Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau
Aku telah lama meninggalkan kampung, tetapi kampung tidak pernah benar-benar pergi dari ingatanku. Setiap desir angin yang melintas, setiap senyap yang tiba-tiba hadir, selalu membawaku pulang ke Balangpasui, sebuah lingkungan kecil di Karang Puang, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, yang terletak di kaki Gunung Lompobattang. Di sanalah aku mulai melihat dunia, bukan hanya dengan mata, tetapi dengan hati yang perlahan dibentuk oleh alam dan manusia.
Balangpasui tumbuh dalam kesunyian yang ramah. Perbukitan memeluk kampung seperti orang tua yang setia menjaga anaknya, sementara ladang jagung menguning setiap kali musim panen datang. Rumah-rumah panggung berdiri kokoh dari masa ke masa, menjadi penanda jati diri dan ingatan kolektif. Di kolong rumah, anak-anak bermain tanpa alas kaki, sementara di beranda, orang-orang tua duduk menunggu senja sambil bertukar cerita.
Di antara anak-anak itu, ada sepasang kembar yang selalu mencuri perhatian. Warga memanggil mereka si anker, anak kembar yang ke mana-mana selalu bersama. Mereka sering terlihat paling depan dalam perayaan Maudu, berlarian membawa keceriaan, dan paling basah kuyup saat Jene jene Sappara. Air seolah menjadi sahabat mereka, tawa mereka menyatu dengan percikannya. Suara mereka pula yang kerap terdengar dalam assipere, tradisi berbalas nyanyian dari satu rumah ke rumah lainnya ketika panen jagung tiba.
Salah satu dari anak kembar itu adalah aku, Nursalim, anak dari Ustadz Sandi, seorang guru agama yang kemudian memasuki masa pensiun, sekaligus petani yang setia mengolah tanah. Dari ayah, aku belajar tentang iman dan kesabaran. Dari ladang, aku belajar tentang kerja keras dan keikhlasan. Ayah tidak pernah mengajarkan cita-cita dengan kata-kata besar, tetapi melalui teladan hidup yang sederhana dan jujur.
Tradisi adalah napas Balangpasui. Maudu mengajarkan makna syukur dan kebersamaan. Jene jene Sappara menegaskan bahwa air adalah sumber kehidupan sekaligus perekat sosial. Assipere mengajarkan bahwa kata-kata yang dinyanyikan bersama mampu menguatkan ikatan. Semua itu membentuk kesadaranku sejak kecil, jauh sebelum aku mengenal bangku kuliah dan dunia akademik.
Namun Balangpasui juga akrab dengan kesulitan, terutama dalam urusan air. Dahulu, air adalah perjalanan panjang yang melelahkan. Untuk setimba air, warga harus berjalan jauh menuju Bungung Tangnga Balang, Bungung Concoro, Bungung Koko, Bungung Menteng, Bungung Tangga, dan Bungung Kambutere. Nama-nama itu kini tinggal sebagai penanda ingatan, tempat orang-orang bertemu, menunggu giliran, berbagi cerita, dan belajar bersabar.
Aku masih mengingat jeriken yang terasa lebih berat dari tubuhku sendiri dan langkah kaki yang tertatih di bawah terik matahari. Air menjadi guru yang paling jujur. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu mudah, tetapi selalu mungkin dijalani bersama. Tak seorang pun dibiarkan pulang tanpa air, sebagaimana tak seorang pun dibiarkan tumbuh sendirian.
Waktu bergerak perlahan namun pasti, dan kampung pun berubah. Dengan gotong royong dan keyakinan yang sama, masyarakat Balangpasui menggali mata air dan memanfaatkan sumur bor. Air yang dahulu dikejar kini mengalir ke rumah-rumah. Bungung-bungung lama tidak lagi menjadi tumpuan hidup, tetapi tetap hidup sebagai kenangan kolektif. Dari tanah yang pernah kering, tumbuh kemakmuran yang bertahap namun nyata. Kini Balangpasui dikenal sebagai salah satu kampung yang makmur di wilayah Kecamatan Kelara.
Aku tumbuh, merantau, menempuh pendidikan, hingga akhirnya kembali sebagai seorang doktor dan dosen di Universitas Batam. Namun sejauh apa pun langkahku, Balangpasui tetap menjadi sekolah pertamaku. Bahasa ibu adalah fondasi pikiranku, sastra lisan adalah napas tulisanku, dan nilai kampung adalah kompas hidupku.
Kini, ketika aku berdiri di ruang kelas dan berbicara tentang bahasa, sastra, dan budaya, sesungguhnya aku sedang menceritakan kampungku sendiri. Tentang air yang pernah dicari dengan susah payah, tentang nyanyian yang saling dijawab di musim panen, dan tentang rumah panggung yang tetap berdiri di kaki Lompobattang.
Jarak boleh memisahkan tubuh, tetapi Balangpasui selalu pulang ke dalam diriku.
Selama cerita ini masih dituturkan dan nilai itu masih dijaga, kampung tidak akan pernah hilang. Di sanalah aku mulai melihat dunia, dan dari sanalah aku belajar memahami makna menjadi manusia.
Red

















