banner 728x250
Daerah  

Dari Madinah ke Indonesia: Mengapa Kepemimpinan Islam Gagal Melahirkan Kemenangan?

banner 120x600
banner 468x60

sidikfokusnews. Palembang, Sumatera Selatan — Ketua Utama Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia (MPUII), KH. Moch. Achwan, menegaskan bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan diberikan kepada umat Islam apabila umat itu sendiri belum memenuhi syarat ketaatan, khususnya ketika terjadi penyimpangan dari akidah, syariat, dan manhaj perjuangan Rasulullah ﷺ.

Pernyataan tersebut disampaikan KH. Achwan saat memberikan pencerahan dalam Musyawarah Ulama dan Tokoh Umat (MUTU) se-Sumatra, yang dirangkaikan dengan ikrar anggota MPUII. Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah ulama, tokoh umat, dan akademisi.

banner 325x300

Dalam pemaparannya, KH. Achwan menekankan bahwa perjuangan Rasulullah ﷺ sejak awal tidak pernah dibangun di atas kompromi prinsip, meskipun menghadapi tekanan kuat dari kaum musyrikin Quraisy.

“Rasulullah ﷺ tetap berpegang pada prinsip tauhid. Akidah tidak pernah menjadi objek tawar-menawar, meskipun ada peluang penerimaan dari pihak Quraisy,” ujarnya.

KH. Achwan menilai, tantangan umat Islam saat ini bukan semata-mata soal jumlah atau kekuatan politik, melainkan melemahnya komitmen terhadap prinsip-prinsip dasar agama. Ia menyebut kondisi tersebut berbeda dengan generasi sahabat yang dikenal sangat menjaga kemurnian iman.

Ia juga merujuk sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya Surat Al-Ma’idah ayat 105 dan Surat Ibrahim ayat 13–15, yang menurutnya menegaskan bahwa kekuatan dan kemenangan umat berkaitan erat dengan konsistensi berada di atas petunjuk Allah.

Terkait arah ke depan, KH. Achwan menyampaikan bahwa pembangunan kepemimpinan Islam perlu dimulai dari daerah sebagai fondasi menuju kepemimpinan nasional. Ia mencontohkan Madinah sebagai basis awal pembinaan umat dan kepemimpinan pada masa Rasulullah ﷺ.

“Kepemimpinan tidak lahir secara instan. Ia dibangun melalui proses, dimulai dari figur-figur daerah yang memiliki integritas dan mampu menjadi rujukan umat,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa doa dan harapan kemenangan harus dibarengi dengan ketaatan kolektif, seraya mengutip Surat Al-Anfal ayat 54 dan Surat Al-Baqarah ayat 124, yang menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang diberikan setelah melalui ujian tanggung jawab.

Pengamat sosial-keagamaan Dr. Ahmad Zulkarnain menilai pernyataan KH. Achwan mencerminkan evaluasi internal yang penting bagi umat Islam. Menurutnya, tantangan kepemimpinan umat saat ini lebih bersifat normatif dan etis, bukan semata struktural.

“Konsistensi nilai sering kali menjadi persoalan utama. Ketika nilai-nilai dasar tidak menjadi pijakan, maka kepercayaan dan efektivitas kepemimpinan akan sulit terbangun,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Daniel M. Rasyid, Ph.D,. menekankan bahwa sejarah Madinah menunjukkan pentingnya kesinambungan antara nilai, kepemimpinan, dan tata sosial dalam membangun kekuatan umat.

“Kepemimpinan yang berakar pada nilai dan keteladanan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan dan stabilitas,” katanya.

Forum MUTU se-Sumatra diharapkan menjadi ruang konsolidasi pemikiran dan peran ulama serta tokoh umat dalam merespons tantangan kepemimpinan dan kehidupan berbangsa di Indonesia.

arf-6

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *