Oleh: St. Nurung, S.Ag., S.Pd., M.Pd.
Guru SMA Negeri 1 Jeneponto
Di tengah arus globalisasi yang semakin menuntut kecepatan, efisiensi, dan orientasi pragmatis, ruang bagi kesenian terutama puisi mulai terhimpit oleh berbagai tuntutan akademik dan teknologi digital. Padahal, puisi bukan hanya karya sastra; ia adalah ruang batin yang menyuarakan kedalaman rasa, kepekaan sosial, dan refleksi kehidupan. Sayangnya, minat terhadap puisi di kalangan pelajar semakin menurun, bukan karena hilangnya nilai puisi itu sendiri, tetapi karena pendekatan pembelajaran yang belum sepenuhnya mampu menghadirkan puisi sebagai pengalaman estetik yang hidup.
Sebagai pendidik di SMA Negeri 1 Jeneponto, saya menyaksikan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada kompleksitas puisi, melainkan pada bagaimana guru mampu menyalakan kembali ketertarikan siswa terhadap karya sastra yang bersifat kontemplatif ini. Puisi tidak boleh berada hanya sebagai teks yang dibedah secara struktural, tetapi harus dirasakan, dihayati, dan dipahami dari kedalaman pengalaman pribadi. Dengan demikian, pembelajaran apresiasi puisi harus bergerak melampaui ruang teori menuju penghayatan yang mencakup aspek emosional, sosial, dan estetika.
Upaya awal dalam menghidupkan apresiasi puisi adalah menghadirkan puisi sebagai pengalaman yang dekat dengan kehidupan siswa. Puisi tidak lahir dari ruang kosong; ia tumbuh dari pergulatan batin penyair terhadap realitas sosial, pengalaman personal, atau kerinduan spiritual. Oleh karena itu, pelajar perlu diajak mengenali puisi melalui pendekatan kontekstual yang menghubungkan karya sastra dengan latar kehidupan mereka sendiri. Membacakan puisi dengan teknik yang ekspresif—dengan memperhatikan intonasi, artikulasi, serta jeda dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk menggugah emosi siswa. Banyak pelajar yang baru merasakan keindahan puisi ketika mereka mendengarnya dibacakan, bukan ketika sekadar membacanya di lembar teks.
Diskusi kelas pun harus dibangun secara dialogis. Siswa perlu diberikan ruang untuk mengungkapkan pemahaman mereka sendiri terhadap tema, metafora, maupun simbolisme yang muncul dalam puisi. Mereka tidak diharapkan menemukan makna yang tunggal, tetapi membangun penafsiran berdasarkan perspektif pribadi yang kemudian diperkaya melalui percakapan dengan teman-temannya. Dengan cara ini, puisi menjadi diskursus yang hidup dan dinamis, bukan sekadar materi yang harus dihafal.
Selain itu, pembelajaran apresiasi puisi akan jauh lebih bermakna jika siswa diberikan kesempatan untuk mengaitkan puisi dengan realitas sosial di sekitar mereka. Puisi dapat menjadi jembatan refleksi terhadap isu-isu seperti kemanusiaan, lingkungan, budaya, dan dinamika masyarakat. Melalui model pembelajaran berbasis proyek, peserta didik dapat memilih puisi yang mereka nilai relevan dengan pengalaman atau keprihatinan tertentu, lalu melakukan kajian mendalam terhadap teks tersebut. Mereka dapat mengeksplorasi makna tersembunyi, membedah diksi, dan menghubungkannya dengan fenomena kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini, puisi berfungsi sebagai medium refleksi kritis yang memperkaya wawasan sekaligus memperhalus nurani.
Langkah berikutnya yang tak kalah penting adalah memberikan ruang ekspresi kreatif bagi peserta didik. Pembacaan puisi bukan sekadar menuturkan kata, tetapi menyampaikan jiwa yang terkandung di baliknya. Banyak siswa yang merasa canggung untuk tampil, karena menganggap pembacaan puisi memerlukan bakat khusus. Untuk mengatasi hal ini, guru perlu membimbing teknik dasar dalam deklamasi: pengaturan suara, pemahaman irama, permainan emosi, hingga penggunaan gestur yang tepat. Tidak semua siswa harus tampil dalam bentuk konvensional; mereka dapat menyajikan puisi melalui musikalisasi, teaterikal puisi, hingga pembuatan video kreatif. Dengan pendekatan multimodal ini, pelajar dapat merasakan bahwa puisi adalah wilayah ekspresi yang luas, terbuka, dan sangat personal.
Dari pengalaman saya di kelas, ketika siswa disediakan ruang untuk merasakan puisi sebagai bentuk ekspresi diri, mereka menjadi lebih antusias. Puisi yang tadinya dianggap rumit berubah menjadi cermin bagi perasaan dan kisah mereka. Mereka menemukan bahwa ada banyak hal yang tidak bisa mereka ungkapkan secara langsung, tetapi dapat tersampaikan melalui puisi. Proses ini mengubah pembelajaran apresiasi puisi menjadi pengalaman emosional dan intelektual yang menyeluruh.
Lebih jauh lagi, puisi memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter kemanusiaan. Puisi mengajarkan empati kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ia mengajarkan ketenangan, kesabaran, imajinasi, dan kehalusan budi. Di tengah dunia yang semakin keras dan kompetitif, nilai-nilai ini menjadi sangat penting. Dalam setiap bait puisi tersimpan suara kehidupan: jeritan, harapan, kerinduan, sekaligus kebahagiaan. Ketika pelajar belajar menghargai puisi, mereka sejatinya sedang belajar menghargai kehidupan.
Karena itu, revitalisasi pembelajaran apresiasi puisi di sekolah harus menjadi bagian penting dari agenda pendidikan. Guru perlu menghadirkan pendekatan yang lebih kreatif, inklusif, dan relevan dengan dunia siswa. Puisi tidak boleh hanya menjadi materi kurikulum, tetapi menjadi pengalaman artistik yang membentuk kecerdasan emosional. Ketika pelajar mampu menikmati puisi, mereka tidak hanya bertambah pengetahuannya, tetapi juga bertumbuh kepekaan rasa dan etika kemanusiaannya.
Jika kita ingin membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki kehalusan jiwa, kedalaman berpikir, dan sikap humanis, maka puisi harus kembali ditempatkan sebagai bagian yang hidup dalam pendidikan. Dengan menghidupkan ekosistem apresiasi puisi di sekolah, kita tidak hanya menjaga warisan sastra, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur bagi generasi mendatang nilai yang kelak menjadi fondasi peradaban yang lebih manusiawi.
(redaksi )

















