banner 728x250
Batam  

Amanah Zaman dan Wasiat Dakwah

banner 120x600
banner 468x60

Oleh : Dr. Nursalim Tinggi, S.Pd., M.Pd.
Ketua Pendiri Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, wasiat ini kutitipkan sebagai amanah lintas zaman kepada seluruh keluarga besar Dewan Dakwah Indonesia Turatea—para muballigh, pengurus, kader muda, serta generasi yang kelak memikul estafet dakwah di tanah Turatea, Kabupaten Jeneponto. Wasiat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ikatan batin, pesan tanggung jawab, dan pengingat arah agar langkah dakwah tidak kehilangan tujuan.

banner 325x300

Dewan Dakwah Indonesia Turatea tidak lahir dari gemerlap kekuasaan, tidak pula tumbuh dari kenyamanan fasilitas. Ia lahir dari kegelisahan iman dan kejujuran nurani para muballigh yang dahulu berhimpun dalam kesederhanaan, hanya dari tujuh masjid yang menyatukan tekad dan harapan. Dari kesederhanaan itulah, pada 13 Februari 2002, Dewan Dakwah Indonesia Turatea berdiri sebagai ikhtiar kolektif untuk menjaga cahaya Islam tetap menyala di tengah masyarakat. Karena itu, jangan pernah melupakan akar sejarahnya. Sejarah bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk diingat agar organisasi ini tidak tercerabut dari nilai awal yang melahirkannya. Siapa yang lupa akar, akan mudah goyah ketika badai zaman datang silih berganti.

Amanah terpenting yang kutitipkan adalah kelurusan niat. Dakwah bukan ruang transaksi, bukan pula tempat berhitung untung dan rugi duniawi. Dakwah adalah pengabdian, dan pengabdian menuntut keikhlasan. Jangan biarkan Dewan Dakwah menjadi tempat menggantungkan harapan hidup, jabatan, atau pengaruh. Jadikan ia tempat menghidupkan nilai, menumbuhkan kesadaran umat, dan mempersembahkan diri sepenuhnya untuk Allah. Sebagaimana pesan moral KH. Ahmad Dahlan yang selalu relevan lintas zaman: hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Maka kutitipkan pesan itu kepada Dewan Dakwah Indonesia Turatea: hidup-hidupilah Dewan Dakwah, jangan mencari hidup di dalamnya. Inilah etika dakwah yang jika dijaga, akan menyelamatkan organisasi dari keretakan batin dan kemunduran ruhani.

Jagalah marwah Dewan Dakwah Indonesia Turatea lebih tinggi daripada menjaga nama pribadi atau kelompok. Marwah tidak lahir dari jabatan struktural, tetapi dari akhlak para pengembannya. Jangan biarkan perbedaan pendapat berubah menjadi perpecahan. Jangan biarkan ambisi pribadi merusak kepercayaan umat. Seorang muballigh boleh berbeda cara pandang, tetapi tidak boleh kehilangan adab. Dalam dakwah, kelembutan sering kali lebih menggerakkan daripada kemarahan, dan keteladanan jauh lebih berpengaruh daripada teriakan. Umat tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi juga menilai bagaimana kita bersikap.

Wasiat ini juga kutujukan agar setiap muballigh Dewan Dakwah Indonesia Turatea menjadi pribadi yang terus belajar. Jangan merasa cukup dengan ilmu yang telah dimiliki. Zaman berubah, persoalan umat semakin kompleks, dan tantangan dakwah semakin berlapis. Namun perubahan zaman tidak boleh membuat kita tercerabut dari nilai. Pegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah, pahami realitas sosial Turatea dengan jernih, dan sampaikan dakwah dengan hikmah serta kebijaksanaan. Dakwah yang menyejukkan lahir dari ilmu yang mendalam dan hati yang rendah, bukan dari sikap merasa paling benar.

Rawatlah organisasi ini dengan kesabaran, kejujuran, dan kelapangan dada. Jangan jadikan Dewan Dakwah sebagai alat konflik politik, kepentingan sempit, atau persaingan yang tidak sehat. Biarlah ia tetap menjadi rumah dakwah yang teduh, tempat umat menemukan ketenangan, dan tempat para muballigh saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Jika ada kekeliruan, luruskan dengan musyawarah. Jika ada perbedaan, selesaikan dengan kebijaksanaan. Sebab organisasi dakwah yang besar bukan yang bebas dari masalah, tetapi yang mampu menyelesaikan masalah dengan akhlak.

Kepada para muballigh muda, wasiat ini kusampaikan dengan penuh harap. Hormatilah para pendahulu, karena dari merekalah fondasi ini dibangun. Namun jangan berhenti berinovasi. Ambillah nilai perjuangan mereka, bukan sekadar romantisme masa lalu. Jadilah generasi yang berani melangkah ke depan, tetapi tetap berpijak pada adab, etika, dan kebijaksanaan. Semangat muda adalah kekuatan, tetapi tanpa tuntunan nilai, ia bisa kehilangan arah.

Aku mungkin tidak selalu hadir secara fisik di tengah-tengah perjuangan dakwah ini. Namun ketahuilah, Dewan Dakwah Indonesia Turatea senantiasa hadir dalam doa, dalam desah napas, dan dalam harapan hidupku. Harapanku sederhana namun mendalam: semoga organisasi ini tetap tegak bukan karena kuatnya struktur, tetapi karena kokohnya nilai; tetap hidup bukan karena banyaknya anggota, tetapi karena luasnya manfaat bagi umat.

Jika suatu hari namaku dilupakan, itu bukan persoalan. Tetapi jangan biarkan nilai dakwah ini memudar. Selama Dewan Dakwah Indonesia Turatea terus menyeru kepada kebaikan, menjaga persatuan umat, dan berdiri di atas keikhlasan, maka di situlah amal jariyah para pendiri akan terus mengalir tanpa henti.

Inilah amanah dan wasiat moral ini kutitipkan. Jagalah ia dengan iman, rawatlah ia dengan akhlak, dan hidupkanlah ia dengan pengabdian. Semoga Allah meridai setiap langkah dakwah kita dan menjadikan Dewan Dakwah Indonesia Turatea sebagai cahaya yang menuntun umat hari ini, esok, dan sepanjang masa.

( redaksi )

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *