Oleh : Ustadz Rasyid
Waka PMB Batam Kota
Di dalam khazanah hikmah Islam terdapat sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya: “Al-‘ulama’u umana’ur-rusuli ‘ala ‘ibadillah ma lam yukhalithus-salathin” para ulama adalah penjaga amanah para rasul atas hamba-hamba Allah, selama mereka tidak berbaur dengan penguasa. Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi peringatan keras tentang betapa beratnya tanggung jawab ilmu dan betapa halusnya jebakan kekuasaan.
Ilmu pada hakikatnya adalah cahaya. Ia menerangi jalan umat menuju kebenaran, keadilan, dan keselamatan dunia akhirat. Ulama, da’i, dan para pejuang dakwah adalah para pemanggul cahaya itu. Mereka tidak hanya menyampaikan hukum halal dan haram, tetapi juga memelihara nurani umat agar tidak tunduk pada kebatilan, meski kebatilan itu tampil dalam rupa kekuasaan, jabatan, dan fasilitas dunia.
Masalah besar dalam sejarah umat tidak jarang bermula bukan dari kebodohan masyarakat, tetapi dari runtuhnya integritas sebagian orang berilmu. Ketika ilmu yang seharusnya membimbing kekuasaan justru dikendalikan oleh kekuasaan, di situlah amanah mulai retak. Ketika kebenaran harus disesuaikan dengan kepentingan, ketika kezaliman dibungkus dengan dalil, maka saat itu ilmu kehilangan roh sucinya.
Kita tidak menafikan bahwa negara, pemerintah, dan pemimpin adalah bagian dari tatanan kehidupan yang harus dijaga dengan kebijaksanaan. Namun relasi antara ulama dan penguasa tidak boleh berubah menjadi relasi transaksional yang mengorbankan kebenaran. Ulama boleh menasihati penguasa, boleh mendampingi, boleh memberi panduan, tetapi tidak boleh menjadi alat pembenaran bagi kebijakan yang zalim, tidak adil, atau merusak umat.
Dalam konteks dakwah hari ini, tantangan bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri para pegiat dakwah itu sendiri. Godaan popularitas, pengaruh, akses kekuasaan, dan kenyamanan hidup sering kali lebih halus dari fitnah masa lalu. Jika tidak kuat menjaga niat dan keberanian moral, maka seorang da’i bisa tergelincir tanpa merasa sedang tergelincir.
Sebagai bagian dari gerakan dakwah di Batam Kota, kami memandang bahwa menjaga independensi moral adalah harga mati. Dakwah tidak boleh dikendalikan oleh kepentingan politik sesaat, tidak boleh dimanfaatkan untuk memuluskan ambisi pribadi, dan tidak boleh tunduk pada tekanan siapa pun selain kepada kebenaran itu sendiri. Jika dakwah kehilangan keberanian menegur yang salah hanya karena takut kehilangan akses atau fasilitas, maka saat itu dakwah telah kehilangan ruhnya.
Umat hari ini tidak hanya membutuhkan suara yang merdu dan panggung yang besar, tetapi lebih dari itu mereka membutuhkan keteladanan. Mereka ingin melihat bahwa para dai benar-benar hidup dengan apa yang mereka sampaikan. Kejujuran, keberanian, kesederhanaan, dan keberpihakan kepada yang lemah adalah pesan dakwah yang jauh lebih kuat daripada ribuan kata.
Kalimat hikmah tentang amanah ulama di atas mengajarkan kepada kita semua bahwa ilmu bukan sekadar alat untuk naik derajat sosial, tetapi amanah berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Selama ilmu dijaga dari intervensi kepentingan dunia yang sempit, ia akan tetap menjadi cahaya. Tetapi ketika ilmu diperjualbelikan demi kekuasaan, saat itulah ia berubah menjadi fitnah.
Semoga kita semua, para pegiat dakwah, pendidik, dan pencari ilmu, senantiasa diberi kekuatan untuk berdiri di atas kebenaran, meski harus berhadapan dengan risiko, tekanan, dan ketidaknyamanan. Sebab pada akhirnya, yang kita cari bukanlah ridha manusia, melainkan ridha Allah. Dan di situlah letak kemuliaan sejati dari sebuah amanah keilmuan.
( redaksi )















