakiti, dan memahami bahwa setiap tindakan akan kembali pada diri sendiri pada waktunya.
Lebih dari itu, bahasa tanah juga mengajarkan tentang keadilan dan keseimbangan alam. Ia menunjukkan bahwa segala sesuatu yang dibangun dengan kesombongan atau ketidaksadaran akan kembali ditata oleh alam sesuai hukum yang berlaku. Tanah tidak membalas dengan kemarahan, namun hukum alamnya pasti: siapa yang sombong akan kembali menjadi bagian dari bumi yang sama, dan siapa yang rendah hati akan menemukan perlindungan di pangkuannya. Dengan demikian, tanah menjadi cermin kehidupan yang mengajarkan kita tentang batas diri, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa manusia hanyalah tamu sementara di atas bumi.
Dalam konteks sosial dan kebangsaan, pesan bahasa tanah menjadi relevan untuk menata hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan. Masyarakat yang mampu bersabar, menahan diri dari amarah, dan tetap menjaga martabatnya meski diuji adalah masyarakat yang dewasa. Ia belajar bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak melalui dominasi atau suara yang lantang, tetapi melalui pengendalian diri, integritas, dan kemampuan untuk tetap rendah hati dalam menghadapi dinamika kehidupan. Tanah mengingatkan kita bahwa setiap langkah, setiap keputusan, memiliki konsekuensi, dan pada akhirnya kita akan kembali pada tempat asal yang sama.
Sebagai pendidik dan pengajar bahasa serta sastra, saya meyakini bahwa pembelajaran tertinggi tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga melalui refleksi terhadap realitas yang kita alami sehari-hari. Tanah mengajarkan tentang ritme alam, tentang keseimbangan antara diam dan gerak, antara sabar dan tegas, antara kerendahan dan martabat. Jika nilai-nilai ini tertanam dalam karakter individu, keluarga, dan masyarakat, maka kehidupan sosial akan lebih harmonis, lebih manusiawi, dan lebih bermartabat. Bahasa tanah mengingatkan kita bahwa setiap tindakan membawa pesan, dan setiap jejak meninggalkan sejarah yang tak terhapus oleh waktu.
Belajar dari bahasa tanah berarti memahami bahwa hidup memiliki siklus yang tak bisa dipaksakan. Ia mengajarkan bahwa keteguhan dan kesabaran lebih berharga daripada kemarahan dan kesombongan. Ia mengingatkan bahwa manusia yang bijak bukan hanya yang mampu berdiri tegak, tetapi juga yang siap kembali dengan damai ke pangkuan bumi yang sama, menghormati proses alam yang telah berlangsung jauh sebelum kita lahir dan akan terus berjalan meski kita tiada. Dalam diamnya, tanah berbicara; dalam keteguhannya, ia mendidik; dan dalam kesederhanaannya, ia menyingkapkan kebijaksanaan yang melampaui kata-kata, menuntun kita untuk hidup dengan hati yang rendah, jiwa yang tenang, dan langkah yang bermakna.
Belajar dari bahasa tanah bukan sekadar belajar bersabar, tetapi belajar menempatkan diri dalam harmoni yang sejati dengan alam, sesama manusia, dan waktu itu sendiri. Tanah adalah guru yang sunyi, namun ajarannya tak lekang oleh zaman.















