banner 728x250
Daerah  

Refleksi Geopolitik, Spiritualitas, dan Tasawuf: Percakapan Kesadaran di Ruang Grup Kerukunan Keluarga Turatea Jeneponto

banner 120x600
banner 468x60

sidikfokusnews.com – Makassar – Ruang grup Kerukunan Keluarga Turatea Jeneponto terus menunjukkan perannya bukan sekadar sebagai wadah silaturahmi kekeluargaan, melainkan juga sebagai ruang dialog intelektual dan spiritual yang hidup. Di dalam grup ini, berbagai gagasan besar tentang dunia, keumatan, dan nilai-nilai keislaman dibicarakan dengan bahasa yang santun, bernas, dan penuh kesadaran moral.

Percakapan bermakna tersebut tampak dalam rangkaian tulisan reflektif, pandangan keagamaan, serta dialog tasawuf yang mengalir dan saling menguatkan. Diskursus ini memperlihatkan bahwa komunitas keluarga dapat tumbuh menjadi ruang pembelajaran kolektif yang mencerahkan.

banner 325x300

Tulisan reflektif berjudul “Duel Hegemoni Global: Ketegangan Politik Amerika–Iran dan Ambisi Menguasai Timur Tengah” karya Munawir Kamaluddin menjadi salah satu pemantik utama diskusi. Melalui tulisan ini, konflik geopolitik dibaca bukan hanya sebagai pertarungan kepentingan antarnegara, tetapi sebagai cermin krisis nurani peradaban manusia. Timur Tengah dipotret sebagai ruang strategis tempat ambisi, dominasi, dan kepentingan global bertabrakan, sementara nilai kemanusiaan kerap tersisih.

Pendekatan spiritual yang digunakan mengajak anggota grup untuk melihat konflik tersebut sebagai ujian moral global. Ayat-ayat Al-Qur’an dan hikmah para ulama dihadirkan sebagai pengingat bahwa kekuasaan dunia hanyalah amanah, bukan tujuan akhir. Di balik sanksi ekonomi dan pengerahan kekuatan militer, terdapat pertarungan nilai antara keadilan dan dominasi.

Refleksi geopolitik ini kemudian diperkaya dengan pembacaan terhadap posisi Indonesia di tengah dinamika global. Politik luar negeri bebas dan aktif dipahami sebagai jalan yang selaras dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan. Indonesia dipandang memiliki peluang strategis untuk tampil sebagai juru damai dan penyeru dialog, bukan bagian dari politik blok yang sarat kepentingan.

Diskursus di ruang grup Kerukunan Keluarga Turatea Jeneponto semakin mendalam dengan hadirnya tulisan “Sya’ban dan Transformasi Peran: Optimalisasi Impact dan Empowering dalam Pelayanan Umat.” Tulisan ini mengajak anggota grup untuk memaknai bulan Sya’ban sebagai fase persiapan spiritual dan sosial, tempat niat ditata ulang dan peran diperkuat sebelum memasuki Ramadan.

Bulan Sya’ban digambarkan sebagai ruang sunyi yang sering terlewatkan, padahal justru di sanalah fondasi perubahan dibangun. Kesalehan personal diposisikan harus bermuara pada manfaat sosial. Iman, ilmu, dan aksi dipahami sebagai satu kesatuan yang menentukan kualitas kontribusi seseorang di tengah umat.

Percakapan kemudian bergerak ke wilayah yang lebih dalam dengan hadirnya refleksi tasawuf yang disampaikan oleh H. M. Said Amin dari KKT Pusat. Ia menguraikan hakikat diri manusia yang bermula dari ruh, lalu termanifestasi dalam jiwa, nafas, hati, nafsu, iman, dan akal. Pemaparan ini mengingatkan bahwa seluruh aktivitas manusia, baik spiritual maupun sosial, berpangkal pada kesadaran ruhani yang jernih.

Refleksi tersebut mendapat respons dari Bachtiar Adnan Kusuma yang menilai pemikiran tersebut sebagai bentuk tasawuf yang mendalam. Hal ini menegaskan bahwa percakapan di dalam grup tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi menyentuh dimensi batin dan keilmuan Islam yang substansial.

Dukungan terhadap iklim dialog yang sehat dan mencerahkan ini juga datang dari Dr. Nursalim Tinggi, S.Pd., M.Pd., Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, yang turut menjadi anggota aktif dalam grup Kerukunan Keluarga Turatea Jeneponto. Ia menilai bahwa diskursus yang berkembang di dalam grup ini mencerminkan literasi publik yang matang, kritis, namun tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kearifan budaya.

Menurut Dr. Nursalim Tinggi, ruang-ruang diskusi seperti ini sangat penting di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi di media sosial. Percakapan yang mengedepankan refleksi, etika, dan kedalaman spiritual merupakan modal besar dalam membangun kesadaran kolektif umat. Ia juga menekankan bahwa peran komunitas keluarga dalam menjaga nalar sehat dan nilai kemanusiaan tidak kalah penting dibandingkan institusi formal.

Suasana spiritual di dalam grup semakin menguat ketika H. M. Said Amin menyampaikan rasa syukur karena tengah mengikuti pengajian bersama ulama besar Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Ruslan Wahab, Lc., MA. Sosok ulama yang dikenal sebagai Wakil Ketua MUI Sulawesi Selatan serta dosen di UIN dan UMI ini disebut dengan penuh takzim sebagai “guruku, guruku, guruku,” sebuah ungkapan yang mencerminkan adab keilmuan dan penghormatan mendalam kepada guru.

Rangkaian percakapan yang berlangsung di ruang grup Kerukunan Keluarga Turatea Jeneponto ini menunjukkan bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia, masih tumbuh ruang-ruang kesadaran yang dirawat dengan ilmu, iman, dan adab. Geopolitik dibaca dengan nurani, bulan-bulan hijriah dimaknai sebagai momentum transformasi, dan tasawuf dihadirkan sebagai fondasi penguatan diri dan umat.

Potret ini menegaskan bahwa keluarga besar Turatea Jeneponto bukan hanya terikat oleh garis keturunan dan daerah asal, tetapi juga oleh semangat berpikir, kesadaran spiritual, dan komitmen terhadap nilai-nilai keadilan serta kemanusiaan. Dari ruang diskusi inilah diharapkan lahir pandangan yang jernih, sikap yang bijak, dan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

(Redaksi).

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *