banner 728x250
Batam  

Ketegasan Guru sebagai Pilar Karakter Bangsa

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau

Pernyataan yang disampaikan oleh Prabowo Subianto tentang pentingnya ketegasan guru sesungguhnya harus dibaca sebagai pesan kebudayaan, bukan sekadar pernyataan politik. Ia menyentuh satu simpul paling krusial dalam dunia pendidikan kita hari ini: merosotnya wibawa disiplin dan semakin rapuhnya sinergi antara rumah dan sekolah dalam membentuk karakter anak.

banner 325x300

Dalam tradisi pendidikan, baik dalam perspektif modern maupun dalam khazanah nilai-nilai lokal dan keagamaan, ketegasan selalu berdiri sejajar dengan kasih sayang. Ketegasan bukanlah kekerasan, dan disiplin bukan pula penindasan. Ketegasan adalah bentuk tanggung jawab moral seorang pendidik untuk menjaga anak agar tumbuh dalam koridor nilai, etika, dan tanggung jawab sosial.

Anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan akademik, tetapi juga ketangguhan batin, kedisiplinan sikap, serta kesadaran akan batas. Tanpa batas, kebebasan akan berubah menjadi kebingungan. Tanpa disiplin, kecerdasan justru berisiko melahirkan kecerdikan yang kehilangan arah.

Namun dalam realitas mutakhir, kita menyaksikan perubahan relasi yang cukup mengkhawatirkan antara guru dan sebagian orang tua. Tidak sedikit orang tua yang dengan cepat bersikap reaktif ketika anak ditegur di sekolah. Teguran yang semestinya dibaca sebagai bagian dari proses pendidikan justru dimaknai sebagai ancaman atau penghinaan. Guru pun kerap berada pada posisi serba salah: ingin menegakkan disiplin, tetapi dibayangi ketakutan sosial dan hukum.

Padahal, rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru utama. Sekolah hanya melanjutkan proses pembentukan karakter yang semestinya telah dimulai sejak anak belajar berbicara, bersikap, dan memahami mana yang boleh serta mana yang tidak boleh. Jika nilai disiplin tidak ditanamkan sejak dari keluarga, maka sekolah akan menanggung beban yang jauh lebih berat dalam proses pembinaan.

Ketika guru bersikap tegas, sejatinya ia sedang menjalankan amanah kebudayaan: menjaga generasi agar tidak tumbuh liar dalam kebebasan semu. Ketegasan guru adalah bentuk kepedulian yang sering tidak terdengar suaranya, tetapi sangat menentukan arah masa depan anak.

Sebagai pendidik, saya melihat langsung bagaimana dilema ini menggerogoti dunia sekolah. Guru dituntut menjadi teladan karakter, tetapi pada saat yang sama dipaksa berjalan di atas garis tipis antara kewajiban mendidik dan rasa takut disalahpahami. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka sekolah akan kehilangan perannya sebagai ruang pembentukan watak, dan hanya akan tersisa sebagai tempat transfer pengetahuan semata.

Padahal, sejarah panjang pendidikan membuktikan bahwa bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang pintar, tetapi oleh manusia-manusia yang berdisiplin, berintegritas, dan mampu mengendalikan diri. Disiplin adalah jembatan antara pengetahuan dan kebijaksanaan.

Pernyataan agar orang tua tidak menyalahkan guru yang sedang menjalankan peran ketegasannya harus dimaknai sebagai ajakan kembali kepada kesadaran kolektif. Pendidikan bukanlah kompetisi antara rumah dan sekolah, melainkan persekutuan nilai. Ketika guru menegur, orang tua seharusnya melanjutkan pembinaan itu di rumah dengan dialog, bukan dengan kemarahan.

Ketegasan yang profesional tentu harus dijalankan secara proporsional, adil, dan bermartabat. Guru tidak boleh emosional, tidak boleh melampaui batas etika. Namun ketika ketegasan dijalankan dalam koridor itu, maka ia justru menjadi pelindung bagi tumbuhnya rasa aman, tanggung jawab, dan kedewasaan anak.

Kita hari ini sedang menghadapi krisis karakter yang nyata: meningkatnya sikap tidak hormat, lemahnya daya juang, dan cepatnya generasi muda menyerah pada tekanan. Semua itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan kurikulum baru atau teknologi yang canggih. Ia hanya bisa dijawab dengan keberanian menegakkan nilai, melalui ketegasan yang mendidik.

Membela ketegasan guru sejatinya adalah membela masa depan anak-anak kita sendiri. Karena guru yang berani menegakkan disiplin bukan sedang mencari-cari kesalahan, melainkan sedang menjaga agar sebuah kehidupan muda tidak kehilangan arah sejak dini.

( redaksi )

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *