banner 728x250

Hijrah sebagai Titik Nol Peradaban: Sejarah Lahirnya Kalender Hijriyah dan Kesadaran Waktu dalam Islam

banner 120x600
banner 468x60

Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd
Ketua FAHMI TAMAMI AZWAJA Kota Batam

Sejarah besar kerap lahir dari persoalan yang tampak sederhana. Demikian pula dengan terbentuknya kalender Hijriyah, sistem penanggalan Islam yang hingga kini tidak hanya berfungsi sebagai penentu waktu, tetapi juga menjadi penanda identitas, spiritualitas, dan kesadaran sejarah umat Islam. Kalender ini tidak lahir dari ambisi kekuasaan, melainkan dari kebutuhan mendasar akan kejelasan, ketertiban, dan tanggung jawab dalam mengelola kehidupan bersama.

banner 325x300

Kesadaran tersebut mengemuka pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Kala itu, sebuah surat kenegaraan dikirimkan kepada Gubernur Basrah, Abu Musa Al-Asy’ari. Surat tersebut berisi instruksi penting, namun hanya mencantumkan nama bulan tanpa keterangan tahun. Kekaburan waktu ini menimbulkan kebingungan serius dalam pelaksanaan kebijakan pemerintahan.

Abu Musa Al-Asy’ari kemudian mengirimkan surat balasan kepada Amirul Mukminin, mempertanyakan apakah perintah tersebut berlaku untuk bulan Rajab yang telah berlalu atau Rajab yang akan datang. Pertanyaan sederhana itu justru membuka kesadaran besar: umat Islam memerlukan sistem penanggalan yang baku dan disepakati bersama.

Menanggapi hal tersebut, Umar bin Khattab segera mengumpulkan para sahabat Rasulullah ﷺ untuk bermusyawarah. Forum ini bukan sekadar diskusi teknis administratif, melainkan pertemuan pemikiran para penjaga risalah yang memahami bahwa sebuah peradaban tidak dapat berdiri tanpa keteraturan waktu dan kejelasan sejarah.

Berbagai usulan pun mengemuka. Sebagian sahabat mengusulkan agar penanggalan Islam dimulai dari peristiwa kelahiran Rasulullah SAW, sementara yang lain mengusulkan dari wafat beliau. Namun, di tengah musyawarah yang sarat hikmah itu, muncul gagasan visioner dari Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Ia mengusulkan agar tonggak kalender Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Hijrah dipandang bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan peristiwa transformatif yang mengubah arah sejarah Islam. Dari tekanan menuju kebebasan, dari dakwah sembunyi-sembunyi menuju tatanan masyarakat berdaulat, serta dari komunitas kecil menuju fondasi peradaban. Usulan ini diterima dengan kebijaksanaan oleh Umar bin Khattab dan disepakati para sahabat sebagai awal kalender Hijriyah.

Sejak saat itu, kalender Hijriyah tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur waktu, tetapi juga sebagai penanda kesadaran spiritual umat Islam. Setiap pergantian tahun menjadi pengingat bahwa kehidupan adalah proses hijrah yang berkelanjutan—berpindah dari kelalaian menuju kesadaran, dari keburukan menuju kebaikan, serta dari kegelapan menuju cahaya Ilahi.
Penamaan bulan-bulan Hijriyah sejatinya telah dikenal sejak masa Arab pra-Islam. Namun Islam memurnikan dan memuliakannya dengan nilai-nilai ibadah dan makna tauhid. Muharram dimuliakan sebagai bulan suci, Safar diluruskan dari mitos kesialan, Rabiul Awal dikenang dengan kelahiran Nabi akhir zaman, sementara Jumadil mengingatkan keterikatan manusia dengan siklus alam.

Rajab mengajarkan pengagungan dan peristiwa Isra Mi’raj, Sya’ban menjadi jembatan persiapan ruhani, dan Ramadhan hadir sebagai puncak penyucian jiwa serta bulan turunnya Al-Qur’an. Syawal mengajarkan makna kemenangan dan kesinambungan amal, Zulkaidah menanamkan nilai ketenangan dan pengendalian diri, sedangkan Zulhijah menutup siklus tahun dengan pesan pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan total kepada Allah melalui ibadah haji dan kurban.
Dengan demikian, kalender Hijriyah merupakan narasi agung tentang iman dan peradaban. Ia tidak sekadar mencatat waktu, tetapi mendidik kesadaran. Ia tidak hanya menghitung hari, melainkan mengarahkan makna hidup. Di dalamnya, setiap bulan adalah pelajaran, setiap tahun adalah bahan evaluasi, dan setiap detik adalah amanah menuju perjumpaan dengan Sang Pemilik Waktu.

Redaksi

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *