banner 728x250
Batam  

Menemukan Damai dalam Ridho Ilahi

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd
Ketua Fahmi Tamami Aswaja Kota Batam

Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau

banner 325x300

Ikhlas bukanlah sikap pasrah yang lahir dari keputusasaan, melainkan kesadaran iman yang tumbuh dari pemahaman mendalam tentang hakikat hidup. Ia adalah kemampuan batin untuk menerima ketentuan Allah dengan hati lapang setelah ikhtiar dilakukan secara sungguh-sungguh. Dalam ikhlas, manusia tidak kehilangan daya juang; justru ia menemukan ketenangan karena menyandarkan hasil pada Dzat Yang Maha Mengetahui segala akibat.

Hidup tidak selalu berjalan sesuai kehendak dan rencana manusia. Banyak harapan yang tertunda, bahkan tak sedikit yang harus dilepaskan. Namun, kegagalan memahami makna di balik peristiwa sering membuat hati sempit dan pikiran gelisah. Padahal, setiap ketentuan Allah selalu mengandung hikmah yang melampaui jangkauan nalar manusia. Apa yang tampak mengecewakan hari ini bisa jadi merupakan penjagaan Allah dari keburukan yang lebih besar di masa depan.
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia kerap membenci sesuatu yang sesungguhnya baik baginya, dan menyukai sesuatu yang justru membawa mudarat. Pesan ini mengajarkan kerendahan hati intelektual dan spiritual: mengakui keterbatasan pengetahuan manusia di hadapan ilmu Allah yang Mahasempurna. Dari sinilah ikhlas menemukan pijakannya—sebuah keyakinan bahwa takdir Ilahi tidak pernah salah sasaran.

Dalam perjalanan iman, akan ada fase ketika kekuatan terasa menurun, semangat melemah, dan keteguhan hati diuji. Namun, melemahnya daya bukan alasan untuk berhenti melangkah. Justru pada titik itulah kualitas keimanan diuji, apakah manusia tetap setia pada nilai-nilai kebenaran meski dalam keadaan sulit. Kesabaran dan keteguhan yang dijaga di masa-masa genting sering kali menjadi pintu terbukanya pertolongan Allah.

Kasih sayang Allah tidak selalu hadir dalam wujud kenyamanan. Terkadang ia datang melalui ujian yang berat, bahkan menyakitkan. Namun, ujian itulah yang mematangkan jiwa dan meluruskan orientasi hidup. Di balik kesulitan, Allah sedang membentuk hamba-Nya agar lebih kuat, lebih jujur pada diri sendiri, dan lebih dekat kepada-Nya. Proses inilah yang menuntun manusia menuju kemenangan sejati.

Bagi seorang mukmin, kemenangan bukan semata keberhasilan materi atau pengakuan sosial. Kemenangan hakiki adalah ketika langkah hidup semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan hati tetap teguh di jalan kebenaran hingga akhir hayat. Mengelola rasa lelah menjadi lillah—menjadikan setiap usaha sebagai ibadah—adalah kunci istiqamah dalam menjalani kehidupan yang sarat ujian.

Di tengah budaya yang sering mengukur nilai manusia dari pencapaian lahiriah, Islam mengajarkan perspektif yang lebih mendalam. Menjadi pribadi yang bahagia jauh lebih utama daripada sekadar merasa berharga di mata manusia. Sebab kebahagiaan sejati lahir dari hati yang tenang, dari jiwa yang ridho, dan dari iman yang tidak mudah goyah oleh keadaan.
Demikian pula dalam urusan cinta dan perasaan. Mengagumi tidak selalu bermakna mencintai, dan mencintai tidak selalu harus memiliki. Kedewasaan iman mengajarkan bahwa melepaskan dengan ikhlas sering kali lebih mulia daripada memaksakan kepemilikan. Ketika cinta disandarkan kepada ridho Allah, ia tidak melahirkan luka yang merusak, melainkan ketenangan yang menumbuhkan.

Pada akhirnya, ikhlas adalah seni hidup yang mengajarkan manusia untuk berjalan seimbang antara usaha dan tawakal. Ia membebaskan hati dari beban berlebih, menenangkan jiwa di tengah ketidakpastian, dan meneguhkan keyakinan bahwa setiap ketentuan Allah selalu berpihak pada kebaikan hamba-Nya. Dari ikhlas itulah lahir kedamaian, dan dari kedamaian itulah manusia menemukan makna hidup yang sesungguhnya.

redaksi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *