Oleh: Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain
Provinsi Kepulauan Riau (APEBSKID KEPRI)
Dalam setiap detik yang berlalu, manusia sesungguhnya sedang diuji oleh pilihan paling mendasar dalam hidup: apakah waktu dan energi yang dimiliki diarahkan semata untuk kepentingan diri sendiri, atau justru dipersembahkan untuk memberi manfaat bagi sesama. Waktu tidak pernah berulang, tetapi setiap momen menyimpan nilai moral yang menentukan kualitas kemanusiaan kita—sejauh mana hidup kita menyentuh orang lain dan meninggalkan jejak kebaikan yang bermakna.
Diskursus akademik kontemporer menunjukkan bahwa religiusitas yang diinternalisasi secara mendalam berkorelasi kuat dengan perilaku altruistik. Individu yang memperkuat iman dan nilai spiritualnya cenderung menunjukkan sikap prososial yang lebih tinggi, terutama ketika nilai kebaikan tidak berhenti pada simbol dan ritual, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata (Harefa et al., 2024).
Spiritualitas yang autentik selalu menemukan jalannya dalam kepedulian terhadap sesama.
Makna keberadaan manusia, dengan demikian, tidak terletak semata pada pencapaian pribadi atau akumulasi prestise sosial, melainkan pada kontribusi yang diberikan kepada lingkungan sosialnya. Penelitian tentang religiusitas dan minat berwakaf memperlihatkan bahwa empati dan keyakinan spiritual yang kuat mampu mendorong tindakan sosial seperti sedekah dan wakaf, di mana altruisme lahir dari kesadaran moral, bukan dari paksaan sosial (Maulida, 2024).
Perspektif ini relevan dengan kebijakan dan praktik sosial di tingkat lokal. Di Kota Batam, Wali Kota H. Amsakar Achmad bersama Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra secara konsisten mendorong peran tokoh agama dan masyarakat dalam memperkuat nilai kebersamaan dan gotong royong. Pemberian insentif kepada imam masjid, mubalig, dan guru Al-Qur’an bukan semata kebijakan administratif, melainkan pengakuan atas peran moral tokoh agama dalam membangun masyarakat madani yang beradab.
Sejalan dengan itu, Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura terus mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat sinergi antara pembangunan material dan spiritual. Pendekatan ini menegaskan bahwa kesejahteraan yang berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari nilai religius dan kebudayaan, khususnya di Batam sebagai pusat ekonomi sekaligus simpul peradaban Kepulauan Riau.
Dari sisi psikologis, kepedulian terhadap sesama juga membawa dampak langsung bagi kesejahteraan individu. Studi mutakhir menunjukkan bahwa perilaku prososial—seperti saling menolong dan bekerja sama—berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis dan rasa bermakna dalam hidup (BMC Psychology, 2024). Kebaikan yang diberikan kepada orang lain pada akhirnya kembali kepada pelakunya dalam bentuk ketenangan batin dan kesehatan mental.
Dalam konteks sosial-budaya Melayu, tokoh adat memiliki peran strategis menjaga keseimbangan antara nilai religius dan harmoni sosial. Tokoh masyarakat seperti Datuk Raja Haji Muhammad Amin, Ketua Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau (LAMKR) Kota Batam, menjadi pilar dalam merawat nilai adab, etika, dan spiritualitas yang berakar kuat dalam tradisi Melayu—nilai yang menempatkan manfaat bagi orang lain sebagai ukuran kemuliaan hidup.
Spiritualitas dan rasa syukur juga terbukti berkontribusi signifikan dalam membentuk kualitas hidup yang lebih bermakna.
Penelitian di bidang pendidikan religius menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual dan emosional memperkuat perilaku religius yang tidak berhenti pada ritual formal, tetapi terwujud dalam sikap menghormati, membantu, dan meringankan beban sesama (Prasetiya & Safitri, 2025).
Isu zakat dan tanggung jawab sosial juga perlu ditempatkan secara proporsional. Di tengah masyarakat, termasuk di kalangan aparatur sipil negara, masih terdapat anggapan bahwa seluruh PNS Muslim wajib membayar zakat profesi secara otomatis. Padahal, kewajiban zakat ditentukan oleh terpenuhinya syarat nisab dan kondisi finansial yang adil. Pemahaman yang benar tentang zakat penting agar religiusitas dijalankan dengan kesadaran dan keikhlasan, bukan sekadar formalitas administratif.
Pada akhirnya, seluruh refleksi ini bermuara pada satu kebenaran universal: hidup yang bermakna tidak diukur dari seberapa tinggi posisi yang diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama. Ketika manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri, kekosongan batin kerap menjadi harga yang harus dibayar. Sebaliknya, ketika hidup diarahkan untuk memberi, integritas sosial tumbuh, dan kebahagiaan batin menemukan bentuknya.
Praktik spiritual seperti dzikir, refleksi diri, dan amal saleh bukanlah ritual kosong, melainkan sarana transformasi nilai moral menjadi tindakan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa rasa syukur dan praktik spiritual berpengaruh positif terhadap kesejahteraan psikologis dan hubungan interpersonal yang sehat (Al Fuertes, 2024).
Di tengah perubahan zaman yang cepat dan kompleks, tantangan moral kita adalah menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab sosial. Tidak menyakiti orang lain, membantu yang lemah, menghormati tokoh masyarakat dan agama, serta melepaskan diri dari kebutuhan akan pujian adalah bentuk konkret implementasi nilai religius yang autentik.
Dengan memahami hidup sebagai proses memberi manfaat bagi sesama, kita tidak hanya membangun kebahagiaan individual, tetapi juga merawat tatanan sosial yang sehat secara moral dan spiritual. Semoga cita-cita untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjelma sebagai praktik hidup sehari-hari yang menerangi peradaban dengan cahaya kemanusiaan dan keberkahan.















