sidikfokusnews.com. Batam — Kembali berhembusnya perhatian publik terhadap kasus perobohan Hotel Pura Jaya di Batam mendorong Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau menegaskan kembali sikap kelembagaannya. Ketua I LAM Kepri, Datok Wira Setia Utama Dr. Atmadinata, menegaskan bahwa Maklumat LAM Kepri Nomor 101 tertanggal 21 November 2024 yang memberikan dukungan kepada Megat Rury Afriansyah, Direktur PT Dani Tasya Lestari selaku pemilik Hotel Pura Jaya, merupakan keputusan lembaga yang lahir melalui proses pertimbangan adat yang matang dan tidak bersifat spontan.
Pernyataan tersebut disampaikan Datok Wira Atmadinata saat dimintai tanggapan oleh media, mengingat Maklumat LAM Kepri tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum LAM Kepri Datok Seri Setia Utama H. Abdul Razak dan Sekretaris Umum Datok Wira Setia Laksana Raja Alhafiz, sebagai bentuk dukungan moral dan kelembagaan terhadap upaya pencarian keadilan atas perobohan Hotel Pura Jaya.
Menurut Datok Wira, penerbitan maklumat tersebut telah melalui proses penapisan adat yang berlandaskan nilai-nilai kepatutan Melayu. Ia menegaskan bahwa keputusan itu telah dinilai patut dari berbagai aspek, mulai dari subjek yang dibela, konteks peristiwa, hingga tujuan dan hakikat persoalan yang dihadapi.
“Maklumat LAM Kepri tanggal 21 November 2024 tidak terbit serta-merta. Ia ditapis oleh orang-orang patut, patut pada orangnya, patut pada tempatnya, patut pada maksudnya, patut pada hakikatnya, serta patut untuk disokong dan dibela,” ujar Datok Wira Atmadinata.
Atas dasar pertimbangan tersebut, lanjutnya, secara kelembagaan LAM Kepri sepakat menerbitkan maklumat sebagai bentuk dukungan moral dan semangat juang kepada Megat Rury Afriansyah. Dukungan itu diberikan menyusul perobohan Hotel Pura Jaya yang dinilai dilakukan tanpa adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Datok Wira menilai, tindakan merobohkan Hotel Pura Jaya tanpa dasar putusan mahkamah merupakan perbuatan yang mencederai rasa keadilan dan martabat, terlebih bangunan tersebut merupakan milik masyarakat Melayu yang berdiri di tanah Melayu.
“Oleh sebab itu, LAM Kepri patut membela tindakan semena-mena berupa perataan dengan tanah Hotel Pura Jaya, milik orang Melayu di tanah Melayu,” tegasnya.
Lebih jauh, Datok Wira Atmadinata mengingatkan seluruh jajaran pengurus LAM Kepri agar tetap konsisten dan konsekuen terhadap setiap maklumat dan keputusan yang telah ditetapkan oleh lembaga. Menurutnya, setiap produk kelembagaan LAM Kepri memiliki nilai kesakralan adat yang wajib dijaga dan dipertanggungjawabkan bersama.
“Ia sangat tidak patut apabila ada di antara pengurus LAM Kepri yang kemudian berpaling arah atau bersikap bertentangan dengan kesucian maklumat yang telah diputuskan oleh lembaga,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Datok Wira Atmadinata mengajak seluruh saudara-mara sesama masyarakat Melayu untuk tetap solid dalam menjaga marwah dan kehormatan Melayu, khususnya di negeri sendiri. Ia menekankan pentingnya persatuan dan kewaspadaan agar masyarakat Melayu tidak mudah diadu domba atau terpecah oleh kepentingan tertentu.
“Mari kita kuatkan kehormatan orang Melayu di tanah sendiri. Bersama menjunjung adat, menjulang marwah. Jangan sesekali kita berpecah belah, apalagi diadu untuk dibelah-belah,” kata Datok Wira Atmadinata menutup wawancara.
arf-6

















