Oleh: Achmad Abu Syahid, Anggota PMB Batam Kota
Menjadi mubalig bukan sekadar menjalankan profesi menyampaikan ceramah, melainkan memikul amanah moral yang berat di hadapan Allah dan masyarakat. Di tengah dinamika Kota Batam yang terus bertumbuh sebagai pusat ekonomi dan perlintasan budaya, peran mubalig semakin strategis. Umat tidak hanya membutuhkan suara yang lantang di atas mimbar, tetapi juga keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, setiap mubalig harus menyiapkan diri menjadi pribadi yang tulus dan berintegritas, agar layak menjadi tauladan bagi masyarakat Batam.
Ketulusan adalah fondasi utama dakwah. Ia bukan sesuatu yang tampak di permukaan, melainkan kekuatan batin yang menggerakkan setiap kata dan tindakan. Dakwah yang lahir dari hati yang ikhlas akan menyentuh hati pula. Sebaliknya, dakwah yang digerakkan oleh kepentingan pribadi atau ambisi duniawi akan kehilangan ruhnya. Masyarakat hari ini semakin kritis dan cerdas; mereka mampu merasakan mana pesan yang lahir dari kejujuran hati dan mana yang sekadar retorika.
Integritas adalah pilar kedua yang tidak kalah penting. Integritas berarti kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Seorang mubalig harus menjadi contoh dalam kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesederhanaan. Tidak cukup hanya menyeru kepada kebaikan, tetapi juga harus menghadirkan kebaikan itu dalam sikap hidupnya. Ketika mubalig menjaga komitmen, tepat waktu, bersikap adil, serta menjauhi hal-hal yang merusak kepercayaan publik, maka dakwahnya akan memiliki wibawa dan kekuatan moral.
Batam sebagai kota yang majemuk memerlukan sosok mubalig yang mampu merangkul, bukan memecah. Dakwah harus menjadi jembatan persaudaraan, bukan sumber perbedaan yang dipertajam. Dalam konteks sosial yang beragam, mubalig dituntut memiliki kebijaksanaan, keluasan wawasan, dan kemampuan membaca situasi masyarakat. Kata-kata yang menyejukkan, sikap yang santun, serta penghormatan terhadap perbedaan adalah bagian dari integritas dakwah itu sendiri.
Menjadi tauladan juga berarti siap hadir di tengah masyarakat, tidak hanya saat diundang berceramah, tetapi juga dalam berbagai persoalan sosial. Mubalig hendaknya peka terhadap problematika umat: persoalan keluarga, generasi muda, moralitas, hingga tantangan ekonomi dan budaya. Kehadiran mubalig yang empatik dan solutif akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap peran dakwah.
Saya mengajak para mubalig di Batam untuk terus memperbaiki kualitas diri melalui pembelajaran yang berkelanjutan. Dunia berubah, tantangan semakin kompleks, dan generasi muda memiliki cara berpikir yang berbeda. Dakwah harus mampu menjawab persoalan zaman tanpa kehilangan prinsip dasar ajaran Islam.Penguasaan ilmu agama yang mendalam perlu disertai pemahaman sosial yang luas, agar pesan yang disampaikan tetap relevan dan membumi.
Pada akhirnya, menjadi mubalig adalah perjalanan panjang membina diri. Ketulusan dan integritas bukanlah capaian sesaat, melainkan proses yang terus diperjuangkan. Jika setiap mubalig menata niatnya dengan benar dan menjaga komitmennya dengan sungguh-sungguh, maka mereka akan menjadi cahaya bagi masyarakat Batam—cahaya yang menuntun, menguatkan, dan meneduhkan.
Semoga para mubalig di Kota Batam senantiasa diberikan kekuatan untuk menjaga amanah ini. Jadilah pribadi yang tulus, berintegritas, dan layak menjadi tauladan. Sebab dari keteladanan itulah lahir masyarakat yang berakhlak, harmonis, dan bermartabat.
Red

















