sidikfokusnews.com.Jakarta — Kebakaran gedung pusat operasional salah satu perusahaan layanan drone terbesar di dunia yang beroperasi di Indonesia memunculkan gelombang tanda tanya. Perusahaan tersebut dikenal memiliki peran strategis dalam pemetaan dan pengawasan lahan sawit di Sumatera, termasuk memegang data sekitar 600.000 hektare wilayah yang mencakup potensi penebangan liar, penggundulan hutan, serta aktivitas agrikultur yang rentan penyimpangan. Ketika gedung yang menyimpan data itu terbakar hanya beberapa hari setelah banjir bandang di Sumatera membawa tumpukan kayu hasil tebangan, publik mulai menghubungkan dua peristiwa ini sebagai sesuatu yang sulit disebut kebetulan.
Banyak pihak menilai bahwa kedekatan temporal antara banjir yang diperparah oleh pembalakan liar dan kebakaran gedung yang menyimpan data sensitif menimbulkan dugaan adanya upaya sistematis untuk menghilangkan jejak. Apalagi, data udara dan peta spasial yang dikelola perusahaan tersebut selama ini kerap menjadi rujukan lembaga-lembaga yang memerangi deforestasi, kejahatan kehutanan, serta mafia sawit.
Analis kebijakan lingkungan menilai, “Jika benar seluruh catatan pemetaan—mulai dari bukti-bukti penebangan, aktivitas ekspansi kebun ilegal, hingga pola alih fungsi hutan—hilang akibat kebakaran, itu bukan hanya kerugian, tetapi kemunduran besar dalam upaya penegakan hukum. Data adalah fondasi dari proses pembuktian, dan ketika fondasi itu lenyap, yang paling diuntungkan adalah pelaku kejahatan lingkungan.”
Pengamat tata kelola sumber daya alam juga menyebut peristiwa ini sebagai alarm keras bagi negara. Menurutnya, sektor pengawasan hutan dan sawit selama bertahun-tahun dikelilingi jaringan kepentingan yang kompleks—dari korporasi, elite politik, hingga pelaku lapangan. Kebakaran fasilitas yang menyimpan data strategis jelas membuka ruang bagi spekulasi bahwa ada pihak yang berkepentingan menghapus rekam jejak digital aktivitas ilegal.
“Ini bukan sekadar kebakaran gedung. Ini adalah kebakaran terhadap transparansi,” ujar seorang pakar hukum lingkungan. “Tanpa data, tanpa rekam visual, tanpa jejak koordinat, penindakan menjadi lemah. Jika kebakaran ini terbukti disengaja, maka ini merupakan serangan terhadap upaya negara menjaga hutan dan keselamatan publik.”
Sementara itu, analis mitigasi bencana menyoroti hubungan antara banjir bandang dan kerusakan ekologis. Bencana yang membawa tumpukan kayu tebangan menunjukkan betapa besar skala pembalakan liar di hulu. Jika data perusahaan drone memang memuat detail wilayah sebaran pembalakan tersebut, hilangnya informasi itu dapat menghambat investigasi penyebab banjir serta penentuan pihak yang bertanggung jawab. “Banjir bukan sekadar fenomena alam, tetapi konsekuensi dari kebijakan dan praktik yang salah. Ketika data hilang, penyebab pun menghilang bersama kesempatan mencegah korban berikutnya,” jelasnya.
Para pengamat mendesak pemerintah untuk memastikan penyelidikan kebakaran dilakukan secara terbuka dan dapat diaudit publik. Mereka menekankan bahwa kepercayaan masyarakat akan runtuh jika kasus ini dibiarkan menjadi misteri tanpa kejelasan motif dan pelaku.
Selain itu, para ahli keamanan data menilai kejadian ini sebagai pelajaran penting bahwa informasi strategis negara—baik yang dikelola pemerintah maupun mitra swasta—seharusnya memiliki sistem backup berlapis, termasuk penyimpanan off-site, enkripsi, dan redundansi cloud. “Jika semua data lenyap hanya karena satu gedung terbakar, itu menandakan kelemahan struktural dalam desain keamanan informasi yang seharusnya tidak terjadi di sektor krusial.”
Bagi banyak pihak, keterkaitan antara kebakaran gedung perusahaan drone dan bencana banjir bandang Sumatera masih menunggu pembuktian investigatif. Namun satu hal yang pasti: rangkaian peristiwa ini menyingkap betapa rentannya sistem pengawasan lingkungan Indonesia terhadap sabotase, konflik kepentingan, dan lemahnya tata kelola.
Dalam situasi seperti ini, suara para pengamat senada: negara harus hadir dengan ketegasan dan transparansi. Bukan hanya untuk mengungkap kebenaran, tetapi juga untuk memastikan tidak ada lagi jejak-jejak kejahatan lingkungan yang hilang begitu saja—apalagi lewat api.
( tim )

















