Di tengah arus kehidupan yang kian deras, sering kali kita lupa bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya pengaruh, melainkan pada kelapangan hati dalam bersyukur dan keluasan jiwa dalam bersabar. Dua kata ini—syukur dan sabar—bukan sekadar ungkapan indah yang mudah diucapkan, tetapi nilai luhur yang menjadi fondasi kokoh dalam membangun peradaban yang bermartabat.
Bersyukur itu nikmat. Nikmat bukan karena apa yang kita miliki semata, tetapi karena kesadaran bahwa setiap yang Allah titipkan kepada kita adalah amanah. Syukur melahirkan ketenangan batin. Ia menumbuhkan rasa cukup dalam kekurangan, dan rasa rendah hati dalam kelimpahan. Orang yang bersyukur tidak mudah gelisah oleh perbandingan sosial, tidak mudah iri oleh keberhasilan orang lain, dan tidak mudah putus asa oleh keterbatasan diri. Syukur adalah energi spiritual yang membebaskan manusia dari belenggu ambisi yang tak bertepi.
Sebaliknya, sabar itu indah. Keindahannya bukan karena ia mudah dijalani, tetapi karena ia menempa jiwa menjadi kuat dan matang. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan keteguhan hati dalam menghadapi ujian, konsistensi dalam perjuangan, dan kelapangan dada dalam menerima takdir. Sabar menjadikan seseorang tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan tidak mudah terprovokasi oleh keadaan. Dalam sabar ada ketegasan, dalam sabar ada keberanian, dan dalam sabar ada keyakinan bahwa setiap kesulitan menyimpan hikmah.
Hari ini, ketika kita melangkah menjalani aktivitas, sesungguhnya kita sedang menulis sejarah kecil dalam kehidupan kita masing-masing. Doa agar Allah memudahkan segala urusan bukanlah sekadar rutinitas lisan, tetapi pengakuan tulus bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kita merencanakan, tetapi Allah yang menentukan. Kita berusaha, tetapi Allah yang memudahkan. Ketika setiap pekerjaan diniatkan sebagai ibadah, maka sekecil apa pun aktivitas itu akan bernilai besar di sisi-Nya.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, khususnya di tengah keluarga besar Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Provinsi Kepulauan Riau, nilai syukur dan sabar menjadi pilar yang menyatukan. Rasa syukur atas keberagaman latar belakang, profesi, dan pandangan membuat kita mampu berdiri dalam harmoni. Sementara kesabaran dalam menghadapi perbedaan menjadikan kita dewasa dalam bersikap. Organisasi bukan hanya ruang berkumpul, tetapi wadah pembinaan akhlak dan penguatan solidaritas.
Sebagai bagian dari masyarakat Kepulauan Riau yang majemuk, kita memikul tanggung jawab moral untuk menghadirkan keteladanan. Keteladanan dalam bekerja dengan jujur, dalam berinteraksi dengan santun, dan dalam memimpin dengan amanah. Jika syukur menjadi napas keseharian dan sabar menjadi karakter perjuangan, maka insyaAllah setiap langkah kita akan bernilai ibadah.
Semoga hari ini dan hari-hari yang akan datang, Allah memudahkan segala urusan kita. Semoga apa yang kita kerjakan, sekecil apa pun, tercatat sebagai amal saleh. Dan semoga hati kita senantiasa terjaga dalam syukur saat lapang dan dalam sabar saat sempit.
Red

















