Oleh: H. Adamrin, S.Ag., M.Ag.
Ketahanan nasional tidak dibangun semata-mata melalui kekuatan ekonomi, politik, atau pertahanan negara. Ia tumbuh dan menguat dari fondasi paling mendasar dalam kehidupan sosial, yaitu keluarga. Ketika keluarga kokoh secara nilai, moral, dan spiritual, maka bangsa pun akan berdiri tegak menghadapi berbagai tantangan zaman. Sebaliknya, rapuhnya ketahanan keluarga kerap menjadi pintu masuk bagi berbagai problem sosial yang menggerogoti masa depan generasi muda dan stabilitas bangsa.
Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Di sanalah nilai agama ditanamkan, karakter dibentuk, dan kepribadian ditempa. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang hangat, komunikatif, dan berlandaskan nilai keimanan akan memiliki benteng diri yang kuat dalam menghadapi pengaruh negatif lingkungan. Karena itu, memperkuat ketahanan keluarga sejatinya merupakan upaya strategis dalam memperkuat ketahanan nasional.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, tantangan terhadap generasi muda semakin kompleks. Pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika, kekerasan, hingga krisis identitas menjadi ancaman nyata yang tidak bisa diabaikan. Pendekatan represif semata tidak cukup untuk menjawab persoalan tersebut. Diperlukan langkah preventif yang sistematis, berkelanjutan, dan menyentuh akar persoalan, yaitu pembinaan keluarga dan pendidikan karakter sejak dini.
Dalam konteks inilah, peran Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan menjadi sangat strategis. BP4 tidak hanya hadir sebagai lembaga konseling perkawinan, tetapi juga sebagai mitra edukatif yang aktif dalam membangun ketahanan keluarga lintas generasi. Program BP4 masuk sekolah merupakan langkah visioner untuk membentengi anak-anak sejak usia dini dari pengaruh pergaulan bebas dan bahaya narkotika. Melalui pendekatan edukatif yang humanis dan berbasis nilai agama, anak-anak diajak memahami makna menjaga diri, menghargai masa depan, serta pentingnya membangun karakter yang kuat.
Pembinaan tidak berhenti di bangku sekolah. BP4 juga perlu hadir menyapa mahasiswa di perguruan tinggi sebagai kelompok strategis yang tengah berada pada fase transisi menuju kedewasaan dan pembentukan masa depan. Mahasiswa bukan hanya calon pemimpin bangsa, tetapi juga calon kepala keluarga dan pendidik bagi generasi berikutnya. Pembekalan nilai-nilai keluarga sakinah, tanggung jawab sosial, serta kesiapan mental dan spiritual menuju kehidupan berumah tangga menjadi investasi penting bagi masa depan bangsa.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pembinaan keluarga tidak boleh bersifat reaktif, melainkan harus proaktif dan berjangka panjang. Mempersiapkan generasi muda menuju keluarga sakinah berarti menyiapkan fondasi masyarakat yang harmonis, produktif, dan bermartabat. Ketika keluarga-keluarga kuat, maka masyarakat akan lebih resilien, dan negara pun memiliki daya tahan yang kokoh menghadapi krisis sosial, moral, maupun budaya.
Ketahanan keluarga dan ketahanan nasional adalah dua entitas yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Upaya membangun bangsa harus dimulai dari rumah, dari keluarga yang dipenuhi nilai iman, kasih sayang, dan tanggung jawab. Melalui sinergi lembaga, pendidikan, dan kesadaran kolektif masyarakat, ketahanan keluarga dapat terus diperkuat sebagai benteng utama dalam menjaga masa depan generasi dan keutuhan bangsa.
Redaksi















