banner 728x250
Batam  

Degradasi Budaya Organisasi di Era Society 5.0: Tantangan Mahasiswa sebagai Ujung Tombak Perubahan Sosial.

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Lazuardi Tahta Ainullah

Perkembangan teknologi yang kian pesat telah membawa dunia memasuki era Society 5.0, sebuah konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Jepang pada 2017. Gagasan ini lahir dari refleksi mendalam atas kemajuan teknologi yang semakin menyatu dengan kehidupan manusia. Dalam konsep Society 5.0, teknologi termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence diposisikan sebagai alat bantu yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga industri.

banner 325x300

Namun, di balik berbagai kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan, era Society 5.0 juga menghadirkan konsekuensi sosial yang tidak dapat diabaikan. Salah satu kelompok yang paling merasakan dampaknya adalah mahasiswa. Digitalisasi dan kemajuan teknologi tidak hanya mengubah cara belajar dan berinteraksi, tetapi juga membentuk pola pikir dan karakter generasi muda. Fenomena yang kini mengemuka adalah menguatnya pola pikir pragmatis di kalangan mahasiswa, sebuah kecenderungan yang menilai segala sesuatu berdasarkan keuntungan instan dan hasil yang bersifat jangka pendek.

Pola pikir pragmatis ini secara perlahan mulai menggerus budaya organisasi mahasiswa di lingkungan kampus. Organisasi yang sejatinya menjadi ruang pembelajaran nilai, kepemimpinan, dan pengabdian, kini sering kali dipandang sebatas sarana untuk memperoleh manfaat langsung, seperti sertifikat, relasi, atau pengalaman administratif. Akibatnya, minat mahasiswa untuk terlibat aktif dalam organisasi mengalami penurunan yang cukup signifikan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu atau dua kampus, melainkan hampir merata di berbagai perguruan tinggi.

Penurunan kuantitas dan kualitas partisipasi mahasiswa dalam organisasi kampus menjadi sinyal serius akan terjadinya degradasi budaya organisasi. Meski demikian, kecenderungan ini tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada mahasiswa semata. Lingkungan sosial, budaya akademik, serta dinamika zaman turut berperan dalam membentuk sikap pragmatis tersebut. Oleh karena itu, organisasi kemahasiswaan dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, menghadirkan inovasi, serta menawarkan relevansi yang sejalan dengan kebutuhan dan tantangan generasi saat ini.

Mahasiswa sejak lama diposisikan sebagai agent of change, aktor utama perubahan sosial yang diharapkan mampu membawa nilai-nilai kemajuan bagi masyarakat. Namun, narasi tersebut akan sulit terwujud apabila mahasiswa terjebak dalam pola pikir pragmatis yang sempit. Untuk menjalankan peran strategis tersebut, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga perlu membekali diri dengan soft skills yang kuat dan berimbang.

Kemampuan kepemimpinan menjadi salah satu fondasi penting yang harus dimiliki mahasiswa. Jiwa kepemimpinan tidak hanya dibutuhkan saat memegang jabatan formal, tetapi juga ketika mahasiswa terjun ke tengah masyarakat yang sarat dengan keragaman dan kompleksitas persoalan.

Kepemimpinan yang matang memungkinkan mahasiswa mengaktualisasikan nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab, dan kepekaan sosial.
Selain itu, kemampuan komunikasi yang baik menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan dan menjembatani perbedaan. Mahasiswa yang komunikatif akan lebih mudah diterima di lingkungan masyarakat serta mampu menyampaikan gagasan perubahan secara efektif. Tanpa keterampilan komunikasi yang memadai, idealisme dan semangat perubahan kerap berhenti pada tataran wacana.

Di tengah arus modernisasi yang cepat dan fleksibel, kemampuan berpikir kritis juga menjadi kebutuhan mendesak.
Mahasiswa dituntut untuk tidak sekadar menerima perubahan, tetapi mampu memahami, mengkaji, dan menyikapinya secara bijak. Berpikir kritis membantu mahasiswa melihat persoalan secara komprehensif serta menciptakan solusi yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. Lebih dari itu, pola pikir kritis perlu dibawa ke tengah masyarakat agar tercipta lingkungan sosial yang terbuka, reflektif, dan progresif.

Pada akhirnya, pola pikir pragmatis yang berkembang di kalangan mahasiswa merupakan refleksi dari kompleksitas era Society 5.0 itu sendiri. Sikap tersebut tidak sepenuhnya salah, selama dapat dikelola dan diarahkan secara bijaksana.

Kunci utamanya terletak pada keselarasan antara mahasiswa, teknologi, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan manajemen sikap yang tepat, mahasiswa tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi secara optimal, tetapi juga tetap berperan aktif sebagai kekuatan moral dan intelektual yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitarnya.

Nurasalim Turatea

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *