banner 728x250

Seandainya Aku Menjadi Presiden: Mimpi-Mimpi Kecil yang Tumbuh di Ruang XI Kesehatan 1 SMA Negeri 28 Batam

banner 120x600
banner 468x60

sidikfokusnews.com. Pukul 13.00 tepat, Kamis siang, 22 Januari 2026, matahari Batam berdiri tegak di atas kepala, memancarkan cahaya yang hangat dan terang. Panas siang itu terasa sampai ke halaman sekolah, namun di ruang XI Kesehatan 1 SMA Negeri 28 Batam suasana justru terasa sejuk dan hidup. Jendela-jendela terbuka lebar, membiarkan angin laut berembus pelan, menyapu ruang kelas yang dipenuhi semangat muda.

Hari itu bukan hari belajar biasa. Tidak ada wajah muram karena ujian, tidak terdengar keluhan tentang tugas yang menumpuk. Seluruh siswa mengenakan seragam olahraga berwarna biru. Warna itu memantul lembut di dinding kelas, seolah menjadi simbol kebersamaan, kebebasan, dan harapan. Tawa ringan dan senyum kecil menyebar, menciptakan suasana ceria yang jarang ditemui pada jam pelajaran siang.

banner 325x300

Guru bahasa Indonesia berdiri di depan kelas dengan nada suara tenang. Ia tidak langsung menjelaskan teori atau aturan menulis yang kaku. Ia hanya menyampaikan satu tugas: menulis sebuah cerpen dengan tema kepemimpinan dan masa depan, berangkat dari imajinasi masing-masing. Intinya sederhana, andai suatu hari mereka menjadi presiden.

Kalimat itu melayang di udara kelas, mengetuk pikiran dan perasaan para siswa.
Beberapa siswa saling menoleh, ada yang tersenyum ragu, ada pula yang langsung menyiapkan pena. Kertas-kertas putih tergeletak di atas meja, menunggu diisi mimpi. Pada detik-detik awal, kelas terasa sunyi. Hanya terdengar bunyi kipas angin dan gesekan pena yang perlahan mulai menari di atas kertas. Di saat itulah imajinasi bekerja, membawa mereka melampaui dinding kelas dan batas usia.

Seorang siswa di barisan depan menulis tentang Indonesia yang ia impikan. Dalam cerpennya, ia membayangkan dirinya menjadi presiden yang menjadikan pendidikan sebagai jalan utama perubahan. Sekolah berdiri merata hingga pelosok negeri, guru hidup sejahtera dan dihormati, serta anak-anak belajar dengan gembira tanpa takut tertinggal hanya karena kemiskinan. Setiap kata yang ia tulis mengalir dari pengalaman dan harapan yang ia simpan diam-diam.

Di sisi lain kelas, seorang siswi menulis dengan penuh perasaan. Ia menggambarkan negeri yang sehat dan manusiawi. Jika ia menjadi presiden, rumah sakit bukan lagi tempat yang menakutkan, melainkan ruang penyembuhan yang ramah. Dokter dan perawat melayani dengan empati, dan negara hadir memastikan setiap warga mendapatkan hak hidup yang layak. Tangannya bergerak cepat, seakan takut mimpinya tak sempat tertuang seluruhnya.

Ada pula siswa yang menulis tentang lingkungan dan keadilan sosial. Dalam cerpennya, laut di sekitar Batam kembali jernih, hutan terjaga, dan pembangunan berjalan selaras dengan alam. Presiden dalam cerita itu bukan pemimpin yang berjarak, melainkan sosok yang turun ke lapangan, mendengar keluhan nelayan, petani, dan buruh kecil. Ia menulis dengan keyakinan bahwa kekuasaan sejati adalah keberpihakan.

Suasana kelas tetap ceria meski dipenuhi keheningan kreatif. Sesekali terdengar tawa kecil ketika ide terasa terlalu besar atau kata-kata sulit dirangkai. Namun tidak ada rasa takut untuk salah. Kelas itu menjadi ruang aman bagi pikiran dan perasaan. Seragam olahraga biru yang mereka kenakan seolah menjadi simbol kebebasan, bahwa setiap anak berhak bermimpi setinggi-tingginya, bahkan tentang memimpin negeri.

Guru mengamati dari kejauhan dengan senyum tipis. Ia tidak banyak memberi arahan. Baginya, pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan, tetapi menumbuhkan keberanian berpikir dan kejujuran hati. Ia sadar, mungkin tak satu pun dari siswa di kelas itu benar-benar akan menjadi presiden. Namun dari cerpen-cerpen itu akan lahir dokter yang berempati, guru yang berdedikasi, pemimpin yang adil, dan warga negara yang peduli.

Ketika waktu hampir habis, beberapa siswa berhenti menulis dan menarik napas panjang. Mereka membaca ulang cerpennya dengan perasaan campur aduk. Ada lega, ada bangga, ada pula harapan yang tumbuh pelan. Di atas kertas-kertas itu tertulis mimpi-mimpi sederhana tentang negeri yang lebih baik, lahir dari ruang kelas biasa di sudut Batam.

Bel tanda akhir pelajaran pun berbunyi. Namun di ruang XI Kesehatan 1 SMA Negeri 28 Batam, sesuatu telah tumbuh. Bukan hanya kumpulan cerpen, melainkan kesadaran bahwa perubahan selalu berawal dari imajinasi. Andai suatu hari mimpi-mimpi itu menemukan jalannya, mungkin bangsa ini akan dipimpin oleh mereka yang pernah belajar bermimpi dengan jujur di bangku sekolah.

Siang itu, pendidikan hadir sebagai cahaya. Ia menyalakan api kecil di dada anak-anak muda. Api yang kelak, dengan waktu dan keberanian, bisa menjelma menjadi terang bagi masa depan negeri.

tim-red

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *