banner 728x250
Batam  

Batam Kampung Kita: Merawat Rumah Bersama dengan Kesadaran Sejarah dan Kearifan Lokal

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.

Batam kerap disebut sebagai rumah bersama. Sebuah ungkapan yang indah, inklusif, dan mencerminkan realitas sosiologis kota ini sebagai ruang pertemuan berbagai suku, agama, budaya, dan latar belakang. Namun, di balik narasi “rumah bersama” itu, ada satu kesadaran penting yang tidak boleh diabaikan: sebelum menjadi rumah bersama, Batam telah lebih dahulu dibangun oleh mereka yang pertama menjejakkan kaki, membuka lahan, mendirikan rumah, dan membentuk kampung-kampung tua yang menjadi akar sejarah kota ini.

banner 325x300

Dalam setiap kampung, selalu ada orang-orang pertama yang memulai kehidupan. Mereka bukan sekadar penghuni awal, melainkan perintis peradaban lokal. Kampung-kampung tua di Batam menjadi saksi bahwa ruang ini tidak hadir dalam kekosongan sejarah. Ada nilai, adat, dan kearifan lokal yang telah hidup dan diwariskan jauh sebelum Batam tumbuh menjadi kota industri dan perdagangan yang modern. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi fondasi moral dalam membangun kebersamaan hari ini.

Sebagai kota tujuan migrasi, Batam menerima siapa pun yang datang dengan niat baik untuk bekerja, berusaha, dan berkontribusi. Di sinilah makna rumah bersama menemukan relevansinya. Rumah bersama bukan berarti meniadakan sejarah, apalagi menghapus identitas mereka yang lebih dahulu ada. Sebaliknya, rumah bersama justru menuntut sikap saling menghormati, di mana pendatang dan masyarakat tempatan berjalan seiring, saling memahami posisi dan perannya masing-masing.

Semboyan “Batam Kampung Kita” yang disepakati bersama oleh Lembaga Adat Melayu Kota Batam, seluruh pengurus, ormas, dan paguyuban yang ada di Batam, merupakan pernyataan sikap yang sangat visioner. Semboyan ini menegaskan bahwa Batam adalah kampung dalam makna kultural: ruang hidup bersama yang harus dijaga, dirawat, dan dilindungi. Kampung adalah tempat bertautnya nilai kekeluargaan, gotong royong, dan rasa memiliki. Ketika Batam dipahami sebagai kampung kita, maka setiap bentuk konflik, provokasi, dan perpecahan sejatinya adalah ancaman terhadap rumah kita sendiri.

Menjaga Batam agar tetap aman, damai, dan sejahtera bukan hanya tugas pemerintah atau aparat keamanan. Tanggung jawab itu melekat pada seluruh elemen masyarakat. Kedamaian sosial tidak lahir dari slogan semata, tetapi dari kesediaan untuk menahan ego kelompok, menghormati perbedaan, dan menyelesaikan persoalan dengan musyawarah. Dalam konteks inilah persatuan dalam keragaman menemukan maknanya yang paling nyata.

Semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika, sejalan dengan falsafah Melayu yang telah lama hidup, yakni “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Falsafah ini mengajarkan etika sosial yang luhur: setiap orang yang hidup di suatu tempat wajib menghormati adat, norma, dan nilai setempat. Prinsip ini bukan untuk membatasi, melainkan untuk menciptakan harmoni agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber konflik.

Membangun Batam sebagai bandar madani menuntut lebih dari sekadar kemajuan fisik dan ekonomi. Bandar madani adalah kota yang beradab, menjunjung nilai kemanusiaan, keadilan, dan kearifan lokal. Pembangunan yang mengabaikan dimensi budaya dan sejarah hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh. Sebaliknya, pembangunan yang berpijak pada kesadaran sejarah dan nilai lokal akan melahirkan kota yang kuat secara sosial dan bermartabat secara moral.

Batam adalah milik kita bersama, tetapi ia juga memiliki akar yang harus dihormati. Dengan kesadaran itulah semboyan “Batam Kampung Kita” menjadi ajakan moral untuk merawat kebersamaan, menjaga kedamaian, dan menatap masa depan tanpa tercerabut dari jati diri. Jika seluruh elemen masyarakat bersatu dalam semangat ini, maka Batam tidak hanya akan tumbuh sebagai kota maju, tetapi juga sebagai rumah besar yang aman, damai, dan sejahtera bagi semua.

Redaksi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *