banner 728x250
Batam  

Ketika Takut Manusia Tak Lagi Bermakna, Namun Takut kepada Allah Menjadi Segalanya Oleh: Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.

banner 120x600
banner 468x60

SIDIKFOKUSNEWS|Batam,8 Januari 2026
Humas Perkumpulan Muballigh Kota Batam | Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau

Aku tidak lagi takut ketika semua orang berbondong-bondong menghakimiku. Pandangan sinis, bisik-bisik yang mengendap di sudut ruang sosial, hingga penilaian sepihak yang kerap dilontarkan tanpa mengenal utuh duduk persoalan, semuanya perlahan kehilangan daya guncangnya. Sebab pada satu titik kedewasaan batin, manusia akan menyadari bahwa penilaian manusia lain sering kali lebih mencerminkan isi kepala mereka sendiri, bukan kebenaran yang sesungguhnya.
Namun ada satu ketakutan yang justru kian menyesakkan dada dan tak pernah ingin kutanggalkan: ketakutan apabila Allah sudah tidak lagi mendengar doa dalam sujudku. Ketakutan ini bukan ketakutan yang melemahkan, melainkan ketakutan yang membangunkan kesadaran, menghidupkan nurani, dan menegakkan kembali arah hidup agar tidak melenceng dari jalan yang diridhai-Nya.
Dalam kehidupan modern yang penuh hiruk-pikuk pencitraan, manusia kerap sibuk menjaga reputasi di hadapan sesama, tetapi lalai memelihara hubungan dengan Sang Pencipta. Kita lebih khawatir dicap gagal oleh manusia, dibandingkan takut kehilangan keberkahan dari Allah. Padahal, sekeras apa pun manusia menghakimi, penghakiman itu tidak pernah menentukan nilai hakiki diri kita di hadapan Tuhan. Yang menentukan adalah ketulusan niat, kejujuran langkah, dan kesungguhan sujud yang kita persembahkan.
Sujud adalah ruang paling jujur dalam hidup seorang hamba. Di sanalah semua topeng runtuh, semua gelar luruh, dan semua kepura-puraan tak lagi punya tempat. Dalam sujud, manusia datang tanpa atribut duniawi, hanya membawa dosa, harap, dan air mata. Maka jika suatu saat sujud terasa hampa, doa terasa kering, dan batin tak lagi bergetar, itulah tanda bahaya yang sesungguhnya. Bukan karena Allah menjauh, melainkan karena kita yang perlahan menjauh dari-Nya.
Ketakutan kehilangan “didengar” oleh Allah sejatinya adalah bentuk kasih sayang-Nya. Sebab hati yang masih takut berarti hati yang masih hidup. Hati yang masih merasa bersalah adalah hati yang belum mati. Selama kegelisahan itu ada, selama rindu untuk kembali mengetuk pintu langit masih berdenyut, maka harapan belum pernah tertutup.
Dalam dunia dakwah dan pengabdian sosial, godaan untuk mencari pengakuan manusia sangatlah besar. Pujian bisa meninabobokan, sementara celaan bisa melumpuhkan. Namun seorang muballigh, pendidik, dan penulis sejatinya harus menambatkan orientasi hidupnya bukan pada tepuk tangan, melainkan pada keikhlasan. Sebab amal yang besar di mata manusia bisa menjadi kecil di sisi Allah jika tercemar riya, dan amal yang tampak kecil bisa menjadi agung jika dilakukan dengan hati yang bersih.
Aku belajar bahwa keberanian sejati bukanlah ketika kita tak lagi peduli pada penilaian manusia, tetapi ketika kita berani mengoreksi diri di hadapan Allah. Bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika berhasil membungkam mulut orang lain, melainkan ketika mampu menenangkan hati sendiri dalam sujud yang khusyuk. Dan bahwa kemuliaan tertinggi bukan terletak pada pengakuan dunia, melainkan pada diterimanya doa oleh Tuhan Yang Maha Mendengar.
Pada akhirnya, biarlah manusia berbicara dengan segala keterbatasannya. Biarlah penilaian datang silih berganti, karena semua itu akan berhenti di liang waktu. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap sujud kita masih bernilai, setiap doa masih sampai, dan setiap langkah masih berada dalam cahaya petunjuk-Nya. Sebab ketika Allah masih mendengar doa dalam sujud kita, maka apa pun yang dikatakan manusia tak lagi punya kuasa untuk meruntuhkan jiwa.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *